BMKG: 69 Persen Wilayah Indonesia Sudah Masuki Musim Kemarau

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal - Dok Ranny Supusepa

JAKARTA — Seperti sudah diprakirakan sebelumnya oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menjelang bulan Agustus, musim kemarau sudah terjadi di 69 persen wilayah ZOM Indonesia.

Deputi Klimatologi BMKG Herizal menyatakan kondisi ini seiring dengan penguatan angin Monsun Australia yang mengalirkan massa udara dingin dan kering dari Benua Australia menuju Asia melewati Samudera Indonesia dan wilayah Benua Maritim Indonesia,

Wilayah-wilayah yang sebagian besar tengah mengalami musim kemarau di antaranya, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa Timur, sebagian besar Jawa Tengah, sebagian besar Jawa Barat, pesisir utara Banten, DKI Jakarta, Sumatera Selatan bagian timur, Jambi bagian timur, sebagian besar Riau, sebagian besar Sumatera Utara, pesisir timur Aceh, Kalimantan Tengah bagian selatan, Kalimantan Timur bagian timur, Kalimantan Selatan bagian utara, Sulawesi Barat bagian selatan, Pesisir selatan Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara bagian utara, Maluku bagian barat, Papua Barat bagian timur, dan Papua bagian utara dan selatan.

Menguatnya aliran angin Monsun Australia menurut Herizal, biasanya berkaitan dengan perkembangan sistim tekanan tinggi atmosfer di atas Benua Australia yang mendorong masa udara memiliki aliran yang lebih kuat dari biasanya.

“Saat ini kecepatan angin terutama di bagian selatan Jawa dan Bali dilaporkan menunjukkan kecepatan angin yang lebih kuat,” kata Herizal, Jumat (31/7/2020).

Menurut catatan BMKG daerah Lombok, Denpasar, Solo, Jogja, Bandung mengalami angin dengan kecepatan 10 – 20 knot, Jakarta, Semarang, Surabaya memiliki angin dengan kecepatan 5 – 10 knot.

“Pada daerah selatan Jawa dan Bali juga menunjukkan suhu udara yang relatif lebih dingin sedikit dibanding bagian utara,” ujarnya lagi.

Misalya, pada siang hari Lombok dan Denpasar bersuhu 26- 28 derajat Celcius sementara pada saat yang sama, di Semarang, Jakarta, Surabaya suhunya pada 30-31 derajat Celcius.

“Pada malam hingga pagi hari, suhu minimum tercatat pada 29 2020, yang terendah yaitu 10,4 derajat Celcius di Ruteng, NTT, di Malang dan Bandung 17°C, di Padang Panjang 18°C,” ucapnya.

Kepala Subbidang Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto menyatakan musim kemarau telah berdampak menimbulkan potensi kekeringan secara meteorologis pada 31 persen ZOM berdasarkan indikator Hari Tanpa Hujan berturut-turut (HTH) atau deret hari kering yang bervariasi dalam hitungan hari hingga bulan.

“Tercatat deret hari kering terpanjang lebih dari dari 2 bulan dialami beberapa daerah di Nusa Tenggara Timur, yaitu Belu, Kota Kupang, dan Timor Tengah Selatan dan di Dompu, Nusa Tenggara Barat,” kata Siswanto saat dihubungi terpisah.

Ia menyebutkan bahwa BMKG pada tanggal 24 Juli 2020 sudah menyampaikan pada daerah-daerah yang ditenggarai mengalami kekeringan meteorologis.

“Surat itu merupakan peringatan dini kekeringan dengan status awas atau kode merah. Ada juga untuk 58 kabupatan/kota yang berstatus siaga atau kode oranye yang tersebar di Provinsi NTT, NTB, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY dan Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Siswanto menyebutkan bahwa BMKG sudah memprakirakan puncak musim akan terjadi pada bulan Agustus.

“Sebanyak 65 persen ZOM akan mengalami puncak musim kemarau ini yaitu sebagian besar wilayah NTT, NTB, Bali, sebagian besar Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, dan sebagian Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi Selatan serta Papua bagian selatan,” urainya.

Sementara 19 persen ZOM akan mengalami Puncak Musim Kemarau pada bulan September.

“Yaitu meliputi sebagian besar Sumatera bagian tengah, Kalimantan bagian selatan, tengah dan timur, Sulawesi bagian barat dan Maluku,” imbuhnya.

Ia menjelaskan bahwa Puncak Musim Kemarau didefinisikan sebagai bulan atau periode waktu terkering dimana curah hujan yang turun di wilayah yang sedang mengalami kemarau berada pada tingkat paling rendah atau minimum.

“Perlu peningkatan kewaspadaan dan antisipasi dini untuk wilayah yang dipredikdi akan mengalami kemarau yang lebih kering dan daerah-daerah yang tidak mengalami musim kemarau pada bulan Agustus harus waspada pada potensi curah hujan tinggi,” pungkasnya.

Lihat juga...