Ini Alasan Mengapa Anjungan tak Terpakai Harus Dibongkar
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Keberadaan Anjungan Lepas Pantai yang sudah tidak terpakai, memiliki dampak negatif pada ekosistem lautan di sekitarnya. Walaupun belum ada regulasi terkait kapan tepatnya, anjungan yang tidak terpakai harus dibongkar atau dialihfungsikan tapi penilaian dan pengkajian pada tiap anjungan lepas pantai merupakan suatu hal yang harus dilakukan dengan mempertimbangkan pencegahan polusi pada ekosistem sekitarnya.
Peneliti Pusat Riset Kelautan (Pusriskel), Anwar Rizal, menyatakan, masa pakai dari anjungan lepas pantai bisa lebih dari 50 tahun.
“Kalau masih beroperasi akan bertahan lama. Karena ada perawatan yang rutin dilakukan setiap tahunnya,” kata Anwar saat dihubungi, Jumat (17/7/2020).

Anwar menyebutkan belum ada regulasi yang menyebutkan kapan platform harus dibongkar. Karena platform yang tidak beroperasi pun masih bisa dioperasikan kembali jika eksplorasi migas di bawah platform menemukan cadangan-cadangan migas baru.
“Jadi yang mengusulkan kepada SKK Migas dan ESDM bahwa platform tersebut sudah tidak dipergunakan dan harus dibongkar adalah operator,” ujarnya.
Anwar menyampaikan pembangunan platform menguntungkan bagi ekologi kelautan. Tapi menjadi berbahaya bagi ekosistem perairan jika roboh.
“Karena sejak didirikan sudah terbentuk ekosistem baru di kaki-kaki platform. Bahaya akan muncul jika platform sudah tidak aktif dan sumur ditutup, dimana platform roboh atau ditabrak oleh kapal, dikhawatirkan akan terjadi kebocoran atau tumpahan minyak di laut,” urainya.
Ada juga potensi pengaruh korosi pada ekologi, tapi Anwar menyatakan belum dilakukan kajian penelitian karena lokasi sekitar platform merupakan daerah terbatas terlarang yang hanya dapat diakses untuk kegiatan migas.
Peneliti Pusriskel, Niken Gusmawati, menyatakan abandoned offshore rig atau anjungan yang tidak terpakai itu tidak membahayakan jika mengikuti prosedur.

“Sumurnya harusnya ditutup dan di-seal dengan baik. Masalahnya jika operator lalai dan seal ini bocor karena telah sekian lama abandoned. Rig ini pun mengalami korosi. Jadi rawan kerusakan pada kaki-kakinya yang membuka potensi roboh. Apalagi jika berada di area yang ramai kapal nelayan melintas,” kata Niken saat dihubungi terpisah.
Niken juga menyatakan bahwa korosi pada tiang-tiang platform akan mengeluarkan logam berat ke perairan, salah satunya Fe (besi).
“Fe ini adalah logam esensial yang dibutuhkan makhluk hidup dalam jumlah sangat sedikit. Tapi jika jumlahnya banyak dapat menjadi racun. Logam berat yang terakumulasi pada ikan, yang selanjutnya dimakan manusia pun bisa membahayakan kesehatan manusia. Tapi apa platform korosi ini memang benar membahayakan ekosistem perairan, perlu diteliti lebih lanjut,” pungkasnya.