Data Terbaru Positif Covid-19 di Indonesia 78.572 Kasus

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Gugus Tugas Percepatan Penanganan kasus virus corona (Covid-19) kembali memperbaharui perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia.

“Hari ini kasus konfirmasi positif Covid-19 bertambah sebanyak 1.591 kasus baru, sehingga akumulasi pasien positif Covid-19 di Indonesia menjadi 78.572 kasus,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto saat jumpa pers di Gedung BNPB, Jakarta, Selasa (14/7/2020).

Dari total kasus positif tersebut, kata Yuri ada penambahan jumlah pasien sembuh sebanyak 947 orang, demikian jumlah keseluruhan pasien sembuh sebanyak 37.636 orang. Di mana, sebut Yuri pasien sembuh terus bertambah dari hari ke hari dan sebuah kabar yang menggembirakan di tengah meningkatkan penambahan kasus positif Covid-19.

“Selain itu untuk kasus positif yang meninggal hari ini ada penambahan sebanyak 54 orang, sehingga jumlah keseluruhan positif yang meninggal sampai hari ini menjadi 3.710 orang,” ujarnya.

Yurianto menegaskan bahwa penularan virus corona masih terus terjadi. Masyarakat diminta tetap mematuhi protokol kesehatan saat berkegiatan di luar rumah. Protokol kesehatan yang dimaksud, sebut Yuri, antara lain senantiasa memakai masker, menjauhi keramaian, dan rajin mencuci tangan.

“Dia berharap masyarakat tidak abai terhadap protokol kesehatan agar laju penularan virus corona benar-benar bisa ditekan. Selain itu mengimbau masyarakat untuk menyertakan sirkulasi udara baik di ruangan yang digunakan untuk beraktivitas dan agar jendela dibuka setiap pagi,” ungkapnya.

Sementara itu Duta Adaptasi Kebiasaan Baru Gugus Tugas Nasional, Reisa Broto Asmoro, menyebutkan dampak negatif dari Covid-19 membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan sehingga mempengaruhi kondisi fisik dan mental yang akhirnya mempengaruhi kesehatan masyarakat itu sendiri.

Oleh karena itu, sangat penting untuk membangun kembali produktivitas masyarakat dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Aktivitas masyarakat harus ditingkatkan dengan protokol kesehatan yang ketat, ini yang kita sebut sebagai adaptasi kebiasaan baru,” kata Reisa di Gedung BNPB, hari ini.

Reisa mengatakan, Indonesia yang merupakan negara kepulauan tentunya akan menghadapi perbedaan dalam upaya beradaptasi dengan kebiasaan baru. Perbedaan luas wilayah dan kepadatan penduduk membuat tingkat risiko dari setiap daerah berbeda-beda.

“Sebagaimana umumnya beradaptasi dengan kebiasaan baru, sebagian dari kita ada yang lebih cepat, ada juga yang membutuhkan waktu lebih,” ujarnya.

Reisa juga mengajak seluruh daerah yang masih berada di zona merah, orange dan kuning untuk dapat mencontoh daerah yang berada di zona hijau. Reisa menjelaskan tiga jurus jitu bagi daerah-daerah di Indonesia agar mampu berhasil masuk ke zona hijau sehingga aktivitas sosial dan ekonomi dapat kembali berjalan dengan produktif namun tetap aman COVID-19.

“Pertama, kerja keras dan pengawasan ketat oleh Gugus Tugas Daerah dan seluruh pimpinan daerah, kedua, kedisiplinan dan kepatuhan seluruh anggota masyarakat. Peraturan yang telah ditetapkan dapat berhasil menekan potensi penularan COVID-19 pada suatu daerah jika didukung dengan kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan,” ungkapnya.

Sedangkan yang ketiga sebutnya, kesadaran bahwa daerah hijau akan membuat masyarakat lebih produktif namun tetap aman Covid-19. Untuk itu bagi daerah yang berada di zona kuning (risiko rendah), zona orange (risiko sedang) dan zona merah (risiko tinggi), masih harus membatasi beragam aktivitas karena dapat memicu penularan COVID-19.

“Kerja sama antara pemerintah daerah serta seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan untuk melahirkan semangat dalam mencapai keberhasilan suatu daerah dapat menjadi zona hijau. Dengan begitu, beragam aktivitas sosial maupun ekonomi dapat kembali berjalan dengan produktif dan tetap aman Covid-19,” tutupnya.

Lihat juga...