Budidaya Sapi Perah, Maryani Kantongi Ratusan Ribu per Hari

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Meski berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB), wilayah lereng gunung Merapi Cangkringan Sleman memiliki potensi yang sangat besar di sektor peternakan. Salah satu jenis usaha yang banyak dikembangkan di kawasan ini adalah budidaya sapi perah.

Salah seorang peternak sapi perah di kawasan lereng gunung Merapi, asal dusun Kalitengah Kidul Glagaharjo Cangkringan Sleman Yogyakarta, Maryani. Foto: Jatmika H Kusmargana

Memiliki lahan yang sangat luas serta subur akibat adanya endapan material vulkanik gunung Merapi, wilayah Cangkringnan khususnya desa Glahahhararjo, begitu kaya akan rumput ilalang. Hal inilah yang membuat warga memanfaatkannya sebagai pakan ternak dan menjalankan usaha budidaya.

Salah seorang peternak sapi perah asal dusun Kalitengah Kidul, Glagahharjo, Cangkringan, Maryani memulai usaha ternaknya dari nol pasca erupsi besar Merapi tahun 2020 lalu. Berawal dari memelihara ternak milik orang lain dengan sistem gaduh, kini ia telah memiliki 6 ekor ternak miliknya sendiri.

“Dulu saat erupsi tahun 2010 rumah saya kena. Ternak juga habis semua. Setelah itu saya memulai usaha lagi. Dari awalnya gaduh sapi orang, sekarang sudah punya 6 sapi sendiri dengan 3 ekor sapi produktif,” ungkapnya kepada Cendana News belum lama ini.

Menurut Maryani, usaha ternak sapi perah cukup menguntungkan. Karena selain bisa mendapatkan hasil berupa anakan yang dipanen setiap setahun sekali, ia juga bisa mendapatkan hasil dari menjual susu sapi yang bisa dipanen setiap hari. Sehingga keuntungan yang didapat pun menjadi ganda.

“Satu ekor sapi perah produktif bisa menghasilkan 20-25 liter setiap hari. Satu liter susu sapi sendiri laku dijual 5-6 ribu rupiah. Sehingga jika memiliki 3 ekor sapi produktif kita bisa mendapatkan pemasukan kotor hingga mencapai 300-450 ribu rupiah per hari,” ungkapnya.

Tingginya produksi susu sapi yang dihasilkan para peternak tak bisa dilepaskan dari asupan makanan sapi yang kaya akan hijauan setiap hari, baik itu rumput odot atau kolonjono, yang memang bagus untuk produksi susu sapi. Selain itu para peternak juga rutin memberikan pakan tambahan berupa polar atau konsentrat.

“Untuk anakan sapi bisa dipanen setiap setahun sekali. Anakan sapi berusia sekitar 4-6 bulan laku dijual sekitar Rp5 juta,” katanya.

Lihat juga...