Bulan Maret Bulan Soeharto, Begini Sejarahnya

Admin

Cendana News, JAKARTA  – Tidak berlebihan, jika menyatakan Bulan Maret Bulan Soeharto, karena pada bulan ini terjadi peristiwa sejarah yang mengubah wajah negeri ini.

Pada tahun 2017, Keluarga Besar Presiden Soeharto mencanangkan Bulan Maret sebagai Bulan Soeharto.

Siti Hediati Haryadi (Titiek Soeharto) mencanangkan Bulan Maret Bulan Soeharto pada sebuah acara di Yogyakarta pada Rabu, 1 Maret 2017.

Ada sejarah penting yang mendasari pencanangan Bulan Maret Bulan Soeharto. Semua terkait dengan presiden legendaris ini.

Banyak peran strategis dan mendasar dari Soeharto yang kemudian mengubah bangsa ini.

Dan, secara kebetulan semua itu terjadi pada bulan Maret.

Mengutip kembali pernyataan Titiek Soeharto dalam pencanangan Bulan Maret Bulan Soeharto pada enam tahun lalu, peristiwa penting pada bulan Maret yang pertama adalah Serangan Umum (SU) 1 Maret 1949. Soeharto memegang peran kunci dalam keberhasilan SU 1 Maret 1949 tersebut.

Kemudian, peristiwa kedua adalah Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) kepada Soeharto.

Dengan surat tersebut, Soeharto kemudian membubarkan PKI dan mampu menguasai keadaan.

Menertibkan situasi bangsa yang pada 1965-1966 terancam perang saudara.

Lalu, pada tanggal 12 Maret 1967 Soeharto dilantik sebagai penjabat Presiden RI.

Kemudian, pada tanggal 27 Maret 1968 untuk pertama kalinya Soeharto dilantik sebagai Presiden ke-2 RI.

Mulailah babak baru bangsa Indonesia saat itu, yang di kemudian hari terbukti mengubah peradaban bangsa ini.

Pada tahun 1968, Presiden Soeharto melaksanakan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila, dari Repelita I hingga VI.

Pada awal Pembangunan Nasional Repelita I, situasi politik, sosial dan ekonomi negara sangat rawan.

Kondisi ekonomi saat itu juga sangat buruk.

Indonesia saat itu tergolong sebagai negara sangat miskin dengan pendapatan per kapita dalam setahun kurang dari 100 Dolar AS.

Kondisi kesehatan masyarakat sangat tidak memadai, dan angka kelahiran tinggi.

Serta usia harapan hidup warga Indonesia hanya sekitar 65 tahun.

Setelah enam kali Repelita, Indonesia berubah dari negara yang sangat miskin menjadi negara berpenghasilan menengah.

Penghasilan bruto waktu itu tercatat sekitar 1.000 Dolar AS.

Namun, saat itu masih ada sekitar 11 persen rakyat Indonesia berada di bawah garis kemiskinan.

Untuk mengatasi hal itu selain melakukan berbagai program pembangunan, Presiden Soeharto mendirikan yayasan-yayasan yang bertugas membantu masyarakat.

Soeharto secara pribadi menginisiasi pendirian tujuh yayasan, yang semua bertugas membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan dan mencerdaskan bangsa.

Tujuh yayasan itu adalah Yayasan Trikora, Supersemar, Dharmais, Amal Bakti Muslim Pancasila, DAKAB.

Kemudian, Yayasan Gotong Royong Kemanusiaan Siti Hartinah Seoharto, dan Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri).

Ketujuh yayasan tersebut hingga kini masih menjalankan program pemberdayaan sesuai amanat Presiden Soeharto.

Mengingat sejarah penting bangsa ini yang secara kebetulan terjadi pada bulan Maret, maka bulan Maret dicanangkan sebagai Bulan Soeharto.

Namun demikian, Titiek Soeharto dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa pencanangan Bulan Maret Bulan Soeharto tidak berarti ingin mengkultuskan Soeharto.

Melainkan sebagai pengingat rentetan peristiwa sejarah perjuangan bangsa ini dan sebagai suri teladan.

Lihat juga...