Banyak Beras Bansos, Harga Gabah di Tingkat Petani Anjlok

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BANYUMAS — Para petani di wilayah Banyumas mengeluhkan anjloknya harga gabah hasil panen mereka, bahkan dibandingkan harga bekatul. Hal tersebut diduga karena banyaknya beras bantuan sosial (bansos) yang beredar di masyarakat, hanya saja beras bansos tersebut tidak dibeli dari petani setempat.

petani di Desa Notog, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Eko Widyanto, Senin (23/8/2021). (FOTO : Hermiana E.Effendi)

Salah satu petani di Desa Notog, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Eko Widyanto mengatakan, selain karena banyaknya petani yang panen, anjloknya harga gabah juga karena banyaknya beras bansos. Saat ini harga gabah basah di tingkat petani hanya pada kisaran Rp2.300 hingga Rp 2.400 per kilogram.

“Harga bekatul saja Rp 3.500 per kilogram, sedangkan harga gabah basah di tingkat petani hanya Rp2.300 – Rp3.400 per kilogram. Hal ini karena beras-beras bansos yang banyak beredar di masyarakat tidak dibeli dari petani lokal. Sementara penyerapan Bulog juga minim, karena stok masih banyak, sehingga harga gabah turun dratis,” jelas Eko, Senin (23/8/2021).

Menurut Eko, beras bansos yang dibagian kepada masyarakat sebagian besar merupakan beras impor yang stoknya memamg masih banyak. Kondisi tersebut, sudah berlangsung cukup lama, sejak panen sebelumnya, harga gabah di tingkat petani juga sudah menurun, namun belum serendah saat ini.

“Panen kemarin harga sudah anjlok, tetapi masih di tas Rp2.500 per kilogram untuk gabah basah. Panen sekarang harganya lebih turun lagi,” tuturnya.

Dengan turunnya harga gabah tersebut, Eko mengaku hasil panen hanya bisa untuk menutup biaya produksi saja dan keuntungan yang diperoleh petani sangat sedikit. Ia mengeluarkan biaya hingga Rp1,2 juta untuk ongkos tenaga kerja. Kemudian ditambah dengan untuk membeli pupuk dan ada juga petani yang harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli solar, karena sawahnya minim air sehingga harus menyedot air dari sungai sekitar.

“Sawah saya 0,25 hektar, kemarin hasil panen 1 ton dan hasil penjualan hanya mendapatkan uang Rp3 juta. Untuk ongkos tenaga kerja saat tanam hingga panen jika ditotal sampai Rp1,2 juta, belum lagi untuk pembelian pupuk, bibit dan sebagainya, sangat tipis keuntungannya,” jelas Eko.

Keluhan serupa juga disampaikan petani dari Desa Pegalongan, Kecamatan Patikraja, Narto. Meskipun hasil panen kali ini cukup bagus, yaitu sampai 4 ton per hektar, namun ia mengaku kesulitan untuk menjual gabah hasil panen. Kalau ada yang membeli di sawah, harga yang ditawarkan sangat rendah.

“Harga gabah anjlok, jadi sementara saya pilih untuk menyimpan hasil panen terlebih dahulu, menunggu sampai harga membaik,” katanya.

Lihat juga...