Pokdarwis Minangruah Bahari Jaga Kelestarian Penyu Perairan Bakauheni
Editor: Makmun Hidayat
LAMPUNG — Pentingnya melakukan konservasi kawasan perairan Pantai Minangruah terus dilakukan berbagai elemen masyarakat dalam melindungi penyu. Saiman Alex, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Minangruah Bahari, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan menyebut perairan laut setempat menjadi area migrasi dan habitat penyu.
Salah satu penyu yang kerap bertelur pada area berpasir Pantai Minangruah jenis penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Saiman Alex bilang kesadaran masyarakat dalam melindungi penyu hingga konservasi ikut mendukung jenis penyu dilindungi. Pada peringatan Hari Penyu Sedunia (World Turtle Day) setiap 16 Juni ia menyebut peran Pokdarwis menjaga penyu diwujudkan dalam sejumlah langkah konkrit.
Bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan swasta, dibuat lokasi penangkaran penyu. Lokasi penangkaran sebutnya berada di dekat habitat alami berpasir, dekat muara sungai dan terlindung dari gangguan. Upaya penyelamatan penyu sebutnya telah dilakukan sejak tahun 2017 ketika anggota Pokdarwis kerap menemukan penyu bertelur saat malam hari.
“Jumlah telur yang ditemukan pada kawasan pantai Minangruah sejak kurun 2017 hingga 2020 sudah mencapai ratusan butir telur, sebagian yang berhasil menetas menjadi tukik pada usia bisa eksis di alam bebas kita lepasliarkan, tahun 2021 ini belum ada telur biasanya bulan Juli hingga Agustus,” terang Saiman Alex saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (16/6/2021).

Saiman Alex menyebut Pokdarwis telah membentuk tim patroli pada musim penyu bertelur. Sebab saat masa migrasi, penyu dari perairan Gunung Krakatau dan perairan lain memilih mendarat di pantai Minangruah. Penyu mendarat dan bertelur sebutnya ketika suhu udara dingin dan saat bulan purnama. Area bertelur yang sekaligus kawasan wisata membuat pemindahan dilakukan ke area penangkaran agar tidak terinjak wisatawan.
Saiman Alex juga menyebut menjaga kelestarian habitat penyu dilakukan dari darat dengan tidak membuang sampah plastik. Pencemaran oleh plastik dan kondisi perairan yang tidak bersahabat kerap menjadi penyebab penyu jarang ditemui. Sosialisasi kepada nelayan tangkap memakai pancing, jaring apung dilakukan agar melepasliarkan kembali ke laut cegah kepunahan.
“Jenis penyu belimbing, sisik masih kerap dijumpai namun hanya pada bulan tertentu sehingga perlu dijaga kelestariannya,” ulasnya.
Pelepasliaran tukik yang berhasil menetas sebut Saiman Alex terakhir dilakukan pada Agustus hingga September 2020. Petugas patroli yang kerap berjaga malam hari sebutnya masih tetap melakukan pemantauan pada kawasan pasir untuk menemukan telur penyu. Perubahan iklim, kondisi perairan yang berubah sebutnya ditengarai jadi penyebab penyu belum mendarat untuk bertelur.
Ranta, salah satu anggota Pokdarwis Minangrua Bahari menyebut telur penyu kerap sulit ditemukan. Sebab sebagian penyu yang bertelur memilih lokasi yang tersembunyi. Namun patroli dilakukan saat malam hari untuk mengetahui alur kaki penyu menuju ke lokasi penyu bertelur. Memindahkan telur penyu ke lokasi penangkaran memiliki tingkat keberhasilan penetasan hingga 90 persen.
“Sebagian telur kerap tidak menetas namun tukik yang menetas akan dibesarkan hingga siap dilepasliarkan ke laut,” cetusnya.
Tertangkapnya penyu sisik secara tidak sengaja dialami oleh Bahrudin. Nelayan tangkap tradisional itu menyebut jumlah penyu di perairan Bakauheni tidak sebanyak dua puluh tahun silam. Ia mengaku penyu kerap ditemukan nelayan tersangkut jaring. Setelah ada sosialisasi jenis penyu dilindungi, nelayan langsung melepaskan ke laut saat tidak sengaja terkena jaring.
Penyu yang kerap tertangkap sebutnya pada bagian kaki kerap ada plastik tersangkut. Sampah plastik yang terbawa arus, banjir sungai menjadi polusi bagi penyu. Kelestarian penyu di kawasan Bakauheni sebutnya masih tetap berlangsung imbas keberadaan sejumlah pulau kecil. Pulau Mengkudu, Pulau Sindu, Pulau Prajurit dan pulau pulau kecil jadi tempat berlindung sejumlah penyu.