Kena PHK Karena Covid-19, Pemuda ini Justru Sukses Jadi Pembudidaya
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
YOGYAKARTA — Setelah di-PHK akibat pandemi Covid-19, seorang pemuda asal Kulonprogo justru sukses merintis sejumlah usaha budidaya beromset jutaan rupiah setiap minggunya. Setidaknya ada 3 jenis usaha yang ia jalankan, mulai dari budidaya ulat hongkong, jangkrik hingga burung kicauan murai batu.
Agus Dwinanto (26), warga dusun Nglotak, Kaliagung, Sentolo, Kulonprogo. Kepada Cendananews menceritakan, ia merintis usahanya itu sekitar awal 2020 lalu. Tepatnya, seusai ia diberhentikan dari pekerjaan yang ia jalani sebelumnya yakni sebagai pekerja proyek.
“Akibat pandemi Covid-19, saya terkena PHK. Saat itu saya hanya diberi pesangon 1 kali THR. Lalu saya berpikir mengunakan pesangon itu untuk memulai usaha. Saya sempat berpikir untuk memulai budidaya lele, atau cacing. Namun akhirnya saya memilih budidaya ulat hongkong,” ungkapnya, Selasa (18/05/2021).
Dengan modal yang pas-pasan, Agus pun memulai usaha pertamanya itu. Ia mengaku memiliki usaha budidaya ulat hongkong karena cukup mudah serta membutuhkan modal yang minim. Selain belajar lewat video YouTube, Agus juga mengaku belajar langsung dari para peternak yang ada di daerah sekitarnya.
“Sambil belajar budidaya sendiri, saya juga ambil ulat hongkong yang diproduksinya teman peternak, untuk kemudian saya jual secara keliling. Kebetulan saya juga hobi burung. Jadi punya banyak teman yang membutuhkan pakan. Mereka itulah yang saya setori setiap hari,” katanya.
Berkat ketekunannya, usaha budidaya Agus pun mulai berjalan. Untuk menambah modal ia pun mengaku harus mengajukan pinjaman atau kredit ke bank sebanyak Rp10 juta. Namun siapa sangka, ternyata hanya dalam waktu 6 bulan saja, kredit itu langsung bisa ia lunasi murni hari hasil keuntungan usahanya.
“Setelah usaha budidaya ulat hongkong bisa berjalan, saya lalu ingin mencoba budidaya burung murai batu. Namun karena tidak punya modal, saya pun harus membeli burung murai batu dengan cara dicicil. Cicilnya tidak pakai uang, tapi pakai sistem barter dengan pakan berupa ulat hongkong dan jangkrik,” jelasnya.
Setiap hari, selama hampir tiga bulan, Agus pun lalu menyetorkan pakan pada salah seorang temannya pembudidaya burung murai batu. Dari situlah ia akhirnya bisa memiliki 4 ekor anakan senilai Rp2,7juta. Yang kemudian ia pelihara hingga dewasa.
“Karena harus menyetor jangkrik setiap hari sebagai syarat barter burung murai, saya akhirnya mulai belajar budidaya. Sama seperti ulat Hongkong, saya pun awalnya juga hanya mengambil jangkrik dari peternak senior untuk kemudian saya jual keliling,” ungkapnya.
Kini usaha budidaya ulat Hongkong serta jangkrik Agus telah berjalan. Ia bahkan memiliki sejumlah petani yang rutin menyetorkan hasil produksinya. Setiap minggunya Agus setidaknya bisa menjual ulat hongkong sebanyak 60 kilo dengan nilai jual 36-40 ribu rupiah per kilo. Sedangkan untuk jangkrik ia mampu menjual sampai 20 kilo per minggu dengan nilai jual 30-35 ribu rupiah per kilo.
“Setelah memelihara burung murai batu, saya jadi sering ke tempat-tempat latihan burung kicauan. Dari situ saya jadi punya banyak kenalan para pemain ataupun peternak burung murai batu. Mereka-mereka itu lah yang akhirnya menjadi pelanggan, untuk saya setori pakan ulat Hongkong serta jangkrik setiap hari. Saat ini ada sekitar 30-an peternak burung murai yang jadi pelanggan saya,” ungkapnya.
Berawal dari 4 ekor anakan burung murai batu yang ia barter dengan ulat Hongkong serta jangkrik, kini Agus telah memiliki sebanyak 4 pasang burung murai batu dewasa yang ia tangkarkan. Satu ekor pasang murai batu miliknya bahkan sudah mampu menghasilkan dua ekor anakan dengan nilai jual Rp1-1,2 juta per ekor.
Dari hasil jerih payahnya itu, bapak satu anak ini juga telah mampu membangun rumah sederhana yang ia manfaatkan untuk kandang budidaya burung murai batu, jangkrik serta ulat Hongkong.
“Ke depan saya ingin membesarkan usaha budidaya burung murai batu ini. Karena selain sudah hobi, untungnya juga lumayan. Meskipun saya tetap menjalani usaha budidaya jangkrik dan ulat Hongkong. Karena bagaimanapun untuk bisa budidaya burung murai batu saya tetap butuh pakan jangkrik dan ulat hongkong. hitung-hitung, tidak perlu membeli,” pungkasnya.