Ki Dalang Sukarlana, Penjaga Kelestarian Wayang Kulit Betawi di Bekasi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BEKASI — Wayang Kulit Betawi, hampir tak terdengar, keberadaannya hampir punah ditelan zaman. Tapi di Kota Bekasi, Jawa Barat, masih ada satu generasi yang terus menjaga dan melestarikan, bisa disebut mereka adalah generasi terakhir.

Ki Dalang Sukarlana, salah satu dalang Wayang Kulit Betawi, Minggu (8/8/2021). Foto: Muhammad Amin

“Saat ini dalang wayang kulit Betawi di Kota Bekasi ini hanya ada tiga orang saja, Saya sendiri, adik dan anak saya,” kata Ki Dalang Sukarlana, kepada Cendana News, Minggu (8/8/2021).

Ki Dalang Sukarlana sendiri merupakan keturunan ketiga dari Enkong Blentet, Dalang Wayang Betawi tersohor di zaman sebelum Kemerdekaan RI. Saat ini ditangan Ki Lana, begitu ia disapa, seni pertunjukan tradisi wayang Betawi terus dimodifikasi, disesuaikan dengan tuntutan zaman.

Menurutnya, minat untuk menonton wayang kulit Betawi, baik di Kota Bekasi dan wilayah lainnya di Jabodetabek masih tinggi. Ia mengibaratkan jika dagangan wayang kulit Betawi, masih eksis di pasaran. Namun, diakuinya saat ini sudah hampir dua tahun nyaris tidak ada pertunjukan, hanya dibuat di tempat tertentu saja.

“Hal yang membedakan dari wayang kulit Betawi ini umumnya dalangnya otodidak, tidak perlu latihan khusus. Latihan hanya dilakukan jika ada undangan untuk tampil di event tertentu dengan waktu dibatasi, misalkan tampil hanya selama 50 menit, itu kami kadang latihan. Tapi, jika hanya untuk pertunjukkan di kampung, tidak perlu latihan,” jelasnya.

Wayang kulit Betawi, jelasnya menggunakan bahasa Betawi, ciri lainnya corak wayang agak kasar, mulai dari warna cat, ukiran dan lainnya menyesuaikan dengan karakter orang Betawi. Hal itu sebagai pembeda dengan wayang Jawa lebih halus dan memiliki pakem tertentu.

Lebih lanjut dikatakan, wayang kulit Betawi memiliki daya tarik tersendiri, pada umumnya orang lebih tertarik dengan karangan yang dikisahkan setiap pertunjukan, misalkan cerita perkawinan warisan dan kondisi yang terjadi yang dibawakan dengan penuh canda dan nasehat, disesuaikan dengan kondisi yang tengah berkembang.

“Umumnya Wayang Kulit Betawi kenapa disenangi karena banyolan yang dibawakan saat tampil, menceritakan kondisi yang terjadi di sekitar lingkungan yang tengah ramai,  bahkan tak jarang bercerita soal kondisi bangsa,” jelas Ki Lana.

Antara wayang Betawi dengan Sunda, menurut Ki Lana hampir memiliki kesamaan, yakni tidak memiliki pakem tertentu. Beda lainnya wayang Betawi menggunakan terompet di samping gemelan dan lainnya saat tampil.

“Umumnya seni wayang itu memiliki memiliki dua pakemnya yakni cerita Mahabarata dan Ramayana, wayang kulit Betawi ini mengambil karangan dari sampelan keduanya cerita itu,” jelas Ki Lana.

Penggiat Wayang Kulit Betawi, Misan Heryanto menambahkan, pelestariannya harus dijaga karena saat ini tinggal generasi terakhir pelaku Wayang Kulit Betawi di Kota Beksai.

“Dalang Wayang Kulit Betawi di Bekasi, saat ini tinggal generasi terakhir. Mereka ada sanggar di wilayah Mustikasari, RT 01/05 Jalan Mandor Demong, Kecamatan Mustikajaya. Nama sanggarnya Wayang Kulit Mekar Jaya Ki Dalang Sukarlana,” papar Misan.

Biasanya sekali tampil untuk mengundang Sanggar Wayang Kulit Betawi Mekar Jaya biayanya mencapai Rp9 jutaan. Berbeda jika tampil di DKI Jakarta hingga Rp15 jutaan.

Saat ini, lanjut Misan, salah satu cara pelestarian wayang kulit Betawi yang ada di Bekasi dengan cara mendokumentasikan melalui Youtube. Hanya itu cara mengenalkan lagi Wayang Kulit Betawi di tengah masyarakat.

Lihat juga...