Ini Strategi Pedagang Onderdil Bekas agar Tetap Bertahan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Pandemi covid-19, berimbas pada semua sektor kehidupan. Termasuk pada tingkat penjualan onderdil bekas di Pasar Penggaron Semarang.

“Kondisi jualan sekarang ini memang sepi. Apalagi di Pasar Penggaron ini, bisa dibilang sebagai lokasi baru. Sebelumnya, para pedagang di sini berjualan onderdil bekas di kawasan Barito Semarang. Namun karena lokasi di sana terkena proyek pembangunan Banjir Kanal Timur, seluruh pedagang direlokasi ke sini,” papar Isdianto, salah seorang pedagang di Pasar Penggaron saat ditemui di sela berjualan di lokasi tersebut, Selasa (15/6/2021).

Isdianto, salah seorang pedagang di Pasar Penggaron saat ditemui di sela berjualan di lokasi tersebut, Selasa (15/6/2021). Foto: Arixc Ardana

Dirinya mengaku semenjak pindah lokasi, omzet penjualan onderdil bekas mengalami penurunan. Hal tersebut disebabkan letak Pasar Penggaron yang cukup jauh dari pusat kota Semarang.

“Hal ini juga semakin diperparah dengan pandemi covid-19. Jika awalnya masyarakat mencari onderdil bekas kendaraan, agar menghemat pengeluaran, kini semenjak ada pandemi, penghematan jadi dua kali karena kondisi ekonomi, usaha juga sedang tidak bagus,” tambahnya.

Meski demikian, pihaknya tetap berupaya untuk bertahan di tengah menurunnya daya beli konsumen, imbas dari pandemi covid-19 tersebut.

“Salah satunya saya menerapkan sistem bayar cicilan, dengan harga yang sama. Namun ini hanya berlaku untuk pelanggan setia, soalnya sudah terjalin relasi dan didasari rasa percaya,” terangnya.

Tidak hanya itu, dirinya juga rela jemput bola dengan mendatangi langsung konsumen, untuk mengatasi persoalan jarak.

“Biasanya saya kontak-kontakan dengan pelanggan, mau beli apa. Kalau barangnya ada saya kabari, dan kita bertemu di tengah-tengah. Kadang mereka tidak mau datang karena lokasi Pasar Penggaron ini di pinggiran kota, jadi saya yang mendatangi mereka,” terangnya.

Cara-cara tersebut sejauh ini cukup berhasil. Hal tersebut terbukti hingga sekarang ini, dirinya masih tetap bertahan dan berjualan onderdil bekas.

“Ya ini caranya agar bisa tetap bertahan,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan Ikhwan, pedagang onderdil bekas lainnya di Pasar Penggaron Semarang. Untuk mengatasi turunnya daya beli konsumen, di tengah pandemi covid-19, dirinya memanfaatkan penjualan secara online.

“Biasanya saya bikin status di whatsapp, kalau ada barang baru datang atau lagi banyak dicari. Nanti pembeli yang menghubungi. Kalau misalnya tidak bisa datang mengambil, ya barangnya dikirim. Kalau masih sekitar Semarang kota, saya antar sendiri sementara kalau jauh ya dikirim pakai paket,” ungkapnya.

Sistem pembayaran dua kali bayar juga diterapkannya, untuk menarik minat konsumen. “Temponya tidak lama, paling dua minggu. Namun setidaknya bisa meringankan pembayarannya, saya juga senang karena barang dagangan laku terjual,” terangnya.

Dirinya pun berharap, dengan cara-cara seperti ini, usaha onderdil bekas tersebut bisa tetap bertahan.

“Ya habis mau bagaimana lagi, ini satu-satunya mata pencaharian saya. Jadi bagaimana caranya bisa bertahan,” tandasnya.

Dalam kesempatan terpisah, Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, memaparkan untuk membantu meringankan beban para pedagang, termasuk di Pasar Penggaron, selama pandemi covid-19, pihaknya membebaskan pajak retribusi.

“Ini menjadi upaya kami, untuk membantu para pedagang bisa tetap bertahan, terus berjualan di tengah pandemi covid-19. Terkait Pasar Penggaron, kita juga akan lakukan penataan dan perbaikan sarana prasarana, termasuk jalan sehingga memudahkan pembeli yang akan datang,”pungkasnya.

Lihat juga...