Tips Sukses Mengarungi Pasar Australia

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Karakteristik masyarakat Australia yang multikultural sangat mempengaruhi pemasaran produk. Para eksportir harus mampu menjawab kebutuhan setiap segmen tanpa menghilangkan identitas dari produk. Tapi secara umum, kecenderungan untuk memilih produk berkualitas, sehat dan ramah lingkungan yang dikemas dalam kemasan yang menarik merupakan kunci untuk dapat memasuki pasar Australia.

Kepala Indonesia Trade Promotion Centre (ITPC) Sydney, Ayu Siti Mariam menyampaikan untuk Australia, produk yang saat ini menjadi tren adalah semua yang berkaitan dengan alam dan sehat.

Kepala Indonesia Trade Promotion Centre (ITPC) Sydney, Ayu Siti Mariam menjelaskan cara agar produk dapat masuk dan dibeli oleh konsumen di Australia, dalam edukasi online eksportir, Selasa (26/10/2021) – Foto: Ranny Supusepa

“Sebelum pandemi, sebenarnya masyarakat Australia sudah memiliki gaya hidup yang dekat dengan alam. Tapi dengan terjadinya pandemi, terjadi peningkatan kegiatan yang lebih ke alam dan produk yang berkaitan dengan me time atau produk yang berkaitan dengan memanjakan diri, serta produk yang lebih sehat,” kata Ayu Siti dalam edukasi online untuk eksportir, Selasa (26/10/2021).

Contohnya, karena masyarakat Australia semakin menyukai pijat, maka mulai dari minyak pijat hingga aroma therapy juga meningkat kebutuhannya.

“Atau yang berkaitan dengan gaya hidup sehat. Misalnya alat olahraga, produk herbal yang membuat tubuh sehat maupun makanan atau minuman sehat,” ucapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat Australia memiliki sifat untuk mengutamakan kualitas.

“Maksudnya adalah memang ia menyukai alat untuk berolahraga tapi harus yang memiliki tampilan bagus dan berkualitas. Atau untuk sektor makanan atau minuman, sebelum mereka mau mencoba makanan tersebut, tampilan makanan itu harus indah atau menarik bagi mata mereka,” ucapnya lagi.

Dengan kecenderungan umum dari masyarakat Australia ini, Ayu Siti menyatakan agar dapat memasuki pasar Australia, para eksportir harus mengenali produk secara detil.

“Terkait, bahan bakunya, cara pembuatan produk, alat yang digunakan, sertifikasi dari produk, nilai lebih produk dan harga yang ditawarkan,” tuturnya.

Ia memaparkan semua bahan baku yang digunakan harus dicantumkan dalam kemasan. Untuk memenuhi ketentuan eksportir, cara pembuatan pun harus dibuat dalam bentuk flow chart karena merupakan bagian dari aturan Manufactured Declaration.

“Alat yang digunakan pun harus memenuhi ketentuan etis. Misalnya, mengambil ikan menggunakan alat apa. Atau jika melakukan pengolahan daging, cara penyembelihan atau pengemasannya bagaimana,” tuturnya lebih lanjut.

Untuk sertifikasi, Ayu Siti menyebutkan sejauh ini setiap produk yang sudah memiliki sertifikasi Badan POM, sama sekali tak menemukan kesulitan untuk memasuki pasar Australia.

“Nilai lebih dari produk merupakan bagian penting saat meyakinkan calon importir untuk mengambil produk kita. Caranya bisa dengan menyampaikan suatu cerita terkait produk tersebut yang didukung dengan kajian ilmiah tentunya. Dan yang terakhir adalah memastikan harga yang ditawarkan sudah mencakup pembiayaan distribusi dan logistik, serta asuransi,” urai Ayu Siti.

Bagian kedua, agar produk dapat diterima di Australia adalah mengenali demografi penduduknya yang multikultur dengan budaya dan tren berbeda.

“Jadi setiap produk yang masuk bisa disesuaikan dengan segmentasi yang mana. Jadi misalnya mau memasarkan sambal bawang. Kalau yang disasar adalah diaspora Indonesia yang berjumlah sekitar 150 ribu orang ya tidak perlu penyesuaian rasa. Atau kalau mau expand ke etnis India yang 1,7 persen dari total penduduk, rasanya masih bisa sama karena etnis India juga menyukai pedas. Tapi saat kita mau expand ke etnis British ya artinya harus ada penyesuaian rasa. Karena mereka tidak suka pedas,” urainya lebih lanjut.

Dan budaya hidup sehat juga membuat mayoritas masyarakat Australia memilih produk yang bebas gula, lebih sedikit tercampur dengan produk susu dan telur serta sedapat mungkin gluten tree. Sebagian bahkan memilih produk vegan.

“Budaya juga mempengaruhi warna pakaian. Orang Australia tidak menyukai warna yang terlalu terang atau nabrak begitu. Dan bukan hanya pada pakaian, juga pada warna furnitur, mereka lebih menyenangi yang warna alam,” kata Ayu Siti.

Dan yang faktor terakhir untuk memastikan keberhasilan pemasaran produk di Australia adalah memiliki rekan importir yang tepat dan mematuhi regulasi yang berlaku.

“Tepat dalam artian, memiliki rekam jejak yang bagus dan etika bisnisnya juga kuat. ITPC bisa membantu untuk mengecek para importir yang akan menjalin kerja sama dengan eksportir sebelum melakukan kerja sama,” tuturnya.

Ia menjelaskan saat ini sudah berlaku pengaplikasian Indonesia Australia CEPA (IACEPA) yang membuat produk Indonesia dapat masuk ke Australia tanpa dikenai bea masuk.

“Ada 6476 produk yang masuk dalam daftar ini. Ini akan menjadikan produk Indonesia akan lebih kompetitif dibandingkan sebelum IACEPA diterapkan. Beberapa di antaranya yang menjadi nol persen adalah produk kayu dan turunannya yang dulu 5 persen, dairy products 5 persen, fertilizer 5 persen, produk kulit 5 persen hingga tekstil dan apparel yang dulu juga 5 persen,” pungkasnya.

Lihat juga...