IDEAS: Herd Immunity Sulit Dicapai Jika hanya Bergantung pada Vaksin
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
JAKARTA — Direktur Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Yusuf Wibisono menilai bergantung hanya pada vaksinasi untuk meredam pandemi Covid-19 adalah pilihan kebijakan yang beresiko tinggi. Hert immunity juga sulit untuk dicapai, meskipun vaksin telah dilakukan dengan optimal.
“Ambang batas herd-immunity terlihat tidak akan pernah bisa dicapai meski kebijakan vaksinasi massal telah diadopsi secara optimal,” ujar Yusuf, kepada Cendana News saat dihubungi, Jumat (13/7/2021) sore.
Dalam skenario awal pemerintah, herd-immunity akan diraih dengan vaksinasi massal 181,5 juta orang. Yaitu penduduk 18 tahun ke-atas setelah dikurangi yang tidak bisa divaksin 7,2 juta orang.
Skenario ini menurutnya, secara jelas menggunakan asumsi yang sangat ketat, yaitu tingkat efikasi vaksin 60 persen dan cakupan vaksinasi 67 persen populasi.
Hanya saja seiring perkembangan, kini vaksin telah direkomendasikan untuk usia 12-17 tahun. Maka diperkirakan penduduk yang harus divaksin akan menembus 200 juta orang, atau sekitar 74 persen populasi.
Tentu kata dia lagi, dalam skenario pemerintah dengan cakupan vaksinasi di kisaran 74 persen populasi, dan dengan menggunakan asumsi daya penularan virus (R0) 2,5 yang merupakan varian awal di Wuhan saja.
“Dari asumsi itu, seharusnya dibutuhkan tingkat efikasi vaksin setidaknya 80 persen. Terlebih kini dengan kehadiran varian baru yang jauh lebih menular seperti Alpha (R0 = 4,5) dan Delta (R0 = 6,5). Jadi, kita butuh vaksin dengan efikasi sangat tinggi sekaligus cakupan vaksinasi yang sangat luas,” urainya.
Dia menyebut, untuk varian Alpha (R0 = 4,5) setidaknya dibutuhkan tingkat efikasi vaksin 85 persen dengan cakupan vaksinasi 92 persen populasi. Sedangkan untuk varian Delta (R0 = 6,5), setidaknya dibutuhkan tingkat efikasi vaksin 90 persen dengan cakupan vaksinasi 94 persen populasi.
Sayangnya, kata Yusuf, tingkat efikasi vaksin tersebut merupakan target yang nyaris mustahil diraih di tengah berbagai keterbatasan yang ada.
“Kendala pasokan dan distribusi, yaitu ketersediaan vaksin impor dan kecepatan vaksinasi yang rendah, dipastikan membuat skenario herd-immunity akan sangat sulit tercapai,” tukasnya.
Sedangkan tantangan besar lain, menurut dia, adalah struktur geografis dari herd-immunity. Yakni, upaya vaksinasi sebelumnya menunjukkan imunitas umumnya akan terkonsentrasi secara geografis. Resistensi lokal terhadap vaksinasi akan menghasilkan daerah kantong penyakit endemik.
Tentu meski suatu daerah telah memiliki tingkat vaksinasi tinggi, seperti DKI Jakarta. Namun, jika daerah sekelilingnya tidak memiliki hal yang sama, penduduk akan bercampur.
“Maka potensi ledakan wabah tetap tidak akan hilang, tak bisa terkendali,” tukas Yusuf Wibisono yang merupakan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI).