Cendana News, TIDORE — Menteri Kelautan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono resmi diangkat, dikukuhkan, melalui pemberian gelar kehormatan sebagai Anak Adat Kesultanan Tidore.
Menteri Trenggono mendapatkan gelar sebagai “Syaikhu Ngolo Ma Oti” dalam bahasa Tidore yang berarti Pimpinan Armada Perikanan.
Prosesi adat Kesultanan Tidore ini berlangsung di Kedaton Kesultanan dan pengukuhan dilakukan secara langsung oleh Sultan Tidore, Husain Alting Syah.
Menteri Trenggono berharap dengan amanah yang diberikan kepadanya, dia bisa membawa KKP menyejahterakan masyarakat, khususnya masyarakat perikanan melalui Penangkapan Ikan Terukur.
Selain dihadiri oleh Menteri Trenggono beserta jajarannya, dalam seluruh rangkaian kunjungan kerja tersebut turut hadir Gubernur Maluku Utara, KH. Abdul Gani Kasuba; Walikota Tidore, H Ali Ibrahim; Sultan Tidore, Husain Alting Syah; serta Anggota Komisi IV DPR RI, Alien Mus.
“Semoga amanah yang diberikan kepada saya dapat terus memajukan sektor Kelautan dan Perikanan RI demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, ” ungkap Menteri Trenggono.
Diketahui bahwa Kesultanan Tidore adalah salah satu kerajaan Islam yang berada di kepulauan Maluku. Kesultanan itu pun berpusat di wilayah Kota Tidore Maluku Utara.
Masa kejayaan kesultanan Tidore terjadi sekitar abad ke-16 sampai abad ke-18.
Pada masa kejayaannya kerajaan ini menguasai sebagian besar Halmahera selatan, Pulau Buru, Ambon, dan banyak pulau-pulau di pesisir Papua barat.
Pada tahun 1521, Sultan Mansur dari Tidore menerima Spanyol sebagai sekutu untuk mengimbangi kekuatan Kesultanan Ternate saingannya yang bersekutu dengan Portugis.
Setelah mundurnya Spanyol dari wilayah tersebut pada tahun 1663 karena protes dari pihak Portugis sebagai pelanggaran terhadap Perjanjian Tordesillas 1494, Tidore menjadi salah satu kerajaan paling independen di wilayah Maluku.
Terutama di bawah kepemimpinan Sultan Saifuddin (memerintah 1657-1689), Tidore berhasil menolak penguasaan VOC terhadap wilayahnya dan tetap menjadi daerah merdeka hingga akhir abad ke-18.
Sebagai kerajaan yang bercorak Islam, masyarakat Tidore dalam kehidupan sehari-harinya banyak menggunakan hukum Islam .
Hal itu dapat dilihat pada saat Sultan Nuku dari Tidore dengan De Mesquita dari Portugis melakukan perdamaian dengan mengangkat sumpah dibawah kitab suci Al-Qur’an.