Lada Perdu Potensial Dikembangkan di Lahan Terbatas dengan ‘Polybag’

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Pemanfaatan pekarangan untuk budidaya komoditas pertanian jenis lada perdu cukup menghasilkan. Potensi tersebut dilirik Leginah, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan yang mengembangkan komoditas rempah tersebut.

Ia bilang telah mengembangkan lada perdu sejak beberapa tahun silam. Sebagian tanaman diperbanyak dalam media polybag.

Tanaman lada atau piper nigrum menurut Leginah diperlukan untuk penyedap makanan. Semula ia mendapatkan bibit dengan membeli dari tempat pembibitan sebanyak 10 tanaman. Budidaya lada di pekarangan sebutnya tidak memerlukan lahan luas. Berbeda dengan varietas lada merambat yang banyak dikembangkan petani, lada yang ditanam olehnya membentuk perdu.

Bibit tanaman lada perdu sebutnya ditanam pada media tanam polybag kecil. Saat mulai membentuk perdu dalam jumlah banyak ia memindahkan ke polybag ukuran besar. Sebagian di pindah dalam tanah tepat pada tanaman kakao sebagai naungan. Melalui proses perbanyakan sistem stek ia kini memilih puluhan tanaman. Ia bilang lada perdu bisa tumbuh pada dataran rendah.

“Lada perdu berbuah sepanjang tahun bahkan setiap tanaman menghasilkan buah yang tidak berbarengan artinya dalam satu tanaman ada yang tahap berbunga, berbuah muda hingga matang namun dalam setahun panen besar dua kali sekitar Mei dan November sehingga bisa mencukupi kebutuhan harian,” terang Leginah saat ditemui Cendana News, Senin (8/3/2021).

Menanam puluhan bibit lada perdu dilakukan Leginah, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menghasilkan rata-rata 300 gram setiap tanaman, Senin (8/3/2021). -Foto Henk Widi

Harga lada di pasar tradisional yang mencapai Rp60.000 lebih sebutnya membuat budidaya lada perdu menggiurkan. Leginah bilang setiap tanaman menghasilkan buah bervariasi sesuai kelebatan batang. Rata rata setiap tanaman bisa menghasilkan 100 gram maksimal 300 gram. Hasil panen secara berkelanjutan dari puluhan tanaman bisa mendapat 5 hingga 6 kilogram.

Agar kesuburan tanaman tetap stabil Leginah menyebut memberi pupuk kompos. Pupuk dasar tersebut masih akan ditambah pupuk perangsang buah dan perangsang batang. Meski memiliki lahan terbatas ia mengaku setidaknya bisa menghemat pengeluaran. Sebab tanpa harus membeli ia bisa menghemat ratusan ribu uang belanja bumbu dapur. Perbanyakan bibit dilakukan sang anak yang pernah mengenyam kuliah jurusan pertanian.

“Saya mengisi kesibukan merawat tanaman dengan menyiram, memberi pupuk dan memanen, untuk perbanyakan dilakukan putera bungsu,” cetusnya.

Dedek, sang putera bungsu Leginah menyebut menanam lada di pekarangan cukup efektif. Ia memilih alternatif membeli bibit dari penjual yang dipastikan telah berbuah. Kala itu ia menyebut perpolybag dibeli seharga Rp15.000. Selanjutnya ia melalukan perbanyakan dengan stek batang primer. Sistem stek bertapak dilakukan dengan memasang gelas plastik berisi kompos.

“Cabang primer dan sekunder yang memiliki akar dibenamkan pada gelas plastik berisi tanah, jika akar berkembang bisa dipisahkan dari indukan,” bebernya.

Selain pupuk, Dedek bilang pengendalian hama dilakukan agar tidak menghambat pertumbuhan. Jenis hama yang kerap menyerang berupa busuk pangkal batang, penyakit kuning dan hama walang sangut. Ia memilih melakukan penanganan dengan agen hayati dan insektisida kimia menghindari kerugian. Bibit yang telah berusia satu tahun menurutnya berpotensi menghasilkan buah sepanjang tahun ditandai kulit buah kuning.

Suyatinah, warga di desa yang sama mengaku belajar budidaya lada perdu. Menggunakan sistem stek batang ia memilih media tanam kemasan plastik. Sistem tersebut dikombinasikan dengan penanaman pada media tanah. Budidaya lada perdu menurutnya sangat potensial dikembangkan pada pekarangan. Meski lahan terbatas hasil ratusan gram lada membuat ia tak lagi membelinya di pasar.

Setelah buah menguning pada bagian kulit panen dilakukan. Buah akan dijemur untuk proses pengeringan dan mengelupaskan kulit. Agar lebih awet lada atau dikenal merica disimpan pada wadah kedap udara. Bumbu dapur tersebut mampu bertahan hingga setahun sehingga bisa dipakai sewaktu waktu. Berbagai jenis kuliner tradisional kerap memakai lada sehingga ia bisa memenuhi kebutuhan dari pekarangan.

Lihat juga...