Penanaman Pohon Konservasi Terus Digencarkan di Lamsel
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Penanaman pohon konservasi terus digencarkan memanfaatkan potensi curah hujan yang tinggi di wilayah Lampung Selatan (Lamsel).
Agung Sutejo, koordinator pekerja pembibitan menyebut data pengamatan hari hujan (HH) dalam analisis deret hari tanpa hujan atau dikenal dengan dry spell sepanjang semester pertama 2020 seimbang.
Sesuai data di Pembibitan Permanen (PP) di Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang curah hujan tahun 2020 cukup tinggi. Dalam sebulan rata-rata hari hujan mencapai 15 hari dan hari tanpa hujan mencapai 15 hari.
Keseimbangan pasokan air tersebut sangat cocok dimanfaatkan sebagai waktu untuk penanaman pohon. Sebab warga tidak harus banyak melakukan proses perawatan dengan penyiraman air.

Periode kondisi cuaca yang mendukung untuk penanaman membuat distribusi bibit kayu-kayuan, hasil hutan bukan kayu (HHBK) meningkat. Sebab dari total 900.000 bibit telah terdistribusi sebanyak 376.000 bibit siap tanam.
Jenis bibit yang didistribusikan meliputi sebanyak 236.000 tanaman kayu dan 140.000 bibit HHBK. Sebagian tanaman yang belum siap tanam dijadikan stok bagi warga yang akan menanam.
“Sesuai dengan kearifan lokal masyarakat tahun genap kerap dipakai untuk menanam. Karena meski ada hari tanpa hujan atau kemarau, namun intensitas hujan atau hari basah masih sangat mendukung untuk pertumbuhan tanaman dengan pasokan air terjaga,” terang Agung Sutejo, saat ditemui Cendana News, Rabu (24/6/2020).
Pada periode pengamatan selama 150 hari sejak Januari hingga Mei tercatat hari hujan mencapai 75 hari. Sisanya sebanyak 75 hari merupakan hari basah sehingga berbagai jenis pohon tepat untuk ditanam.
Jenis tanaman yang disiapkan oleh PP Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDAS WSS) mencapai 27 jenis tanaman.
Sebanyak 27 jenis bibit tanaman yang disediakan meliputi 18 jenis tanaman kayu-kayuan dan sebanyak 9 jenis bibit HHBK.
Pemohon bibit yang dominan datang ke pembibitan permanen di bawah pengelolaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dominan perseorangan dan organisasi. Jenis pohon yang diminta merupakan tanaman konservasi sekaligus investasi.
“Kesempatan untuk menanam berbagai jenis bibit tepat dilakukan tahun ini karena perawatan lebih mudah,” cetusnya.
Agung Sutejo menyebut hari basah atau hari hujan yang dominan sangat efisien untuk penanaman pohon. Sebab biaya operasional untuk penyiraman kerap diperlukan saat musim kemarau.
Tanpa harus mengeluarkan biaya menyiapkan selang, air penanaman bisa dilakukan. Peluang hidup bibit tanaman saat hari hujan membuat upaya konservasi terus digencarkan.
Serda Sudarwanto, babinsa anggota Koramil 421-03/Penengahan menyebut telah mendistribusikan lebih dari 5000 bibit tanaman. Jenis bibit yang diminta dari PP BPDAS WSS KLHK didominasi oleh tanaman kelor, sirsak, cemara, sengon dan berbagai jenis tanaman penghijauan. Sebagai babinsa ia mengajak masyarakat untuk menanami lahan tidak produktif.
“Bibit dibagikan kepada masyarakat secara gratis agar bisa ditanam dengan cuaca mendukung, tanpa disiram asal perawatan rutin pasti tumbuh,” terang Serda Sudarwanto.
Penanaman jenis pohon kayu menurutnya sangat dianjurkan untuk mencegah longsor. Selain tanaman kayu sebanyak ribuan bibit kelor dibagikan untuk bahan kebutuhan sayuran.
Tanaman kelor yang memiliki manfaat untuk kesehatan menurutnya gencar ditanam selama masa Covid-19. Sebab tanaman tersebut memiliki manfaat untuk menjaga daya tahan tubuh.
Warga bernama Ahmad Naim di Desa Rawi, Kecamatan Penengahan menyebut hari hujan tepat untuk menanam. Penyiapan lubang penanaman yang telah diberi pupuk kompos akan mendukung pertumbuhan ditambah curah hujan yang mendukung.

Hari basah yang seimbang dengan hari tanpa hujan akan mempercepat proses pertumbuhan sejumlah bibit tanaman.
Ahmad Naim yang menanam sengon menyebut melakukan proses penanaman berbagai jenis pohon. Jenis tanaman sengon menjadi pilihan karena bisa dipanen saat usia lima tahun.
Selain menjadi tanaman konservasi penahan longsor saat panen sengon akan menjadi sumber penghasilan. Bahan papan tersebut memiliki nilai jual yang menjanjikan.
“Berbagai jenis tanaman kayu memiliki fungsi menjaga lingkungan tapi bernilai ekonomis tinggi,” papar Ahmad Naim.
Ahmad Naim juga menambahkan ia mulai mengembangkan usaha pembibitan secara mandiri. Jenis tanaman yang dibibitkan meliputi sengon, pinang, petai, jengkol dan cengkeh.
Pembibitan tanaman menjadi cara mengajak masyarakat untuk memanfaatkan lahan agar ditanami pohon. Sebab pemanfaatan lahan bisa menjadi cara menjaga lingkungan dan investasi jangka panjang.