WHO Masih Teliti Potensi Penyebaran Covid-19 di Udara

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Imbauan mewaspadai penyebaran virus penyebab Covid-19 melalui airborne oleh World Health Organization (WHO) yang belum diwujudkan dalam pernyataan resmi, karena WHO masih melakukan penelitian mendalam terkait potensi tersebut. 

Penasehat Gender dan Pemuda WHO, Diah Saminarsih, menyatakan imbauan tersebut disampaikan oleh WHO berdasarkan surat terbuka 239 ilmuwan dari 32 negara, yang telah mempelajari pola penularan pada ruang tertutup.

“Setelah ada evidence yang kuat dan banyak, baru akan ada technical update,” kata Diah, dalam siaran online langsung dari Jenewa, Minggu (19/7/2020).

Ia menjelaskan, bahwa pendapat yang dikumpulkan WHO bukan hanya dari para ahli kesehatan saja. “Tapi juga meminta pendapat para ahli lainnya. Seperti ahli bangunan, untuk memastikan bangunan seperti apa, ahli material untuk memahami interaksi virus pada material tertentu. Ada juga ahli sosiologi. Banyak ahli yang terkait dengan masalah ini yang akan dimintai pendapatnya. Jadi, memang butuh waktu,” ujarnya.

Proses yang cenderung lambat ini, menurut Diah memang hal yang biasa terjadi di WHO. “Bukan karena kerjanya lambat. Tapi karena semua keputusan WHO kan mempengaruhi seluruh dunia dan seluruh sektor. Sehingga tidak boleh keluar dari jalur teknis. Tanggung jawabnya besar banget,” ungkapnya.

Diah menceritakan,  di Kantor WHO, protokol kesehatan juga dilakukan secara ketat untuk memastikan pencegahan penularan.

“Saat ini, merupakan minggu ke dua kloter 2 dari pekerja WHO boleh memasuki gedung kantor. Yang pertama pada pertengahan Juni lalu. Karena masih sekitar 200 orang yang masuk, gedung berkapasitas 4 ribu orang, jadi terasa sepi,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan, selain pembatasan jumlah pekerja, di kantor WHO juga diberlakukan traffic management dan penggunaan Land-Yard, yang digunakan untuk menandai keberadaan seseorang dalam suatu fasilitas gedung, misalnya Rest Room.

“Jadi untuk menandakan toilet ada orangnya, kita disiapkan Land-Yard  yang harus kita gantung di pintu, untuk menunjukkan kepada pengguna lain space mana yang bisa digunakan. Selain itu, kami juga tidak jalan berpapasan, karena ada jalur untuk masuk gedung dan ada jalur untuk keluar,” urainya.

Selain itu, penggunaan masker adalah hal wajib, tidak ada kontak fisik dan di setiap peralihan space ada hand sanitizer.

“Dengan adanya perkembangan penelitian terkait potensi penyebaran melalui airborne, masker itu harus terus digunakan. Kalau yang berisiko tinggi, gunakan surgical mask. Kalau yang berisiko rendah, boleh pakai masker kain. Yang penting tidak boleh dipakai secara bergantian dengan orang lain, dan harus dicuci setiap hari,” tegas Diah.

Menjaga jarak, lanjutnya, juga harus dilakukan karena mampu mengurangi potensi penyebaran virus.  “Untuk olah raga dalam ruangan, sebaiknya dihindari dulu. Begitu pula kerumunan orang. Dan, yang tidak boleh ditinggalkan adalah kebiasaan mencuci tangan,” ujar Diah lagi.

Terkait kapan kepastian pandemi ini bisa berakhir, Diah menyatakan belum bisa menyebutkan tanggal dengan pasti.

“Saat ini yang dilakukan WHO adalah mencari treatment dari obat-obatan yang sudah beredar. Istilahnya solidarity trail. Saat ini, tercatat ada enam obat dan diharapkan sudah bisa keluar hasilnya sebelum akhir tahun,” paparnya.

Dan, yang ke dua dilakukan oleh WHO adalah mencari alat diagnosa atau Covid Tools Accelerator.

“Sudah ada dua jenis vaksin yang masuk dalam fase 3, yang berasal dari Oxford dan Cina. Kalau sudah ada hasil dari fase 3 ini, baru kita bisa bernapas. Tapi masalahnya, kita tidak bisa pastikan berapa panjang fase 3 ini. Karena memang banyak hal yang perlu dikaji,” pungkasnya.

Lihat juga...