Hitam Pekat Khas Rawon Semanggi Menggugah Selera
Editor: Makmun Hidayat
JEMBER — Masakan kuliner rawon semanggi di Jember, Jawa Timur, memiliki daya tarik tersendiri bagi pembeli. Warnanya yang hitam pekat begitu khas.
Umi, penjual rawon semanggi mengatakan, dirinya merupakan generasi ke-3 yang menjalankan usaha kuliner rawon semanggi. Racikan bumbu rawon, sebutnya, merupakan dari hasil turun temurun yang di sukai banyak pembeli.
“Perbedaan antara rawon di tempat saya dengan di tempat orang lain karena warnanya yang berbeda. Bila dilihat kuahnya nampak seperti warna hitam pekat, tapi di tempat lain warnanya tidak sehitam di sini,” ujar pemilik kuliner rawon semanggi, Naumi Handayani kepada Cendana News, di bilangan Jalan Bedadung, Kecamatan Sumbersari, Jember, Sabtu (13/3/2021).
Cara pembuatan rawon semanggi terbilang cukup unik, pemilik kuliner menyatakan memberikan tambahan bumbu dapur keluek sehingga warnanya berbeda dengan yang lain.
“Memberi tambahan bumbu keluek yang sebenarnya membuat warnanya hitam pekat. Untuk bumbu yang digunakan sebagai bahan dasar terdiri dari bawang putih, bawang merah, kencur, penyedap rasa, bawang daun dan tambahan bumbu lain-lain,” tambahnya.
Menurutnya, kuah dari rawon yang digunakan setiap hari selalu baru, tidak pernah menggunakan kuah yang sudah pernah dimasak pada hari kemarin.
“Kalau menggunakan bahan yang sudah di masak kemarin rasanya sudah tidak enak lagi,” ucapnya.

Untuk menjaga kualitas rasa, ia selalu menggunaan sajian masakan yang terbaru. “Setiap jam 2 dinihari saya sudah mulai menyiapkan bahan-bahannya, kemudian dilanjutkan dengan memasaknya langsung. Karena setelah salat subuh, saya sudah mulai buka kembali dagangan saya ini,” tandasnya.
Umi, begitu ia disapa karib, adalah generasi ke-3 dari pemilik kuliner rawon semanggi . Usaha masakan kulinernya dijalankan secara turun menurun, berdiri sejak 1996. “Nenek saya pertama kali memulai usaha di sekitaran rumah sakit di Jember,” bebernya.
Umi menambahkan, pada awal mula buka usaha kuliner, lebih dikenal oleh kalangan yang berprofesi sebagai tukang becak. Pada waktu itu harganya dikenal cukup murah. Harga satu piring nasi rawon di banderol dengan harga Rp100, sedangkan saat ini satu piring nasi rawon seharga Rp5 ribu.
Usaha masakan kuliner yang sudah dijalani sejak puluhan tahun yang lalu semakin banyak diminati kalangan mahasiswa. Selain cita rasanya yang khas harganya juga cocok bagi kantong mahasiswa.
“Dari dulu itu harga makan di sini tidak pernah dinaikkan walaupun pembeli yang datang semakin bertambah,” katanya.
Menurutnya, tidak masalah harganya murah dan untungnya tidak begitu banyak, tapi yang terpenting berkah dan pengunjung yang datang menyukainya.
Ria Anggraini, salah satu pembeli, mengatakan dirinya diberitau oleh temannya di kampus kalau ada kuliner nasi rawon enak dan murah. Sejak saat itu dia dengan temannya mendatangi tempat tersebut.
“Pertama kali saya tahu tempat ini dari teman saya di kampus. Waktu itu sekitar tahun 2015, saat saya masih menjadi mahasiswa sudah tidak asing dengan nasi rawon semanggi,” ucapnya.
Menurut pengakuan Ria, masakannya enak, murah dan dekat dengan kampus. Cocok sekali dengan kantong mahasiswa.