Dulu, di kala masih jadi anak kecil di pertengahan sampai sekitar akhir 50’an, di kampung kami ada seorang mualaf yang tinggal berdua dengan isterinya yakni seorang yang telah muslimah sejak lahir. Kami yang masih kecil tahunya dari orang-orang tua yang menyebut beliau itu seorang ‘mualap’.
Agak ganjil waktu itu mengetahui di kampung kami ada orang yang tadinya beragama lain memeluk agama Islam. Maklum itu jarang terjadi. Tentu saja, akan lebih aneh jika seandainya ada seorang muslim yang pindah ke agama yang lain. Rasanya ada sesuatu yang hilang (terasa menyedihkan, atau mengerikan barangkali demikian campur aduk). Ayah kami berulang-ulang menyebut itu sebagai murtad.. Dan istilah itu menakutkan bagi kami yang mendengarnya.
Meskipun orang yang murtad tidak pernah terjadi di kampung kami masa itu, orang yang menjadi mualaf pun jarang pula terjadi. Sepengetahuan kami hanya ‘Pak Mualap’ itu saja sepanjang yang diketahui. Kabarnya beliau tetap muslim sampai meninggalnya.
Di Pulau Bangka, orang masuk Islam telah sejak lama berlangsung. Khususnya, saudara-saudara kita Tionghoa menjadi mualaf sejak bayi karena ‘diangkat’ anak oleh orang Melayu, atau konversi karena kawin mawin dengan orang Melayu. Namun, tidak demikian halnya di lain kawasan khususnya di Pulau Jawa. Oleh sebab perbedaan struktur sosial khususnya strata budaya dan ekonomi, menyebabkan status egalitarian orang Melayu Jawa dan orang Tionghoa sulit terjadi di Pulau Jawa, sebagaimana halnya lebih mudah berlaku di Pulau Bangka.
Itu sekedar gambaran saja untuk mengajukan alasan mengapa di Jawa masa lalu, lebih sulit menemukan gelombang mualaf dibanding dengan yang terjadi di Pulau Bangka.
Beberapa dekade belakangan ini fakta yang luar biasa terjadi di dunia termasuk di Indonesia.
Merujuk kepada data yang dikumpulkan oleh Pengurus Masjid Sunda Kelapa Jakarta (saja) sepuluh tahun yang lalu, jumlah mualaf telah mencapai 16.178 orang. Data dari Mualaf Center Indonesia (MCI) tercatat pertahun yang konversi menjadi mualaf mencapai 2800-3500 orang. Angka yg luar biasa.
Data dari dunia internasional menunjukkan angka yang lebih spektakuler. Pew Research International (PRC) pernah mencatat di sekitar 5 tahun yang lalu angka mualaf naik secara progresif, yang secara prediktif menumbuhkan jumlah muslim dunia akan berjumlah 30% dari jumlah populasi dunia. Mualaf di Eropa seperti Belanda, Jerman, Inggris dan Prancis bertambah seputar 7.000-10.000 per tahun. Diprediksi jika terus terjadi di tahun 2050 telah menjadi agama kedua terbesar mengalahkan Yahudi. Bahkan di Rusia diprediksi mualaf meledak dan di tahun 2050 Islam akan menjadi agama mayoritas.
Menilik pertumbuhan dan perkembangan para mualaf ini, kita akan melihat suatu fenomena yang mampu mengubah peta eksistensi Islam di dunia. Melihat sebagian besar mereka serius mendalami Islam dan tampak justru lebih gigih, berani dan terang-terangan mempertahankan agama ini dari serangan pihak lawan Islam, tidak berlebihan bila agama Islam di masa depan ini justru berharap kepada mereka para mualaf.
Fenomena sosial ini sangat menarik bagi para pembelajar Sosiologi Islam. Di samping kajian klasik Islam Abangan dan Islam Santri, sekarang ada kajian baru berupa Islam Turunan dan Islam Mualaf. Bagaimanakah hubungan batin keduanya; bagaimanakah hubungan batin itu diimplementasi ke dalam bentuk pembelajaran nilai-nilai pensyiaran Islam, seberapa jauh kritik internal berkembang dalam praktik syiar Islam, dan lain sebagainya.
Selamat mendalami.
Prof. Dr. Bustami Rahman, M.Sc, Pakar Sosiologi