Pencari Oksigen untuk Isoman Pasien Covid-19 Berharap Layanan 24 Jam
Editor: Makmun Hidayat
SEMARANG — Tabung oksigen menjadi barang langka di tengah pandemi Covid-19, padahal perlengkapan tersebut menjadi kebutuhan vital, untuk membantu pasien Covid-19 yang mengalami sesak nafas. Khususnya mereka yang melakukan isolasi mandiri.
“Tidak hanya tabung oksigen, mau isi ulang oksigen juga kesulitan. Selain stok terbatas, antrean juga cukup panjang jika mengisi ke pedagang isi ulang tabung oksigen,”papar Wayan, warga Semarang disela isi ulang oksigen gratis di Balai Kota Semarang, Jumat (6/8/2021).
Dirinya menceritakan harus mengantre hingga 3 jam lamanya, untuk mengisi ulang tabung oksigen berkapasitas 1 meter kubik, di salah satu toko isi ulang di kawasan Perbalan Semarang.
“Oksigen ini untuk ibu saya, yang sekarang ini menjalani isoman di rumah. Sebelumnya sudah dirawat di rumah sakit, sudah dinyatakan negatif, namun tetap membutuhkan oksigen karena nafasnya terkadang masih sesak, dan saat ini masih menjalani isoman 14 hari, setelah dinyatakan negatif,” terangnya.
Wayang mengaku membeli tabung oksigen tersebut dengan harga cukup mahal, sekitar Rp2,5 juta belum termasuk ventilator.
Cerita senada disampaikan Muji Astuti, warga Genuksari Semarang, yang juga ditemui saat mengantre isi ulang oksigen gratis di Balaikota Semarang.

“Untuk mendapatkan tabung oksigen dan isi ulang itu butuh perjuangan. Namun saya beruntung mendapatkan tabung saat harga masih wajar, saya beli Rp1,5 juta untuk tabung oksigen kapasitas 1 meter kubik beserta ventilatornya. Namun yang harus keliling mencarinya, dari toko ke toko,” terangnya.
Namun persoalan muncul, ketika harus isi ulang oksigen, apalagi jika tabung tersebut habis pada saat yang tidak tepat.
“Maksudnya, toko isi ulang oksigen ini tidak buka selama 24 jam, sementara penggunaan tabung oksigen ini bisa sewaktu-waktu, jadi bisa awet atau cepat habis. Ketika habis pada malam hari, hal tersebut menjadi kendala, sebab toko sudah tutup, sementara kita butuh segera,” terangnya.
Muji mengaku tabung oksigen tersebut dipergunakan untuk ayahnya, yang sebelumnya terpapar Covid-19 dan saat ini masih dalam masa isoman di rumah.
“Saya beli untuk ayah saya, beliau sempat dirawat cukup lama di rumah sakit, lebih dari sebulan akibat Covid-19. Waktu itu, dokter bilang kalau stok oksigen di rumah sakit tipis. Jadi untuk berjaga-jaga, keluarga diminta menyediakan tabung oksigen sendiri,” tambahnya.
Termasuk saat harus menyewa sendiri, tabung oksigen ukuran 12 meter kubik, yang dipergunakan untuk sang ayah. “Saya sewa tabung termasuk isinya, sekitar Rp500 ribu, ini habis untuk pemakaian tiga hari,” terangnya.
Dirinya pun berharap, ada kebijakan pemerintah, termasuk layanan terpusat terkait isi ulang oksigen, khususnya yang buka 24 jam.
“Sekarang tidak bisa isi ulang oksigen di rumah sakit, karena kebutuhan mereka juga tinggi. Sementara, di toko-toko isi ulang hanya buka, sesuai jam operasional. Mulai dari jam 8 pagi tutup jam 9 malam. Apalagi sekarang masih PPKM, jadi tutupnya juga lebih awal. Inginnya ada yang 24 jam, sebab kebutuhan oksigen ini mendadak sewaktu-waktu,” tandasnya.