Minat Budidaya Ikan Air Tawar Produktif Meningkat Kala Pandemi
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
LAMPUNG — Kebutuhan akan sumber protein hewani terus meningkat seiring waktu dan pemahaman, membuat budidaya ini makin digeluti. Terlebih dalam setahun terakhir, efek dari pandemi Covid-19, usaha tersebut semakin dilirik.
Ahmad Sumaryono, pemilik usaha pembenihan ikan sekaligus ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Way Muloh menyebutkan, salah satu alasannya, efek sejumlah warga ingin memiliki kesibukan.
Ahmad Sumaryono menyebutkan, budidaya ini juga memiliki berbagai keunggulan, yakni dapat memakai kolam tanah, kolam terpal, kolam semen. Jenis bibit ikan lele paling banyak diminati dengan usia pembesaran 3 bulan. Sementara itu, ikan nila dan gurame bisa dipanen 6 bulan.
“Saya sediakan bibit ukuran 5-7 cm yang bisa dipelihara untuk kebutuhan pasokan usaha pecel lele atau hanya untuk kesibukan harian,” ungkap Ahmad Sumaryono saat ditemui Cendana News, Senin (28/6/2021).
Ahmad Sumaryono menyebutkan, harga bibit ikan lele variatif sesuai ukuran. Namun umumnya bisa dijual saat ukuran 5-7 cm dengan harga Rp100. Jenis bibit ikan gurame ukuran yang sama bisa dijual mulai harga Rp5.000. Ikan nila dengan ukuran yang sama bisa dijual mulai Rp2.000.
Minat warga pada budidaya ikan air tawar meningkatkan permintaan bibit. Sebagai Kampung Tangguh Nusantara Ruwa Jurai, warga ingin menyediakan bahan lauk keluarga tanpa harus membeli.
“Awalnya bisa diberikan pelet atau pur setelah ukuran besar penghematan pakan bisa dilakukan dengan jenis pakan alternatif,” ulasnya.
Penyedia benih ikan di Desa Pasuruan, Lilik Totowisojo menyebut ia menyediakan jenis lele mutiara. Sebanyak 20.000 lebih benih bisa disediakan dari beberapa pasang indukan bersertifikat asal Cianjur. Sejumlah pemesan bibit kerap memesan mulai 1.000 ekor hingga 5.000 ekor sesuai kapasitas kolam.
Usaha pembesaran jadi pilihan warga. Sebab dengan modal kolam terpal, kolam semen budidaya bisa dijalankan. Bertambahnya toko penyedia pakan, obat ikan dan juga peralatan panen memudahkan warga.
“Saat ini jika ada peluang lokasi dan air lancar budidaya ikan cukup prospek untuk ekonomi,” bebernya.
Suyatinah dan Diantoro, memilih memakai kolam terpal untuk budidaya ikan lele. Sistem budidaya mudah dengan perawatan yang bisa dilakukan sembari melakukan pekerjaan lain tetap menghasilkan.
Suyatinah bahkan menyebut memelihara ikan lele membuat limbah makanan dari dapur bisa jadi bahan pakan ikan. Limbah dari penggilingan gabah bisa dikombinasikan dengan pakan lain menghemat pelet.

Diantoro, salah satu pembudidaya ikan lele dan nila menyebut memanfaatkan waktu memelihara ikan di kolam semen. Pemberian pakan bisa dilakukan selama tiga kali sehari hingga usia dua bulan. Setelah usia mendekati tiga bulan, jenis pakan alternatif bisa dipergunakan.
“Ikan lele yang dibudidayakan bisa dikonsumsi sendiri, sebagian untuk memasok warung makan,” cetusnya.
Sumino, pedagang pakan ikan dan unggas menyebut permintaan pakan pabrikan meningkat. Tren budidaya membuat stok pelet atau pakan ikan konsentrat pabrikan meningkat. Permintaan pembudidaya bisa mencapai puluhan kilogram hingga satu kuintal.
Tren budidaya ikan air tawar sebut Sumino didukung oleh pasokan air yang lancar. Sebagian warga memanfaatkan budidaya ikan dengan air dari sungai, sumur dan aliran sumber Gunung Rajabasa. Perputaran ekonomi munculnya usaha perikanan budidaya juga mendukung usaha penjualan pakan. Selain pakan ia juga menjual terpal dan alat serok untuk panen dan obat pembasmi hama pada kolam.