Wolbachia Harus Terus Disebar Cegah Demam Berdarah
Editor: Koko Triarko
YOGYAKARTA – Entomolog sekaligus peneliti UGM yang tergabung dalam Word Mosquito Program (WMP) Yogyakarta, Dr. Warsito Tantowijoyo, menyebut penyebaran nyamuk yang mengandung wolbachia harus terus dilakukan untuk menekan penyebaran penyakit demam berdarah.
Penyebaran nyamuk wolbachia baru bisa dihentikan, bila populasinya sudah mencapai sekitar 60 persen. Sehingga hasil dari penerapan teknologi wolbachia, diharapkan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat.
Hal tersebut diungkapkannya dalam webinar Festival Inovasi Wolbachia: Inovasi untuk Kemanusiaan yang digelar WMP Yogyakarta belum lama ini.
Dr. Warsito Tantowijoyo menjelaskan, nyamuk aedes aegypti yang dikenal sebagai vektor pembawa virus dengue, bila di dalam tubuhnya mengandung bakteri wobcahia tidak akan mampu menularkan virus dengue ke manusia. Sebab, wolbachia akan menahan replikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk.
“Memang tidak nampak ada perubahan pada nyamuk, namun virus dengue tidak bisa berkembang karena wolbachia memblokade proses replikasi,” kata pakar entomolog ini.
Bahkan, dengan adanya wolbachia dalam tubuh nyamuk akan menyebabkan jumlah virus dengue pun menjadi sedikit. “Sehingga potensinya untuk menulari dengue menjadi sangat rendah,” paparnya.
Warsito menuturkan, penelitian yang dilakukannya sejak 2011 yang dimulai dari dusun Kronggahan, Sleman, lalu berlanjut ke beberapa kecamatan di Kota Yogyakarta, telah menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Meski awalnya pihaknya kesulitan dalam mensosialisaikan program ini ke masyarakat karena dianggap menyebarkan penyakit demam berdarah dengan melepas nyamuk di sekitar rumah mereka.
“Bukan sesuatu yang mudah, bahkan dianggap kontradiktif, di satu sisi selama ini ada program pengendalian nyamuk dan kita malah menyebarkan nyamuk,” katanya.
Menurutnya di awal riset ini, mereka banyak melakukan pekerjaan di laboratorium dengan mengembangkan populasi nyamuk yang mengandung wolbachia. Selanjutnya, populasi nyamuk berwolbachia disebarkan di setiap rumah penduduk.
Meski populasinya belum mampu mempengaruhi total nyamuk yang ada, namun ia berkeyakinan jumlah nyamuk wolbachia, baik jantan dan betina akan terus bertambah karena akan berkembang biak terus di alam liar.
“Kita akan hentikan penyebarannya jika keturunan wolbachia sudah mencapai 60 persen dari total populasi nyamuk di suatu tempat,” katanya.
Eggi Arguni, Ph.D., selaku anggota tim peneliti WMP lain, mengatakan pada tahap awal pelaksanaan penelitain ini pihaknya banyak berdialog dengan masyarakat, agar bisa diajak kerja sama dalam pengembangan teknologi wolbachia ini.
“Kita lebih banyak mendorong komunikasi dengan warga,” ujarnya.
Penerapan teknologi Wolbachia pada nyamuk, menurut Eggi tak ubahnya meningkatkan imunitas nyamuk sendiri, agar bisa terlindungi dari infeksi virus dengue.
“Ini mirip vaksinasi agar nyamuk punya imunitas dari virus,” katanya.
Menurutnya, nyamuk yang yang mengandung wolbachia akan mengalami modifikasi RNA, sehingga virus dengue tidak bisa melakukan replikasi di dalam sel tubuh nyamuk.
”Nyamuk yang tidak punya wolbachia, replikasi virus dengue sangat tinggi dibanding nyamuk yang ada wolbachianya,” pungkasnya.