Petani Cabai di Kulon Progo Merana, Harga Jual Hanya Rp4.000 per KG

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Harga jual cabai di tingkat petani di Yogyakarta makin terpuruk hingga mencapai titik terendah sejak beberapa hari terakhir. Harga jual cabai jenis keriting yang selama beberapa bulan terakhir berada di kisaran Rp5ribu per kilogram, kini makin anjlok di kisaran Rp4ribu per kilogram.

“Saat ini harga jual cabai tidak makin membaik. Tapi, justru semakin terpuruk. Jika beberapa minggu terakhir harga cabai keriting hanya di kisaran Rp5ribu per kilo, sejak Minggu sore kemarin justru makin anjlok di kisaran Rp4ribu per kilogram,”  ujar salah Munir, seorang petani cabai di desa Kedungdang, Temon, Kulon Progo, Senin (24/8/2020).

Munir menyebut, bertambah anjloknya harga jual cabai di tingkat petani saat ini jelas akan makin membuat para petani cabai di berbagai daerah termasuk dirinya, merugi. Biaya modal maupun operasional yang dikeluarkan para petani jauh lebih tinggi dibandingkan pemasukan dari hasil panen selama ini.

“Saya menanam cabai di lahan seluas 1.000 meter persegi. Modal awal untuk membeli bibit, pupuk, pestisida, dan sebagainya sudah habis Rp2juta lebih. Untuk bisa balik modal saja tidak sampai, apalagi untung,” katanya.

Menurut Munir, harga jual cabai mulai anjlok sejak adanya pandemi Covid-19 sekitar 4 bulan lalu. Harga cabai yang biasanya berkisar di harga minimal Rp8ribu per kilo, anjlok menjadi hanya sekitar Rp5-6ribu per kilogramnya. Anjloknya harga jual cabai itu berlangsung lama hingga saat ini.

“Sejak awak panen sampai sekarang, saya hanya bisa menjual cabai dengan rentang harga Rp5ribu per kilo. Sempat bisa menjual di kisaran harga Rp10ribu saat Iduladha, namun harganya kembali anjlok di kisaran Rp5ribu. Sekarang malah makin parah karena hanya sekitar Rp4ribu per kilo,” katanya.

Lebih lanjut, Munir menilai idealnya harga jual cabai di tingkat petani berkisar di angka Rp9ribu per kilogram. Jumlah itu dikatakan setara dengan harga 1 liter bensin, yang merupakan bahan baku bagi petani untuk menghidupkan mesin diesel, guna menyiram tanaman cabai setiap 2-3 hari sekali.

“Petani seperti saya baru bisa untung jika harga jual cabai minimal sama dengan harga 1 liter bensin. Karena setiap 2-3 hari sekali selama 3 bulan lebih, kita harus membeli bensin untuk menyiran cabai memakai diesel. Jika tidak, ya kita merugi,” ungkapnya.

Sejumlah petani termasuk Munir, tak bisa berbuat banyak dengan kondisi mereka saat ini. Mereka hanya bisa berharap, agar pandemi Covid-19 segera berakhir, sehingga harga jual cabai bisa kembali normal seperti semua kembali.

Lihat juga...