Mengenal Intermittent Fasting Diet, yang Lagi Digandrungi Wanita
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
JAKARTA — Intermittent Fasting Diet mungkin lebih digemari para pelaku diet, walaupun baru saja diperkenalkan. Karena lebih tidak memberatkan pelaku diet dan sistemnya mirip dengan kegiatan berpuasa yang dijalani oleh penganut agama tertentu.
Spesialis Gizi Klinik RS Pondok Indah, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, SpGK, menyatakan dasar pemikiran dari Intermittent Fasting Diet adalah tahapan pemecahan jaringan gula karena tidak mengkonsumsi apapun dalam waktu minimal tiga jam dan setelah pemecahan jaringan gula, maka selanjutnya akan menyasar jaringan lemak.
“Sistemnya lebih diterima karena tidak ada pembatasan dalam jenis makanan hanya pengaturan waktu makan. Metodenya pun terserah para pelaku diet. Selama masa tidak makan, para pelaku diet juga masih boleh minum air putih,” kata dr Lita demikian ia akrab dipanggil, saat dihubungi, Jumat (12/3/2021).
Ia menyebutkan ada tiga metode yang dapat dipilih dalam Intermittent Fasting Diet, yaitu 5:2, 24 jam dan time restricted.
“Dalam metode 5:2, para pelaku diet akan menjalani 5 hari dalam satu minggu dengan sistem makan seperti biasa. Tapi pada dua harinya, hanya memakan 25 persen dari total kalori di hari normal. Sekitar 500-600 kalori,” urainya.
Metode kedua, yaitu 24 jam dijalankan pelaku diet dengan cara tidak makan selama 24 jam, selama 3 hari dalam seminggu dalam hari yang tidak berurut.
“Untuk metode time-restricted, para pelaku diet dapat mengkonsumsi kalori antara 8-12 jam per hari. Tapi selama 12-16 jam selanjutnya, tidak makan sama sekali,” urainya lebih lanjut.
Lita menyebutkan Intermittent Fasting Diet ini dinilai efektif untuk jangka waktu pendek. Misalnya, bagi orang yang ingin menikah dan ingin menurunkan berat badan. Tapi, memang untuk awalnya, butuh waktu menyesuaikan jadwal makan dan tidak makan ini.
“Tingkat drop outnya lebih dari 25 persen. Karena memang tidak mudah untuk menjalankannya. Tapi untuk orang yang susah berpantang makanan tertentu, diet cara ini lebih cocok,” ucapnya.
Penurunan masa lemak, lanjutnya, pada sistem diet ini bisa mencapai 2,5 persen hingga 9,9 persen. Tapi, sangat tidak dianjurkan bagi penderita diabetes, karena berpotensi menyebabkan hipoglikemia.
“Penelitian dilakukannya diet ini dalam jangka panjang belum ada. Yang paling lama, dilakukan dalam rentang dua tahun. Sehingga belum diketahui apa dampak dalam periode yang lebih dari dua tahun,” ucapnya lagi.
Tapi dengan penurunan massa otot, yang menyebabkan energy expenditure menurun artinya energy balance akan mengarah ke positif. Artinya, potensi untuk mengalami kenaikan berat badan lagi akan lebih gampang.
“Untuk beberapa kasus kondisi tubuh, sebaiknya berkonsultasi dulu dengan ahli medis sebelum melaksanakan diet ini. Jangan lupa, bahwa selama diet, harus tetap melakukan aktivitas ringan. Tak perlu olahraga berat, yang penting rutin,” pungkasnya.