Ciptakan Ketahanan Pangan, Tanam Sayuran di Bantaran Waduk
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Ragam jenis sayuran yang ditanam dalam botol plastik bekas dan plastik polybag, tertata rapi di samping bangunan berbahan baja yang berada di bantaran Waduk Rawa Dongkal, Jakarta Timur.
Ragam tanaman itu tersusun dalam umpakan berbahan kayu, yang menjadikan suasana area bantaran waduk semakin asri.
“Kita manfaatkan lahan kosong bantaran waduk ini untuk pertanian produktif dengan menanam ragam sayuran,” ujar Amiruddin, petugas PJPL UPT Badan Air Dinas Lingkungan Hidup, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, kepada Cendana News ditemui di area bantaran Waduk Rawa Dongkal, Senin (16/8/2021).

Jenis sayuran yang ditanam di antaranya, cabai merah, sawi, terong, tomat, bawang merah, dan kangkung.
“Bibit sayurannya, kita dapat dari sampah organik rumah tangga yang diangkut dari setiap titik pembuangan sampah. Seperti, sampah cabai atau tomat, lalu ambil bijinya lalu kita bibitkan di botol plastik bekas,” ujarnya.
Setelah tumbuh, tanaman cabai itu dipindahkan ke dalam polybag plastik. Begitu juga menurutnya dengan bibit sayuran lainnya.
Untuk penyiraman tanaman dengan mengandalkan air dari waduk, rutin tiap pagi dan sore. Sedangkan penyubur tanaman dengan memakai pupuk kandang dan pupuk kompos yang dibuat dari sampah yang diangkut dari waduk.
“Perawatan sangat praktis ya, disiram rutin dan diberi pupuk kompos serta kandang yang diberikan setiap dua minggu awal sejak sayuran itu ditanam,” ujarnya.
Selanjutnya, kata dia, pemberian pupuk dapat dilakukan rutin sebulan sekali di atas permukaan tanah pada sayuran yang ditanam di dalam polybag.
Yang terpenting lagi yakni harus menjaga kelembaban media tanam karena pada umumnya pupuk juga memerlukan air untuk menyuburkan tanah.
“Jika cuaca panas, tanaman sayuran disiram dua kali sehari. Ya kalau hujan tinggi, penyiraman secara kondisional. Karena kalau terlalu banyak disiram, berdampak bunga atau buah cabai dan tomat akan mudah rontok,” tukasnya.
Perawatan selanjutnya, kata dia, tentu harus membersihkan tanaman sayuran dari gulma dan hama. Apabila terlihat ada tanaman liar di sekitar tanaman itu, segera bersihkan agar sayuran tumbuh lebih baik.
Selain itu, perlu dilakukan pemangkasan tanaman untuk membasmi gulma dan hama. Yakni kata dia, dengan menggunting pucuk daun tanaman secara perlahan.
“Ya, perawatan sayuran ini gampang-gampang susah, tapi yang penting niat kita untuk penghijauan lingkungan dan hasilnya dimanfaatkan bagi ketahanan pangan,” imbuh pria kelahiran 38 tahun ini.
Apalagi menurutnya, di tengah pandemi Covid-19 ini, tentu kebutuhan pangan menjadi yang utama dalam keterpurukan ekonomi.
“Nah, dengan manfaatkan lahan kosong pinggir waduk ini ditanami sayuran, hasil panennya bisa dinikmati para petugas PJPL, seperti saya dan teman-teman untuk meringankan beban ekonomi jadi nggak usah beli sayuran di warung,” urainya.
Dikatakan dia, tanaman sayuran bertahan tidak semua jenis sama waktunya. Jika sudah saatnya panen, para petugas diperbolehkan untuk memetik sendiri untuk dibawa pulang ke rumah.
“Alhamdulillah kita sudah panen kangkung, cabai dan sawi, tomat juga terong. Hasilnya kita nikmati bersama. Kita juga kadang bagikan sayuran ini pada pegawai Kelurahan Cibubur dan Kecamatan Ciracas,” ujar Amiruddin.
Jika ada masyarakat pengunjung waduk yang meminta sayuran, pihaknya juga membolehkan untuk memetik.
“Bagi warga yang ke sini minta sayuran, kita kasih juga. Saling berbagi karena memang sayuran ini tidak untuk dijual tapi tujuannya sebagai upaya untuk ketahanan pangan warga,” tukasnya.
Sambil memetik sayur sendiri di lahan ini, Amiruddin berharap para petugas PJPL dan juga warga masyarakat dapat mempelajari pola menanam sayuran.
“Supaya mereka ada keinginan untuk memanfaatkan lahan kosong di rumahnya dengan menanam sayuran. Insyaallah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, nggak perlu beli sayuran,” imbuhnya.
Kepala Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Timur, Hermansyah, mengatakan, budi daya tanaman sayuran di bantaran Waduk Rawa Dongkal bisa menjadi contoh warga lainnya, untuk sama-sama memanfaatkan lahan kosong agar ditanami ragam sayuran.
“Dengan ditanami sayuran, yang sebelumnya lahan kosong menjadi produktif dan hasilnya bisa dinikmati bersama. Warga juga bisa memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran atau tanaman obat,” ujar Hermansyah.
Menurutnya, pihaknya terus mengedukasi agar masyarakat melakukan urban farming atau penghijauan lingkungan.
“Fokus kita membantu rakyat, khususnya dalam menjaga ketahanan pangan, kita beri edukasi warga tentang urban farming dan manfaatnya,” pungkasnya.