Warga Lamsel Tanam Pohon Buah dan Kayu Cegah Longsor Lahan Miring

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Lahan miring di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) dimanfaatkan oleh warga Lampung Selatan secara maksimal, dengan menanam pohon buah dan kayu. Selain untuk menambah penghasilan, penanaman pohon keras juga dilakukan untuk mencegah longsor di lahan miring tersebut.

Anjar, salah satu warga di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, memanfaatkan lahan miring di DAS Way Pisang untuk menanam komoditas pertanian. Pemanfaatan lahan miring untuk lahan pertanian dilakukan untuk mencegah longsor.

Saat musim penghujan, terjadi banjir berimbas sungai Way Pisang meluap mengakibatkan longsor. Solusi yang dilakukan olehnya dengan membudidayakan bambu hitam, aren dan tanaman penahan longsor. Sebagian tanaman merupakan pohon produktif.

Berbagai jenis tanaman produktif yang ditanam dengan perakaran kuat, meliputi kakao, jengkol, petai dan durian. Berbagai jenis tanaman produktif tersebut masuk kategori hasil hutan bukan kayu (HHBK). Sebab, sebagian wilayah di DAS Way Pisang merupakan kawasan Register 1 Way Pisang yang dimanfaatkan warga untuk kawasan produksi.

Eka Fitriana, staf administrasi Pusat Persemaian Permanen BPDAS-WSS KLHK di Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Rabu (17/6/2020)> -Foto: Henk Widi

“Upaya mempertahankan daerah aliran sungai Way Pisang dilakukan dengan penanaman pohon produktif, sebagian merupakan tanaman HHBK, yang memberi nilai ekonomis sekaligus bisa menjaga kelestarian lingkungan,” terang Anjar, saat ditemui Cendana News, Rabu (17/6/2020).

Pemanfaatan lahan miring di DAS, menurutnya telah menghasilkan sejumlah komoditas bernilai ekonomis. Sejumlah tanaman jenis aren dimanfaatkan bagian buah untuk kolang-kaling, serabut batang untuk penjernihan air. Selain itu, jenis tanaman bambu hitam, bambu tali dimanfaatkan untuk bahan bangunan dan pendukung pertanian.

Pemanfaatan sungai Way Pisang yang tetap memberi sumber pasokan air, bisa dimanfaatkan untuk lahan pertanian. Bersumber dari gunung Rajabasa, sungai tersebut tetap mengalirkan air bahkan saat kemarau.

Upaya menjaga ketersediaan air terus dilakukan dengan mempertahankan tanaman yang bisa menyerap air. Imbasnya saat kemarau, warga tidak pernah kekurangan  air.

“Pemeliharaan kawasan daerah aliran sungai Way Pisang didukung oleh peran serta masyarakat melalui penanaman pohon produktif,” cetusnya.

Penanaman sejumlah tanaman HHBK di sepanjang DAS Way Pisang, diakuinya telah didukung pasokan bibit. Ia meminta sejumlah bibit tanaman kayu produkif dari Persemaian Permanen (PP) Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDAS WSS). Sebagian tanaman telah memberi hasil, di antaranya bambu, jengkol, petai dan aren.

Penanaman pohon di dekat aliran sungai membuat potensi longsor bisa dicegah. Berbagai jenis pohon produktif ditanam sengaja tidak ditebang, karena hanya dimanfaatkan bagian buah. Tanpa proses penebangan pohon, sebagian tanaman bisa dijadikan untuk tanaman konservasi lingkungan. Dukungan bibit secara gratis dari PP dimanfaatkan secara maksimal.

Jupri, warga Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, menanam pohon jambu bol Jamaica. Selain itu, juga pohon durian, jengkol dan petai. Memiliki lahan miring yang potensial untuk ditanami pohon produktif, ia telah mampu memetik hasilnya. Selain mendapat hasil buah berbagai jenis tanaman, sejumlah pohon menjadi sumber air bersih.

“Sebagian bibit pohon saya tanam untuk penahan longsor, manfaat lain untuk menghasilkan sumber air bersih, karena perakaran yang bagus,” bebernya.

Eka Fitriana, staf administrasi PP BPDAS WSS, Kecamatan Karangsari, menyebut menyediakan 900 ribu bibit tanaman kayu dan HHBK. Sebanyak 9 jenis tanaman HHBK banyak diminati warga meliputi vetivier, kelor, sirsak, alpukat, durian, nangkakayu manis dan jengkol. Total 34.000 tanaman HHBK disediakan. Selain itu, sebanyak 18 jenis tanaman kayu kayuan disiapkan sebanyak 557.000 batang.

“Prioritas tanaman HHBK pada tahun ini digencarkan agar masyarakat bisa mendapatkan hasil buah tanpa menebang pohon,” cetusnya.

Eka Fitriana menyebut, upaya menjaga lahan miring disediakan dengan menyediakan tanaman vetivier. Tanaman dengan nama lain akar wangi tersebut disiapkan sebanyak 3.000 bibit. Memiliki potensi untuk menahan longsor, penanaman vetivier dianjurkan. Selain berfungsi menahan longsor, tanaman tersebut bisa memiliki nilai ekonomis untuk pembuatan minyak wangi.

Selain vetivier, sejumlah tanaman lain disediakan. Jenis tanaman yang disediakan 100.000 batang kelor, 15.000 batang jengkol, 90.000 batang petai dan berbagai jenis bibit meliputi alpukat, nangka, durian, kayu manis dengan jumlah bibit lebih dari 5.000 batang. Masyarakat yang memiliki lahan kosong dan tidak produktif, terutama lahan miring, bisa meminta bibit ke PP secara gratis.

Lihat juga...