KEHADIRAN Islam sebagai rahmatan lil alamin adalah suatu keniscayaan. Bukan semata karena di dakwahkan, atau disyiarkan oleh umat Islam, namun sudah menjadi ketentuan Allah, demikianlah adanya.
Hal ini mesti menjadi keyakinan seluruh umat Islam yang memahami maksud dan tujuan Allah mengutus Muhammad SAW sebagai Rasul agar menjadi rahmat bagi seluruh alam. Pernyataan kami ini, bukan berarti bahwa seluruh manusia di muka bumi ini akan memeluk agama Islam. Tidak demikian. Yang kami sampaikan adalah, bahwa ajaran Islam akan tersampaikan kepada seluruh hamba Allah, baik dari kalangan jin maupun dari kalangan manusia.
Dan telah menjadi ketetapan Allah bahwa baik jin maupun manusia yang berpegang teguh kepada ajaran Islam, risalah yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW, akan mendatangkan keselamatan bagi manusia maupun bagi seluruh alam. Namun, sebaliknya mereka yang menolak ajaran Islam, setelah ajaran Islam itu sampai kepada mereka, maka mereka akan tersesat, dan berkonstribusi terhadap terjadinya kerusakan di muka bumi.
Sekiranya Allah menghendaki, tentu berimanlah semua makhluk ciptaan Allah kepada-Nya dan kepada hari kemudian. Namun Allah menghendaki agar ajaran Islam itu diterima tanpa melalui pemaksaan. Oleh sebab itu diterima atau tidaknya ajaran Islam itu bagi manusia, maupun bagi jin seluruhnya dikembalikan kepada kesadaran dari tiap-tiap manusia.
Lantas apa hubungannya kesadaran menerima ajaran Islam, dengan munculnya fenomena Islamophobia. Islamophobia, bukanlah barang baru dalam sejarah peradaban manusia, atau dalam sejarah perkembangan ajaran Islam ini.
Sejak di era Nabi Nuh, Ibrahim, hingga di era Nabi Muhammad SAW ajaran ini senantiasa disertai dengan munculnya sekelompok orang yang menentang ajaran ini dengan keras. Mereka bahkan mengangkat senjata untuk melawan perkembangan ajaran Islam ini. Tapi sejarah juga memberitahu kita bahwa kemunculan para penentang ajaran Islam ini, sama sekali tidak mampu menghambat laju perkembangan ajaran Islam.
Fenomena mutakhir menunjukkan bahwa ajaran Islam ini berkembang dengan sangat pesat di berbagai belahan dunia, jauh lebih cepat dari perkembangan Kristianitas, atau Budhisme, apalagi Yudaisme atau Yahudi.
Hal yang paling berpengaruh atas perkembangan tingkat penerimaan ajaran Islam, terutama di Eropa, Rusia, Amerika, Australia dan di Asia Pasific, karena rasionalitas ajaran ini. Islam adalah agama rasional. Al-Quran sebagai kitab suci yang memang diturunkan bagi seluruh manusia itu, sangat sejalan dengan rasional berpikir. Makin rasional perkembangan peradaban manusia, ajaran Islam akan makin diterima.
Sebab itu, Islamophobia cukuplah kita pahami sebagai realitas historis yang memang mesti ada dalam perjalanan ajaran para nabi ini, sebagai bagian dari proses penerimaan atau penolakannya di kalangan masyarakat. Islamophobia adalah jalan yang harus ditempuh oleh ajaran Islam dalam rangka menjadi rahmatan lil alamin.
Jika hal ini telah dipahami, maka respons kita sebagai umat Islam atas berbagai fenomena Islamopobhia hendaknya biasa-biasa saja. Jangan mudah terbawa hal-hal yang remeh-temeh, seperti soal kue klepon yang sedang viral jadi perbincangan itu.
Seorang muslim yang memahami ajaran Islam, mengerti kandungan Al-Quran tidak akan mudah dipengaruhi oleh para Islamophobia.
Mari kita sikapi Islamophobia ini dengan rileks, dengan santai, biasa-biasa saja. Dengan penuh keyakinan, sabar dan kesadaran penuh bahwa sebaik-baik pembuat skenario adalah Allah SWT. ***
Depok, 24 Juli 2020