Olah Raga Teratur Bermanfaat untuk Pertumbuhan Anak

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Sekelompok anak terlihat silih berganti menendang bola plastik warna merah sambil berlari, dan lalu mengoper bola itu kepada temannya.

Dalam gerakan lainnya, seorang anak meliukkan tubuh sambil kaki kanannya merebut bola itu dari kaki temannya.

Terlihat sangat seru permainan sepak bola yang mereka suguhkan di sela istirahat pembelajaran daring.

“Belajar daring sudah selesai, kita main bola bareng teman-teman biar tubuh sehat,” ujar Muhammad Rizky Putra, siswa kelas 1 MTS 13, kepada Cendana News, Jumat (20/8/2021).

Menurutnya, selama belajar daring, pelajaran olahraga tetap ada, tapi tidak secara langsung dilakukan di lapangan bersama teman-teman sekolah. Karena yang ditugaskan lebih banyak teori pelajaran, bukan gerakan olahraga.

“Daring pelajaran olahraga banyaknya teori, kalau gerakan paling ya disuruh bikin video gerakan senam atau gerakan lainnya, rada bosan ya,” ujar Rizky.

Dia bersama teman-temannya di lingkungan tempat tinggalnya pun kerap berolahraga di sela istirahat belajar daring atau di saat sore hari.

“Biasanya, main bola, basket, bulu tangkis dan sepedaan keliling,” imbuhnya.

Demikian juga dengan Muhammad Giovanni Alvarizzy (10) siswa kelas 4 SDN Cijantung 02 mengaku olahraga membuat tubuhnya lebih segar.

“Ya segar aja tubuh saya, kan duduk melulu belajar daring, itu capek. Pelajaran olahraga juga cuma jawab soal dari tugas, dan bikin video gerakan lokomotif kayak lempar bola gitu,” ujar Gio.

Ketua Indonesia Asosiasi Ahli Gizi Olahraga (ISNA), dr. Rita Ramayulis, DCN. M.Kes, mengatakan, olahraga membawa banyak manfaat bagi pertumbuhan fisik anak-anak.

Ketua Indonesia Asosiasi Ahli Gizi Olahraga (ISNA), dr. Rita Ramayulis, DCN. M.Kes, pada diskusi online tentang olahraga di Jakarta yang diikuti Cendana News, Jumat (16/7/2021) lalu. Foto: Sri Sugiarti.

Perlu diingat, tulang dan otot anak memang telah diatur sedemikian rupa untuk terus bergerak agar pertumbuhannya baik.

Tentu setiap gerakan dalam berolahraga yang dilakukan anak harus dilakukan teratur, terukur, dan terprogram.

“Jadi tidak hanya sekedar bergerak, tapi ada gerakan yang diukur, terstruktur, benar dan baik, punya manfaat besar untuk tubuh anak,” ujar Rita.

Menurutnya, olahraga 60 menit per hari merupakan anjuran yang ditetapkan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) untuk anak usia 6-12 tahun.

Tentu olahraga yang dilakukan juga tidak boleh sembarangan, harus seimbang aktivitas fisiknya. Misalnya gerakan jogging, lari di tempat, bersepeda, main bola, basket, dan lainnya.

“Nah, 60 menit itu gerakan olahraganya harus terbagi dengan teratur. Kalau untuk tulang dan otot bisa dengan melempar bola, menendang, dan melompat. Gerakan main bola ini bisa dikombinasi,” tandasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, ketika anak-anak melakukan olahraga, maka oksigen yang masuk ke dalam tubuh akan semakin banyak. Sementara itu, ketika tubuh teroksigenasi dengan baik, berpengaruh pada kontraksi otot.

Ketika oksigen mencapai otak, maka otak syaraf-syaraf atau memori si anak akan menjadi lebih baik karena selalu teroksigenasi.

Selain itu, yakni kata dia, daya fokus anak juga mengalami peningkatan saat melakukan olahraga.

“Jadi, anak-anak yang gerakan olahraganya benar, itu akan punya daya fokus lebih lama. Kalau yang biasanya 30 menit, itu pikirannya bisa saja ke mana-ke mana. Berbeda dengan yang 60 menit olahraga, bisa tahan lama, fokus,” ungkap dr. Rita Ramayulis, DCN. M.Kes, yang juga pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (UI).

Menurutnya, daya fokus ini berdampak pada aktivitas belajar anak, lebih cepat mengerjakan pelajaran, karena kemampuan analisisnya semakin berkembang.

“Apalagi proses belajar daring, suasana belajar anak harus senang. Maka, kesehatan tubuhnya harus dijaga dengan olahraga yang seimbang dengan asupan gizi,” ujarnya.

Terpenting lagi, menurutnya, untuk menciptakan perilaku sadar olahraga pada anak,  harus dimulai dari orang tua terlebih dahulu dengan memberikan contoh nyata.

“Ya, diharapkan orang tua bisa menyediakan waktu khusus untuk olahraga bersama anak. Misalnya main bola atau basket di halaman rumah, bisa juga lari atau sepedaan di sore hari,” pungkasnya.

Lihat juga...