Kebersihan Lingkungan Efektif Cegah DBD Kala Musim Hujan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Upaya pemerintah mengatasi penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) terus dilakukan. Memasuki penghujan dengan potensi genangan jadi tempat berkembangnya jentik nyamuk penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD), kebersihan lingkungan jadi perhatian.

Samsu Rizal, Kepala UPT Puskesmas Rawat Inap Ketapang, Lampung Selatan, menyebut, masyarakat harus waspada virus DBD dan Covid-19.

Samsu Rizal, Kepala Unit Pelaksana Teknis Puskesmas Rawat Inap Ketapang di Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, Jumat (29/1/2021) – Foto: Henk Widi

Menjaga kesehatan fisik personal sebut Samsu Rizal, sama pentingnya dengan menjaga kebersihan lingkungan komunal. Gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tetap jadi prioritas Puskesmas kala penghujan.

Pencegahan penyakit DBD oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti efektif dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan.

Kebersihan lingkungan yang efektif sebutnya dengan membersihkan saluran air yang menggenang. Saat penghujan potensi sampah plastik, kaleng, ember berpotensi menjadi genangan tempat berkembang jentik nyamuk.

Kesiagaaan masyarakat secara personal dan komunal sangat penting dengan menguras, mengubur dan menutup sehingga tidak ada jentik nyamuk penyebab DBD.

“Penyuluhan pencegahan DBD masih terus digencarkan meski masa pandemi Covid-19 dengan mengaktifkan peran serta pelaksana program promosi kesehatan, mengaktifkan peran tugas juru pemantau jentik yang juga bisa dilakukan mandiri oleh setiap pemilik rumah,” terang Samsu Rizal saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (29/1/2021).

Kebersihan lingkungan kala musim pancaroba sebutnya, efektif cegah penyakit DBD. Meski angka insiden (AI) DBD pada awal tahun masih nihil namun antisipasi perlu dilakukan.

Kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan melibatkan unsur desa hingga kecamatan. Fokus Puskesmas Ketapang sebutnya pada wilayah pesisir pantai timur dan pulau berpenghuni.

Saat penghujan potensi genangan sebutnya kerap terjadi di desa-desa tepi pantai. Desa tersebut meliputi Ruguk, Legundi, Berundung, Pematang Pasir hingga Desa Bandar Agung.

Intensitas hujan tinggi sebutnya kerap disertai banjir. Sejumlah sungai di Ketapang yang banjir membawa material sampah.

“Sampah plastik bisa menjadi tempat untuk berkembang jentik, selain itu penyakit leptospirosis saat banjir, gatal-gatal hingga diare,” tegasnya.

Peran masyarakat menjaga kebersihan sebut Samsu Rizal, ikut mencegah munculnya beragam penyakit salah satunya DBD.

Selain bidan desa sejumlah petugas Jumantik wajib melakukan pemeriksaan epidemiologis pada rumah warga. Kala masa pandemi Covid-19 kader Jumantik cukup memantau rumah warga melalui aplikasi WhatsApp. Pemilik rumah bisa diimbau via WA dan diminta melakukan pembersihan bak mandi.

Desi Novita, bidan Desa Sumur di pulau Rimau Balak menyebut, sosialisasi pencegahan DBD rutin dilakukan. Sebagian warga sebutnya telah memiliki tingkat kesadaran tinggi dalam upaya pencegahan penyakit oleh nyamuk tersebut.

Warga yang memiliki bak penampungan air sebutnya telah dianjurkan untuk rutin mengganti air. Pemeriksaan jentik bisa dilakukan memakai senter.

“Saat ditemukan jentik bisa dikuras, sebagian warga kreatif dengan memelihara ikan cupang dan ikan pemangsa jentik,” bebernya.

Program pengasapan afau fogging sebutnya seminimalisir mungkin dilakukan. Sebab fogging hanya dilakukan saat sebuah wilayah telah terdapat warga terkena DBD.

Cara efektif dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan. Sejumlah pemilik kolam dan potensi genangan air saat penghujan bisa dimanfaatkan untuk memelihara ikan.

Selain pencegahan DBD bidan Desi Novita menyebut, pencegahan Covid-19 terus digencarkan. Aktivitas masyarakat sebutnya dilakukan dengan tetap menjaga protokol kesehatan.

Penggunaan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak mutlak dilakukan. Memasuki musim penghujan yang menurunkan daya tahan tubuh konsumsi makanan sehat dilakukan untuk menjaga stamina tubuh.

Lihat juga...