Rotasi Tanaman, Solusi Petani Lamsel Jaga Kualitas Tanah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Persoalan kualitas tanah lahan pertanian yang mengalami penurunan jadi kendala petani. Sejumlah petani memilih merotasi tanaman untuk menjaga kualitas tanah dan pengendalian hama.

Sukirman, petani di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan memilih mengganti komoditi untuk pertanian berkelanjutan.

Saat memasuki musim tanam kemarau atau gadu, Sukirman melakukan penanaman labu. Sebelumnya ia membudidayakan kacang tanah pada lahan yang merupakan areal persawahan. Ia memilih merotasi tanaman setelah tahun sebelumnya tanaman padi selalu diserang hama tikus dan burung pipit. Siklus yang terputus membuat sumber pakan hama hilang.

Penerapan sistem rotasi tanaman pada lahan diakui Sukirman sekaligus menjaga kesuburan tanah. Proses pengolahan lahan sebelumnya selalu memakai traktor untuk penanaman padi. Pada proses penanaman kacang tanah dan labu ia melakukan proses pembuatan guludan. Penggunaan pupuk kompos dan kandang ditingkatkan dengan pengurangan pupuk kimia.

“Penggunaan pupuk kimia berlebih saat penanaman padi berimbas tanah bantat dan tidak subur, lalu saya tebarkan pupuk kotoran ternak sapi dan kambing sehingga tanah menjadi subur secara alami,” terang Sukirman saat ditemui Cendana News, Rabu (22/7/2020).

Budidaya tanaman yang dirotasi menurut Sukirman ikut menjaga kesuburan tanah. Ia bahkan menyebut saat penanaman sayuran jenis labu gulma rumput tumbuh dengan baik. Gulma rumput yang tidak disemprot memakai herbisida berguna sebagai sumber pakan ternak sapi dan kambing. Sebagian gulma rumput dipendam pada lubang untuk menjadi pupuk kompos.

Penanaman komoditas sayuran diakuinya terintegrasi dengan peternakan. Hasil penyiangan daun dan gulma jadi sumber pakan alami ternak. Selanjutnya kotoran ternak yang telah dipendam bersama kompos bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Pelaksanaan zero waste system atau penggunaan limbah tanaman, ternak yang dimanfaatkan kembali ikut menjaga kondisi tanah.

“Kami mendapat bimbingan dari penyuluh pertanian agar bisa memutus mata rantai hama dan gulma,” cetus Sukirman.

Hasan, petani di desa yang sama menyebut memilih menanam timun sumber benih. Timun yang dipanen hanya untuk kebutuhan benih tersebut menjadi tanaman pengganti jagung manis. Jenis tanaman timun benih menurut Hasan, siklus hama dan penyakit jenis tikus berkurang.

Hasan, petani di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan menanam timun untuk kebutuhan pembuatan benih memanfaatkan lahan yang semula ditanami jagung manis, Rabu (22/7/2020) – Foto: Henk Widi

“Saat menanam jagung manis hama pengganggu dominan tikus tapi kini sudah berkurang,” bebernya.

Budidaya tanaman timun menurutnya lebih irit penggunaan air. Sebab memanfaatkan sistem irigasi tetes ia bisa melakukan pengairan secara maksimal. Penggunaan air terbatas memberi kesempatan bagi petani pengguna air lain melakukan pengelolaan air. Terlebih memasuki musim kemarau pasokan air mulai terbatas.

Populasi hama tikus dan burung yang menjadi kendala petani di wilayah tersebut bisa diatasi. Pemanfaatan tanah dengan sistem guludan ikut menjaga kesuburan tanah yang selalu tergenang air. Usai penanaman timun bahan benih ia menyebut rencananya akan melakukan penanaman bawang merah dengan memakai mulsa yang masih dalam kondisi baik.

Pemanfaatan media tanam untuk rotasi tanaman berbeda dilakukan Atin, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan. Ia menyebut empat bulan sebelumnya ia menanam sekitar 11 ribu batang tanaman cabai.

Menghasilkan panen sekitar 4 ton kini ia beralih menanam komoditas melon. Rotasi tanaman dilakukan olehnya untuk memutus hama trip pada cabai.

“Kesuburan tanah saat penanaman cabai masih bisa dimanfaatkan pada budidaya melon sehingga pupuk bisa diminimalisir,” cetusnya.

Atin, petani di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan melakukan rotasi tanaman cabai dengan melon untuk memutus mata rantai siklus hama, Rabu (22/7/2020) – Foto: Henk Widi

Peningkatan kesuburan tanah dalam rotasi tanaman diakui oleh Atin. Sebelumnya lahan tersebut ditanami padi namun kurang menghasilkan. Dua siklus penanaman cabai, melon selanjutnya bisa dimanfaatkan untuk penanaman padi.

Residu pupuk yang dipakai pada penanaman hortikultura dipastikan masih bisa memberi kesuburan untuk tanaman padi.

Lihat juga...