Ramah Lingkungan Jadi Orientasi Warna Batik 2021

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Perkembangan industri tekstil dan fashion, tak pernah bisa lepas dari tren warna dan motif. Begitu pula halnya, dengan batik. Tren warna dan motif batik pun menyesuaikan dengan orientasi kehidupan saat ini, yaitu ramah lingkungan dan bergaya hidup sehat.

Peneliti Seni Tekstil Irfa’ina Rohana Salma saat menjelaskan tren warna dan motif batik 2021, dalam acara Tren Batik, Selasa (19/1/2021) – Foto Ranny Supusepa

Peneliti Seni Tekstil, Irfa’ina Rohana Salma menyebutkan, penentuan warna dan motif adalah suatu hal umum dalam branding suatu produk.

“Tidak hanya di dunia fashion. Tapi juga di industri lainnya, seperti di properti. Karena warna memegang peranan penting secara psikologis dan sosiologis. Seperti saat ini, tren warna mengacu pada warna sejuk yang ramah lingkungan dan motifnya merefleksikan kondisi pandemi,” kata Irfa dalam talkshow online Tren Warna Batik, Selasa (19/1/2021).

Tren, lanjutnya, merupakan suatu proses yang akan mempengaruhi perubahan fisik dan estetis dalam kebudayaan. Sifatnya ada yang emosional, intelektual dan spiritual.

“Untuk tahun ini, Pantone, yang merupakan kiblat warna dunia mengeluarkan lima warna yang diperkirakan akan menjadi tren warna 2021. Yaitu, Marigold yang merupakan perpaduan kuning dengan efek oranye, Green Ash dengan tampilan hijau tipis, French Blue atau yang lebih dikenal dengan nama classic blue, Cerulean dan Burnt Coral,” ucapnya.

Tren warna ini, ujar Irfa, mengacu pada tren global. Yaitu gaya hidup sehat dan ramah lingkungan. Penggunaan pewarna alami akan menjadi nilai lebih dari suatu produk.

“Indonesia sebagai negara yang kaya akan wastra akan berpotensi menjadi industri ramah lingkungan atau industri hijau dalam hal pewarnaan alam,” tuturnya.

Untuk style, tahun ini gaya over size dan muslimah wear dengan permainan warna masih akan menjadi patokan fashion.

“Ditambah dengan pengembangan tren masker, menuju ke arah yang lebih fashionable dan akan bermain diberbagai jenis kain dan motif serta menjadi produk yang menjual seiring dengan upaya konsumen untuk mencocokkan masker dengan outfit-nya,” ungkapnya.

Motif batik Indonesia akan mengarah pada tematik kedaerahan dan icon Indonesia sebagai dampak adanya pembinaan batik ke seluruh Indonesia dan juga karena pengakuan UNESCO pada wayang, keris dan noken.

“Motif tumbuhan pun akan muncul sebagai tren sebagai perwujudan doa atau harapan sehat dan tetap tumbuh selama pandemi. Begitupula motif Corona, baik Corona yang berdiri sendiri maupun dipadukan dengan motif kontemporer,” kata Irfa.

Contohnya, batik Dongaji yang memunculkan motif Corona dan menuai pesanan dari konsumen dalam dan luar negeri.

“Dengan menggunakan pewarna alam, para pengrajin batik bisa mengeksplorasi perpaduan bahan alam untuk merujuk pada tren warna. Misalnya, Marigold yang menggunakan campuran tengeran 4 atau 5 bagian dan seucang 1/2 bagian, yang dimasukkan sedikit demi sedikit,” paparnya.

Untuk Blue Classic bisa menggunakan indigo, Cerulean menggunakan indigo dengan konsentrasi encer atau bisa dicampur dengan jolawe untuk efek hijau.

“Burnt Coral bisa menggunakan Seucang dan Green Ash bisa menggunakan daun mangga,” ujarnya.

Warna dark masih digunakan sebagai pengkontras pada outfit. Black bisa menggunakan campuran jolawe dan kulit kayu tingi dengan fiksasi tanjung. Sementara Dark Brown bisa menggunakan kayu tingi tunggal dengan fiksasi tawas.

“Contohnya, batik Tulungagung yang memiliki pakem khas, bisa memadukan warna alam dengan menggunakan seucang untuk menimbulkan warna Marigold, baik untuk motif maupun warna dasar. Tinggal ditentukan dalam proses aplikasi warna,” pungkasnya.

Lihat juga...