Panen Penyelang Buah Pala Menguntungkan Petani di Pesawaran

Editor: Maha Deva

LAMPUNG – Masa panen penyelang buah pala, di Kabupaten Pesawaran kali ini memberikan keuntungan untuk petani. Jamaluin, pekebun pala menyebut, tanaman pala yang ditanam sejak 2007 lalu, telah menghasilkan buah rempah-rempah tersebut.

Rata-rata, setiap pohon menghasilkan sekira 20 hingga 30 kilogram buah pala. Namun, proses pemanenan dilakukan secara bertahap. Jamaludin, petani di Desa Hurun, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran menyebut, budi daya buah pala baru dilakukan di 2007, dengan alasan harga fluktuatif. Sebagai pioner budi daya pala di desa tersebut, Jamaludin menanam lebih dari 40 batang. Dan saat ini  ia mulai mendapat hasil panen. dari Myristica fragrans yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi tersebut.

Saat masa panen penyelang, Jamaludin bisa mendapat hasil panen lebih dari dua kuintal. Hasil panen buah pala bisa dimanfaatkan bagian biji, kulit merah dan kulit pala. Sebagai tanaman berumah dua, petani harus bisa membedakan pohon jantan dan betina. Buah betina, yang ditanamnya mampu berbuah setelah usia lima sampai tujuh tahun. Dan telah memberi sumber penghasilan.

“Tanaman pala yang ditanam harus memiliki benih yang baik, sehingga mutu pohon berkualitas dengan hasil tanaman menghasilkan buah lebat, dengan percabangan yang banyak, sehingga hasil panen yang melimpah untuk dijual,” terang Jamaludin, saat ditemui Cendana News, Senin (14/6/2021).

Buah pala dikupas untuk mendapatkan kulit merah yang juga memiliki nilai ekonomis, – Foto Henk Widi

Budi daya tanaman pala, sebagai komoditas rempah, saat ini mulai banyak dikembangkan warga. Memanfaatkan lahan kebun di perbukitan, yang dekat dengan perairan Teluk Pandan, tanaman mampu berbuah dengan suhu udara pegunungan. Pola penanaman tumpang sari dengan kelapa, pisang, petai dan, jengkol, membuat petani bisa panen beragam komoditas perkebunan.

Pemanenan buah pala, dilakukan dengan memanjat memakai tangga. Buah yang sudah dipanen, kemudian di-sortasi, dilakukan pada buah tua yang ditandai kulit yang pecah. Selanjutnya dilakukan pengupasan kulit luar, untuk mendapat fuli atau biji tebal, yang berwarna merah tua, mengkilap. Kemudian dilakukan seleksi untuk mendapatkan biji cokelat tua, mengkilap, bulat dan besar, bebas hama dan penyakit, yang bisa dipergunakan sebagai bibit. “Selain menjual biji buah pala saya juga mulai mengembangkan benih dari proses perkecambahan, agar petani lain bisa menanam pala,” ujarnya.

Pada masa panen, yang dilakukan setiap tiga bulan sekali, Jamaludin mengaku puncak panen berlangsung di Desember. Meski tetap panen, saat panen penyelang, ia masih bisa mendapatkan hasil. Biji kering pala bisa dijual Rp50.000 hingga Rp80.000 perkilogram. Setiap kilogram biji pala, berisi 120 butir. Selain biji pala, bunga pala atau kulit merah, yang juga disebut Semprang, laku dijual seharga Rp220.000 perkilogram.

Pada masa panen penyelang, biji kering pala pada level petani dijual Rp48.000. Bagian bunga pala atau kulit merah, bisa dijual Rp220.000. “Bagian kulit segar buah pala, juga kerap digunakan sebagai bahan pembuatan manisan, lapisan kulit merah dan biji pala juga diolah jadi minyak atsiri,” terangnya.

Sebagai tanaman investasi jangka panjang, Jamaludin saat ini memiliki pokok atau pohon berusia 14 tahun. Tanaman pala masih bisa produktif hingga usia 100 tahun. Sebagai cara, agar tanaman tetap produktif, sebagian petani pekebun melakukan penyulaman tanaman. Penyulaman dilakukan pada pohon yang dinilai tidak produktif, dengan tanaman baru.
Hasil pertanian pala jadi sumber penghasilan bagi sejumlah warga. Antimah, salah satu wanita di Desa Hurun menyebut, usai panen dilakukan pengupasan. Sebagian wanita yang berjualan di pasar, bisa menjadikan buah pala sebagai sumber penghasilan dengan mengupas buah pala. Pohon yang produktif sebutnya bisa berbuah tiga kali dalam setahun sehingga jadi tabungan. “Saat ini tanaman pala jadi sumber penghasilan utama sekaligus sampingan selain kelapa, pisang dan duku,” terang Antimah.
Lihat juga...