Banjir Sebabkan Masa Tanam di Purbalingga Tahun Ini, Mundur

Editor: Koko Triarko

PURBALINGGA – Ratusan hektare tanaman padi di Kabupaten Purbalingga, tergenang banjir dan sebagian tertimbun lumpur. Hal ini berdampak pada mundurnya masa tanam akhir 2020 ini dan masa panen tahun depan.

Dari pendataan yang dilakukan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) di kecamatan-kecamatan, lahan pertanian yang terendam banjir antara lain di Desa Penolih dan Cilapar, Kecamatan Kaligondang, berupa lahan sawah sedang dalam pengolahan dan persiapan pembuatan persemaian.

Kepala Dinas Pertanian Purbalingga, Mukodam, di kantornya, Senin (7/12/2020). -Foto: Hermiana E. Effendi

Selain itu, di Kecamatan Kemangkon hampir semua desa terdampak banjir.  Antara lain di Desa Karangtengah, tanaman padi seluas 3 hektare dan lahan pesemaian untuk tanaman padi seluas 160 hektare terendam, kemudian di  Desa Pelumutan, lahan persemaian untuk tanaman padi seluas 30 hektare juga terendam, Desa Gambarsari lahan seluas 25 hektare, dengan tanaman padi masih berumur 1-15 hari dan masih banyak lainnya.

Kepala Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga, Mukodam, mengatakan meskipun lahan pertanian yang terendam mencapai ratusan hektare, ia meyakini tidak akan mempengaruhi stok pangan Purbalingga. Sebab, lahan yang tergenang bukan merupakan lahan tanaman padi siap panen, melainkan lahan yang masih dalam tahap pengolahan dan persemaian.

“Tidak sampai mempengaruhi stok pangan Purbalingga, kalau lahan yang baru persemaian rusak karena tertimbun lumpur yang dibawa luapan air sungai, maka petani harus melakukan persemaian ulang dan dampaknya pada mundurnya masa tanam dan panen saja,” terang Mukodam, kepada Cendana News, Senin (7/12/2020).

Sementara itu, Kepala BPP Kecamatan Kemangkon, Nanieq Istikomah, mengatakan total ada 18 desa dari 19 desa di Kecamatan Kemangkon yang terdampak banjir. Sedangkan tanaman budi daya yang dominan terendam adalah padi, sayuran dan buah buahan.

“Jadi tidak hanya tanaman padi yang terendam, tetapi juga sayuran serta buah-buahan, dan sebagian besar memang rusak, karena terendam cukup lama,” tuturnya.

Untuk tanaman buah dan sayur yang turut terendam banjir antara lain di Desa Senon, berupa tanaman kedelai hotam lokal yang berusia sekitar 30-40 hari serta 5 hektare tanaman jambu kristal, pepaya dan singkong. Kemudian di Desa Sumilir tegalan seluas 48 hektae yang ditanami porang, jambu kristal, pepaya, cabai, jagung serta terung dan di Desa Kedungbenda tanaman kedelai seluas 3 hektare, jagung seluas 6 hektare, cabai 1 hektare serta tanaman pepaya dan jambu kristal seluas 2 hektare.

“Kondisi tanaman sebagian besar mengalami kerusakan, namun ada juga beberapa yang masih bisa dipetik buahnya, seperti pepaya,” pungkasnya.

Lihat juga...