Kakao Manokwari Selatan Berkualitas Premium

Kakao, ilustrasi -Dok: CDN

MANOKWARI – Kualitas produksi kakao dari Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, masuk katagori premium. Hal itu membuat Pemerintah Provinsi Papua Barat mendorong upaya peningkatan produksi komoditas tersebut.

Peningkatan produksi dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan ekspor biji kakao kering dari Kabupaten Manokwari Selatan. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Papua Barat, Jacob Fonataba mengutarakan, pembeli di sejumlah negara terutama wilayah Eropa, sudah mengajukan permintaan.

Namun, permintaan tersebut belum bisa dipenuhi, karena produksi kakao di Manokwari Selatan masih minim. “Kita punya kakao di Manokwari Selatan ini kualitas premium, sehingga peminatnya banyak baik pembeli di dalam maupun luar negeri,” ungkap Fonataba, Kamis (26/11/2020).

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Papua Barat, Jacob Fonataba, dalam sebuah acara di Manokwari, Kamis (26/11/2020) – Foto Ant

Secara keseluruhan, perkebunan kakao di Manokwari Selatan adalah bekas lahan operasi PT Coklat Ransiki. Luasnya mencapai sekira 1.800 hektare. Dan tercatat saat ini baru sekira 200 hektare yang intens berproduksi. “Perkebunan itu sudah bertahun-tahun tak dikelola, karena perusahaan macet. Beberapa tahun terakhir masyarakat bersama pemerintah kabupaten mulai berinisiatif untuk mengelola kembali dengan membentuk koperasi,” jelasnya.

Sejak koperasi berdiri, secara bertahap perkebunan mulai terkelola kembali. Bahkan saat ini, sudah rutin melakukan pengiriman ke Surabaya. Bahkan, sudah beberapa kali koperasi Eiber Suth melakukan ekspor ke Inggris.

Saat ini, koperasi serta petani kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar, baik di dalam maupun luar negeri. “Untuk itu Pemprov akan terus menerus mendorong melalui program pengembangan serta pengadaan sarana prasarana pertanian. Koperasi dan petani sangat butuh dan di sisi lain bapak gubernur menginginkan produksi kakao Ransiki terus digenjot,” jelasnya.

Di 2020, Pemprov Papua Barat maupun pemerintah pusat, sudah membantu masing-masing 50 hektare program peremajaan. Di 2021 program serupa akan kembali dilaksanakan. Sedangkan untuk APBD 2021 Papua Barat, sudah direncanakan untuk mengajukan program pengembangan kakao Manokwari Selatan seluas 100 hektare.

Jacob menambahkan, saat ini koperasi Eiber Suth Ransiki sudah melakukan pengiriman secara rutin dua kali dalam sebulan ke Surabaya, dengan jumlah kiriman maksimal 12 ton kakao kering. “Kalau 1800 hektare itu semua sudah beroperasi, kita yakin produksinya akan meningkat drastis. Produksi 200 ton perbulan pasti bisa dicapai, bahkan bisa lebih lagi,” pungkas Jacob Fonataba. (Ant)

Lihat juga...