Sampah Kembali Mengular di Kali Cikarang Hilir Sukawangi
Editor: Koko Triarko
BEKASI – Persoalan sampah di Kali Cikarang, mulai dari hulu hingga hilir seperti tak ada habisnya. Selain dicemari limbah industri, sampah rumah tangga juga kerap menjadi pemandangan menyedihkan di wilayah Utara Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Tanpa solusi dan berulang.
Kali ini, sampah rumah tangga seperti pampers, streofoam, plastik dan lainnya terlihat mengular hingga 1,5 kilometer (KM) di Kali Cikarang Hilir, dari Kampung Galian, tepatnya di depan dan belakang pintu air 24 di Desa Sukakerta, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Sabtu (14/8/2021).
Meski kerap dibersihkan, lautan sampah terus terjadi hingga membuat petani turun membersihkan secara bergotong royong, meski bukan di wilayah mereka karena guna keperluan sawah agar air mengalir. Berulang kali disorot dan diberitakan, tetap tidak ada tindakan dari pemilik wilayah. Padahal, kondisi itu membuat petani terganggu pasokan airnya karena terhambat oleh lautan sampah yang menyumbat pintu air.
“Ini kondisi hari ini, tumpukan sampah mengular di Kali Cikarang Hilir tepatnya di belakang pintu air Sukawangi. Padahal, pekan lalu petani secara bergotong royong baru membersihkan sampah di wilayah itu di pintu air Sukawangi,”ungkap Ustadz Jejen, kepada Cendana News, Sabtu (14/8/2021).
Dikatakan, bahwa tumpukan sampah tersebut terjadi akibat beberapa waktu lalu Kali Cikarang meluap akibat hujan, hingga sampah di hulu mengalir ke hilir. Saat ini sampah tersebut mengendap karena air lagi surut, tidak bisa didorong sampai ke laut.
Menurut Jejen, kondisi itu membuat petani di utara Kabupaten Bekasi kian kesusahan mendapatkan pasokan air untuk mengaliri sawahnya.

Wilayah Sukawangi sendiri, jelas Jejen tidak peduli dan berdalih mereka tak perlu air dan membebankan untuk dibersihkan petani di bagian utara yang berada lebih ke hilir, yang membutuhkan kelancaran aliran air guna pengairan sawahnya.
“Kami bersama petani dari 16 desa di wilayah Utara sudah sepakat dibiarkan saja dulu sampah mengular itu, mau melihat respons pemerintah. Karena kondisi air pun tidak memungkinkan karena sampah itu mengendap bersama lumpur,” jelasnya.
Biar pun dibersihkan, lanjut Ustadz Jejen, petani kemungkinan hanya bisa menarik tumpukan sampah itu ke samping, ditumpukkan di tepi sepadan kali, karena tidak bisa diurai, mengingat kondisi sampah memanjang dan bertumpuk tidak pada satu tempat.
Ia pun mengaku prihatin dengan kondisi sampah yang terus berulang. Tapi, semua pihak lempar tanggungjawab dengan dalih yang membersihkan yang membutuhkan air. Harusnya bisa dibersihkan secara gotong royong di setiap desa masing-masing.
“Beberapa kali kami mengajukan agar setiap desa membersihkan kali masing-masing, tapi tidak ada tanggapan. Saya berharap, Camat Sukawangi bisa mengakomodir desa yang dilintasi Kali Cikarang Hilir ini untuk turun bersama membersihkan sampah di tempatnya, karena sampah itu adanya di Kecamatan Sukawangi, tapi kami dari utara yang membersihkan dengan jarak 17 kilometer ke lokasi itu,” tegas Ustadz Jejen.
Tumpukan sampah terjadi dari pintu air 16 – 27 Kecamatan Sukawangi. Tapi, ketika diajak membersihkan, mereka berdalih harus yang membutuhkan air. Hal itu terus terulang setiap tahunnya, seolah tumpukan sampah itu hanya menjadi tanggungjawab petani di utara, seperti Cabang Bungin atau Muaragembong.
“Kami hanya berharap jika kepala desa atau camat yang wilayahnya dilintasi Kali Cikarang Hilir peduli, sebenarnya urusan sampah bisa selesai dan dibersihkan secara gotong royong, tak hanya dibebankan kepada petani di utara untuk membersihkan,” tegasnya.
Atas kondisi tersebut, Jejen juga mengaku sudah mengadu kepada UPTD LH setempat. Tapi, jawabnya hanya normatif akan dikoordinasikan dulu, padahal dengan kondisi sekarang, sampah tidak bisa diurai karena airnya dangkal, harus menggunakan alat berat untuk mengangkatnya.
Petani lainnya, Ugay, mengaku biasanya jika sudah terjadi lautan sampah penguraian dilakukan dengan menghanyutkan ke hilir hingga sampai ke laut. Kali Cikarang Hilir muaranya di laut.
“Jadi, sampah ini hanya dihanyutkan begitu saja, sampai ke laut tidak diangkat. Jadi, jangan heran jika laut Utara Bekasi dipenuhi sampah rumah tangga seperti pampers, streofoam, plastik dan lainnya,” paparnya.