Di Tengah Pandemi Covid-19, TBC Mengancam Warga Jateng

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Prabowo, memaparkan, pihaknya terus melakukan upaya, dalam pengendalian penyebaran dan menurunkan tingkat kasus kematian akibat covid-19, saat ditemui di Semarang, Sabtu (1/8/2020). Foto: Arixc Ardana

SEMARANG — Memiliki karakteristik penularan seperti covid-19, masyarakat pun diimbau untuk menjaga kesehatan dan menjaga jarak, untuk mengantisipasi penyebaran penyakit tuberkolosis (TBC).

“Penularan bakteri Mycobacterium Tuberculosis, yang menjadi penyebab penyakit TBC, hampir serupa dengan covid-19, yakni melalui droplet atau percikan liur, saat pasien tersebut batuk atau berbicara. Lalu yang diinfeksi juga hampir sama yakni saluran napas dan paru-paru. Untuk itu, kita harapkan masyarakat tetap menjaga kesehatan,” papar Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Prabowo di Semarang, Kamis (23/7/2020).

Dalam pencegahannya, mereka yang melakukan kontak erat dengan penderita TBC, untuk menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Tidak hanya itu, sirkulasi udara dalam ruangan, juga harus terjaga dengan baik.

“Buka jendela agar udara bisa berganti atau bersirkulasi. Selain itu, juga jaga kesehatan imun tubuh, dengan makan makananan bergizi, olahraga dan istirahat yang cukup,” tandasnya.

Dari data Dinkes Jateng, jumlah penderita TBC hingga semester awal tahun 2020 ini, mencapai 23.919 kasus, yang tersebar di 35 kabupaten kota di Jateng.

Tidak hanya itu, penyakit TBC juga menyerang tanpa pandang bulu. Kelompok umur 0-4 tahun, yang terpapar TBC bahkan mencapai tujuh persen atau sekitar 1.674 kasus.

Sementara, kelompok umur 5-14 tahun (5,3 persen), umur 15-24 tahun (15,4 persen).

Kemudian, umur 23-34 tahun (14,7 persen), umur 35-44 tahun (15 persen), umur 45-55 tahun (16 persen), umur 55-60 tahun (15,9 persen) dan kelompok lansia usia di atas 60 tahun sebanyak 11,2 persen.

“Jika melihat persebaran dan kelompok umur, penyakit TBC ini perlu diwaspadai. Apalagi saat ini tengah pandemi covid-19. Mereka yang memiliki riwayat penyakit komorbid atau penyerta, seperti TBC ini rawan akan covid-19,” tandasnya.

Pihaknya kembali mengimbau kepada masyarakat, untuk mewaspadai penyakit TBC.

Sementara, mereka yang menderita TBC juga harus disiplin dalam menjalani pengobatan, sebab jika terputus, harus diulang dari awal lagi.

“Proses pengobatan TBC ini cukup lama, bisa sampai sembilan bulan berturut-turut, harus rutin. Jangan sampai terputus, sebab harus jika terputus harus mengulang lagi dari awal,” tandasnya.

Untuk membasmi penyakit itu, pihaknya telah melakukan langkah taktis dengan melakukan pengobatan. Selain itu, Dinkes Jateng juga melakukan pencegahan terhadap mereka yang kontak erat, dengan pengidap TBC.

Sementara, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengaku prihatin dengan tingginya angka penderita TBC di Jateng. Dirinya meminta Dinkes Jateng untuk melakukan pendataan, pengawasan dan pendampingan.

“Pasien TBC ini perlu didampingi, agar pengobatannya bisa maksimal, tidak terputus. Sebab penyakit ini rentan menular, jika tidak diobati hingga benar-benar sembuh, kita khawatirkan akan kambuh dan menulari yang lain,” terangnya.

Pendataan juga perlu dilakukan, dikarenakan penderita TBC juga rentan terpapar covid-19. Dijelaskan, dari hasil penelitian, kebanyakan pasien positif covid-19 di Jateng yang meninggal dunia, diikuti dengan penyakit penyerta atau komorbid.

“Dari kasus kematian akibat covid-19, rata-rata karena ada penyakit penyerta (komorbid). Tertinggi hipertensi dan diabetes. Kemudian ada TBC ini, apalagi juga terkait penyakit saluran pernafasan dan paru-paru. Saat kita data, berapa jumlah warga Jateng yang memiliki penyakit komorbid kategori berat. Mereka akan kami tes dan lakukan treatmen khusus, tujuannya untuk mencegah agar jika mereka terpapar covid-19, bisa cepat sembuh,” pungkasnya.

Lihat juga...