Bibit Berkualitas Solusi Hadapi Trek Tanaman Karet Kala Kemarau
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Produksi getah karet atau lateks kerap mengalami penurunan saat datang musim kemarau. Sebagai solusi untuk tetap mendapatkan produksi getah yang stabil sejumlah petani memilih bibit berkualitas. Bibit berkualitas menurutnya dibeli dari wilayah Ogan Komering Ilir (OKI). Bibit tersebut memiliki daya tahan lebih baik kala kemarau.
Jenis bibit tanaman karet (Hevea braziliensis) yang dipilih merupakan jenis penggabungan tiga bibit. Bibit yang dikenal dengan three in one dibuat saat tanaman berusia tiga bulan. Memasuki usia enam bulan bibit karet bisa dipindahkan ke lahan. Ia menyebut menanam sekitar 1000 batang dengan tingkat ketebalan kulit lebih baik.
Kulit tebal pada kulit menurutnya menjadi solusi terjaganya pasokan getah karet kala kemarau. Sebab kendala petani karet dominan saat musim trek mengalami penurunan hasil getah. Jenis bibit three in one menurutnya meskipun mengalami pengguguran daun tetap akan memproduksi getah stabil. Meski harga mahal ia menyebut pemilihan bibit berkualitas menjadi investasi jangka panjang.
“Sekali menanam kualitas pohon yang dihasilkan cukup stabil sehingga saat dilakukan proses penyadapan getah stabil meskipun memasuki masa trek ketika kemarau melanda lahan pertanian karet,” terang Subandi saat ditemui Cendana News, Senin (10/8/2020).
Tanaman karet kualitas bibit yang bagus disebut Subandi sudah bisa dipanen usia empat tahun. Memasuki tiga tahun ditanam proses penyadapan bisa dilakukan untuk melatih produksi getah. Harga bibit karet three in one seharga Rp100.000 per batang menurutnya cukup sebanding dengan hasil yang diperoleh. Sebab sepuluh kali sadapan sudah bisa mengembalikan modal.
Pengguna bibit berkualitas lain bernama Sumardi mengaku, hanya menggunakan sekitar ratusan batang sebagai tahap penyulaman. Karet sebelumnya yang ditanam menurutnya merupakan jenis bibit kualitas biasa.
Sebagian masih tetap disadap meski hasil getah mengalami penurunan kala musim trek daun. Kualitas kulit lebih tipis menurutnya membuat hasil lebih minim.
“Perbandingan produksi getah pohon karet dengan bibit biasa dalam satu hari hanya setengah mangkuk namun bibit berkualitas satu mangkuk,” terangnya.
Penurunan tersebut terjadi jelang kemarau ketika daun berguguran. Meski produksi alami penurunan ia masih bisa menjual getah karet dengan harga Rp8.000 per kilogram.
Sepekan mendapatkan hasil 100 kilogram saja ia bisa mendapat hasil Rp800 ribu. Getah yang telah disadap akan disimpan dalam wadah berbentuk kotak. Ia bisa menjualnya saat harga membaik mencapai Rp9.500 per kilogram.
Masa trek pada tanaman karet menjadi penurun produksi getah dialami Sobri petani di Desa Gandri. Memiliki sekitar 1000 tanaman karet ia menyebut produksi berkurang saat kemarau.

Produksi getah karet normal menurutnya bisa mencapai 2 kilogram per pekan. Namun saat musim kemarau hanya berkisar satu kilogram. Ia memilih menanam bibit berkualitas asal OKI.
Pemilihan bibit berkualitas menurutnya menyesuaikan kondisi tanah untuk penanaman. Penanaman karet pada lahan perbukitan menurutnya sekaligus menjadi solusi merehabilitasi tanah di wilayah tersebut. Sebab sebelumnya lahan kerap ditanami jagung yang kerap longsor kala penghujan. Pemilihan bibit berkualitas sekaligus memperpanjang usia tanam karet.
“Bibit berkualitas masih akan produktif hingga usia puluhan tahun sehingga saya pertahankan, sebagian ditebang untuk bahan bakar,” cetusnya.
Menjaga kualitas getah, Sobri mengaku menggunakan zat penggumpal getah jenis Deorub K. Zat tersebut akan menjaga kualitas getah terutama kala musim penghujan.
Saat kemarau proses penggumpalan akan berlangsung cepat dengan suhu udara yang lebih panas. Meski produksi menurun saat pandemi Covid-19 hasil panen getah karet tetap bisa memberi penghasilan rutin bagi petani.