PGRI Jateng : Sektor Pendidikan Perlu Adaptasi dengan Covid-19

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Sektor pendidikan di Indonesia, khususnya di Jateng, masih terdampak pandemi Covid-19 yang tak kunjung selesai. Jika tidak segera ada jalan keluar, maka kekhawatiran adanya lost generation, akan semakin nyata.

“Terutama bagi mereka, yang tidak mampu memanfaatkan teknologi, memiliki keterbatasan dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ), yang saat ini diterapkan. Mulai dari jaringan internet, alat atau pun pendampingan dari orang tua,” papar Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jateng, Dr Muhdi SH MHum, di Semarang, Kamis (12/8/2021).

Melihat kondisi tersebut, pihaknya meminta agar ada adaptasi di sektor pendidikan, terhadap Covid-19.

“Saya dengar saat ini, Kemenkes tengah menyusun kebijakan terkait pola hidup masyarakat, agar bisa berdampingan dengan Covid-19. Saya juga berharap, hal serupa juga diterapkan di sektor pendidikan,” tandasnya.

Pihaknya berharap sekolah bisa dipandang bukan menjadi tempat yang ‘menakutkan’, yang berpotensi mampu menjadi penyebar Covid-19 atau klaster baru.

“Disamping vaksinasi, bagi guru dan siswa, maka penerapan protokol kesehatan yang disiplin, menggunakan masker dengan benar dan menjaga jarak, bisa memungkinkan dilakukan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Ini yang harus ditekankan,” lanjut Muhdi.

Dirinya pun memintga ada kebijakan yang jelas, aturan yang terukur, sehingga tidak perlu lagi menunggu sesuatu yang tidak pasti.

“Misalnya saja tetapkan, PPKM level 2, bisa melakukan PTM terbatas. Jadi begitu, daerah sudah berada di level tersebut, bisa langsung menerapkan pembelajaran langsung. Sementara, kalau masuk level 3-4 , stop. Ini sesuai dengan surat keputusan bersama (SKB) 4 menteri, yakni Kemendikbud, Kemenkes, Kemenag dan Kemendagri yang jika diperas, PTM ini bisa dilakukan secara dinamis. Gas rem, gas rem, kalau angka covid 19 turun PTM dilakukan, jika naik di stop,” tandasnya.

Dirinya menilai, PTM terbatas menjadi sesuai yang penting, dalam meningkatkan kompetensi siswa. Tidak hanya mempermudah siswa dalam menerima pembelajaran, namun juga untuk mendidik karakter hingga kedisiplinan siswa.

“Jangan sampai anak lulus sekolah, namun tidak pernah masuk atau datang langsung ke satuan pendidikan. Ingat pandemi ini, sudah masuk tahun ke-dua, kalau tidak ada solusi, bisa jadi sampai tahun selanjutnya tidak berubah,” tegasnya.

Sementara, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Saptogiri memaparkan, saat ini angka Covid-19 di wilayah tersebut, sudah semakin menurun.

“Untuk Kota Semarang, sebenarnya semuanya sudah siap. Dari segi prasarana sekolah, hingga vaksinasi Covid-19 bagi seluruh guru dan tendik se-Kota Semarang, sudah dilakukan, namun karena ada lonjakan angka covid pada Juli 2021 lalu, rencana uji coba PTM terbatas tahap III batal dilakukan,” terangnya.

Kini seiring dengan semakin menurunnya penyebaran covid-19, kemungkinan untuk dilakukan kembali PTM terbatas, bisa saja dimulai. “Namun untuk melangkah ke arah tersebut, tentu diperlukan keputusan dari pemerintah daerah, yakni Wali Kota Semarang hingga Gubernur Jateng. Kita akan menunggu, namun untuk kesiapannya, semuanya sudah siap. Apalagi untuk siswa SMP, juga sebagian sudah mulai divaksin covid-19,” pungkasnya.

Lihat juga...