Proses Pembuatan yang Tepat akan Hasilkan Arang Sekam Terbaik
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
BOGOR— Arang sekam yang baik, selain untuk media tanam, juga memiliki fungsi mampu menjaga tanah tetap gembur dan memacu pertumbuhan mikroorganisma, baik untuk perbaikan kondisi tanah. Sehingga, sangat penting untuk memastikan pelaku pertanian atau perkebunan bisa membuat arang sekam yang berkualitas dan berkuantitas.

Pembuat Arang Sekam, Saipul menjelaskan membuat arang sekam itu susah-susah mudah. Kalau caranya tidak tepat, yang ada arang sekam yang terbentuk akan setengah matang.
“Maksudnya, ada yang jadi arang, ada yang masih sekam segar. Atau bisa saja, malah terbakar semua hingga menjadi abu. Jadi, pembuatan arang sekam juga harus mempertimbangkan kualitas dan kuantitas,” kata Saipul saat ditemui di lokasi pembuatan arang sekam di Cariu, Jonggol Jawa Barat, Senin (28/6/2021).
Pertama yang harus dilakukan lanjutnya, adalah siapkan batok kelapa yang dipecahkan menjadi ukuran kecil, yang akan digunakan sebagai pemancing api.
“Karena pembuatan arang sekam ini sangat bergantung pada kondisi apinya, yaitu bara yang sempurna. Sehingga proses pemasakan arang sekam tidak akan lama,” urainya lagi.
Setelah itu, baru disiapkan sekam padi mentah. Dalam proses penyiapan, Saiful menegaskan untuk berhati-hati. Karena sekam padi ini akan menimbulkan rasa gatal pada kulit yang tidak akan hilang walaupun seseorang itu mandi.
“Sekam padi mentah itu kita tuang berbentuk gundukan. Di puncak gundukan itu, kita buat semacam kawah. Tapi jangan sampai dasar. Sisakan sekitar 3-4 cm sebelum lantai terlihat,” katanya sambil menunjukkan cara untuk membuat kawah pada gundukan sekam padi.
Dalam kawah tersebut, masukkan batok kelapa ke dalamnya dengan disusun seperti mangkok, yang bisa menampung minyak.
“Baru dimasukkan juga sabut kelapa dan siram minyak tanah atau minyak solar. Lalu bakar sabutnya. Setelah itu besarkan api dengan pecahan batok kelapa. Tujuannya adalah untuk membentuk api bara yang bagus,” tuturnya.
Biarkan api menyala hingga batok kelapa berubah menjadi arang pijar. Kalau sudah terbentuk arang pijarnya, baru letakkan cerobong yang terbuat dari pelat seng yang sudah dilubangi di sepanjang dinding pelatnya. Semakin banyak lobang, maka akan semakin bagus pula pembakarannya. Selanjutnya sekam padi yang di pinggir digeser ke tengah.
“Lubang pada cerobong itu lah yang akan membantu membakar sekam padi. Proses penimbunan cerobong ini perlu dilakukan dengan tepat, pucuknya di tengah dan sisinya sama tebalnya. Sehingga proses pemasakkan akan terjadi secara merata. Tidak ada lagi arang sekam yang setengah matang,” kata Saipul.
Ia menyatakan biarkan tumpukan sekam padi hingga apinya mati sendiri. Biasanya sekitar 3-4 jam. Tergantung pada kering atau tidaknya sekam, kondisi panas matahari dan angin di lokasi pembuatan arang sekam.
Kesempurnaan pembakaran arang sekam, bisa dilihat dari kondisi setelah api padam. Jika di puncaknya sudah hitam semua, atau hanya sekitar kurang dari lima persen saja yang tidak terbakar, itu biasa. Baru angkat cerobongnya dan lakukan pembongkaran.
“Kalau masih ada apinya, siram dengan air tapi jangan terlalu banyak. Cukup saja untuk memadamkan api,” ujarnya lagi.
Pembongkarannya pun harus dilakukan dengan hati-hati. Selain karena suhu arang sekam ini panas, juga karena abu yang halus gampang terbang ke atas.
“Jika sudah dibongkar secara rata, baru disiram lagi dengan air hingga basah dan tidak ada lagi asap yang keluar dari arang sekam. Setelah disiram, kembali aduk rata arang sekam ini. Karena akan ada bagian yang masih berupa bara. Kemudian lakukan penyiraman kembali, hingga tak terlihat asap lagi,” kata Saipul.
Setelah penyiraman kedua, kembali aduk untuk memastikan semua bara sudah mati. Jika memang masih ada, lakukan penyiraman. Setelah itu, lakukan pengadukan ulang.
“Kalau sudah benar-benar tidak ada lagi bara, baru dijemur di bawah sinar Matahari. Paling tidak sekitar dua hari. Baru setelah itu di packing atau langsung dipergunakan,” pungkasnya.