Siasati Kurikulum Pra-Sekolah, Ajarkan Calistung lewat Permainan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Kurikulum pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau Taman Kanak-kanak (TK), tidak diwajibkan untuk memberikan materi pembelajaran baca tulis hitung (calistung).

Namun persoalan muncul, ketika siswa masuk ke jenjang SD, kurikulum pada jenjang pendidikan tersebut sudah mengharuskan anak untuk mampu calistung, meski baru duduk di kelas 1 SD.

“Memang ini menjadi persoalan kurikulum, yang berbeda antara jenjang PAUD-TK dengan SD. Pada tingkat pra-sekolah, memang calistung tidak diajarkan, karena lebih fokus dalam pembentukkan mental dan karakter anak didik,” papar pengamat pendidikan pra-sekolah, sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Muniroh Munawar, S.Pi, M.Pd, saat ditemui di Semarang, Kamis (19/8/2021).

Dipaparkan, dalam jenjang PAUD-TK, lebih ditekankan pada pengembangan emosi dan kemampuan sosial anak.

Melalui pendidikan usia dini yang berkualitas, anak-anak akan diajarkan untuk menjawab rasa penasaran mereka terhadap dunia luar melalui eksplorasi, eksperimen, dan percakapan.

“Termasuk dalam berkenalan dengan angka, huruf, bentuk. Meski tidak diajarkan secara langsung, namun pembelajaran calistung ini, bisa disampaikan dengan cara bermain. Jadi tidak diajarkan secara langsung, namun dapat disisipkan dalam kegiatan permainan,” jelasnya.

Diterangkan cara tersebut, dinilai menjadi efektif, untuk memperkenalkan calistung.

“Ada banyak media pembelajaran yang bisa digunakan, untuk mempermudah guru dalam menyampaikan materi. Misalnya, bermain ular tangga. Ada angka dan soal hitungan yang diperkenalkan. Maju berapa langkah, ini kan dihitung, satu dua tiga dan seterusnya. Ini juga menjadi tantangan bagi guru, bagaimana dalam berkreasi,,” tandas Ira, panggilan akrabnya.

Terpisah, hal senada juga disampaikan Kepala Sekolah sekaligus guru di TK Purnama Tembalang Semarang, Nur Aeni.

“Jika mengacu pada kurikulum PAUD dan TK, calistung memang tidak diajarkan pada siswa pada jenjang pendidikan ini. Namun bisa kita perkenalkan, dengan cara disisipkan dalam permainan. Sebab untuk jenjang pra-sekolah ini, memang lebih banyak untuk membentuk karakter siswa,” terangnya.

Di satu sisi, dirinya juga tidak menampik, jika ada orang tua murid yang mempertanyakan, kenapa di jenjang TK tidak diajarkan calistung, sebab saat memasuki jenjang SD, siswa dituntut sudah mampu.

“Ada juga orang tua siswa yang bertanya. Biasanya ini, mereka yang memiliki anak sudah sekolah di jenjang SD, dan satunya masih di TK. Melihat kurikulum anak mereka yang di SD, yang sudah harus bisa membaca, lalu mereka menanyakan kenapa di TK tidak diajarkan,” tegasnya.

Menyikapi hal tersebut, dirinya pun menjelaskan kepada orang tua siswa. “Memang sesuai kurikulum seperti itu, namun kita tetap memperkenalkannya kepada peserta didik secara tidak langsung. Ini menjadi upaya yang bisa kita lakukan,” pungkasnya.

Lihat juga...