UMKM di Banyumas Belum Sepenuhnya Bangkit

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di wilayah Kabupaten Banyumas belum pulih sepenuhnya di masa new normal yang sudah berjalan sekitar dua bulan ini. Bahkan jumlah pekerja yang dirumahkan justru terus bertambah.

Data terbaru dari Dinas Tenaga Kerja Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinakerkop UKM) Kabupaten Banyumas, Joko Wiyono menyebutkan, ada sebanyak 5.625 pekerja yang dirumahkan selama pandemi Covid-19.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinnakerkop UKM) Kabupaten Banyumas, Drs. Joko Wiyono, M.Si, ditemui di kantornya, Selasa (28/7/2020). Foto: Hermiana E. Effendi

“Ada 169 perusahaan di Banyumas yang merumahkan pekerjanya akibat pandemi Covid-19 dan total jumlah pekerja yang dirumahkan sampai hari ini ada 5.625 orang,” katanya, Selasa (28/7/2020).

Lebih lanjut Joko Wiyono menjelaskan, sebagian besar pekerja yang dirumahkan dari jenis usaha perhotelan, hiburan, restoran dan ada juga beberapa dari kalangan UMKM yang tidak mampu bertahan di tengah pandemi.

Dampak pandemi juga sangat dirasakan para pelaku UMKM termasuk para pedagang. Pedagang tempe medoan di Pasar Wage Purwokerto, Sarikin mengatakan, sejak banyak pedagang Pasar Wage yang dinyatakan positif Covid-19, pasar jadi sepi pembeli.

“Saya biasanya jualan di Pasar Wage dari pagi, siang sudah habis, tetapi sekarang sampai menjelang sore dagangan masih banyak,” keluhnya.

Sarikin mengaku, tidak bisa lagi menggantungkan hidup sepenuhnya di pasar terbesar di Kota Purwokerto tersebut. Sehingga ia akan mulai berjualan keliling untuk bisa bertahan hidup.

Pelaku UMKM lainnya, Murdiati mengatakan, penjualan peyek dan rengginang sekarang menurun sekali. Ia terpaksa merumahkan dua orang karyawan yang biasa membantu memproduksi peyak dan rengginang.

“Sudah sebulan ini, semua produksi saya kerjakan sendiri, karena sudah tidak mampu membayar karyawan. Hasil penjualan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” tuturnya.

Sebelum pandemi, dalam satu hari Murdiati memproduksi peyek dan rengginang sampai 200 bungkus. Namun, sekarang produksi hanya sekitar 100 bungkus, itu pun tidak terjual semua. Terkadang masih menyisakan 10-15 bungkus dan dijual keesokan harinya.

“Untungnya dagangan saya bisa bertahan sampai satu minggu lebih, jadi jika tidak habis hari ini bisa dijual keesokan harinya. Namun, produksi memang terus mengalami penurunan karena penjualan yang tidak lancar,” katanya.

Dampak pandemi ini dirasakan mulai dari kalangan pengusaha besar hingga ke sektor UMKM dan industri rumah tangga. Hal tersebut karena banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Padahal dalam krisis sekalipun, biasanya UMKM masih bisa bertahan.

Lihat juga...