Pemasaran via Medsos Dukung Usaha Kuliner Skala Rumah Tangga
Editor: Makmun Hidayat
LAMPUNG — Perkembangan teknologi dimanfaatkan maksimal oleh sejumlah pelaku usaha skala rumah tangga di Lampung.
Nurahman, salah satu pedagang kue kering Monica dengan produk roti kering, nastar, kastanyel, putri salju dan jenis kue lain menyebut memasarkan produk secara online. Semula usaha kuliner yang ditekuni masih dipasarkan secara offline.
Memiliki toko untuk pemasaran, warga kelurahan Bumiwaras, Teluk Betung, Bandar Lampung itu mengaku media sosial miliki peran untuk meningkatkan omzet. Dibantu oleh sang istri dan anak-anaknya pemasaran memanfaatkan jejaring sosial Facebok, Instagram dan WhatsApp. Meski tetap memasarkan produk di toko sejumlah pemesan secara online dilayani memakai aplikasi.
Nurahman menyebut migrasi penggunaan uang digital membuat ia melayani sistem pemesanan memakai sejumlah aplikasi pembayaran. Tanpa uang tunai pelanggan bisa membayar dengan uang digital melalui layanan dompet elektronik (E-wallet). Ia memanfaatkan e-wallet OVO, LinkAja dan sebagian transfer melalui rekening bank. Sebagian pelanggan dominan merupakan pedagang pengecer dan konsumen langsung.
“Perkembangan teknologi akan memudahkan saya sebagai produsen kue kering dan konsumen tidak harus pergi dari rumah cukup memilih produk yang diinginkan maka siap diantar ke alamat tujuan apalagi masih satu kota,” terang Nurahman saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (16/6/2020).
Memanfaatkan pemasaran secara online Nurahman menyebut bisa menjangkau luar kabupaten. Semula jumlah kue kering yang bisa dipasarkan dalam sepekan hanya puluhan bungkus. Namun penggunaan media sosial menaikkan volume penjualan hingga ratusan bungkus. Omzet semula ratusan ribu naik menjadi jutaan rupiah.
Penggunaan aplikasi pemasaran online menurut Nurahman juga imbas pandemi corona (Covid-19). Sejumlah konsumen yang semula datang langsung memilih tidak bepergian. Ia memanfaatkan jasa kurir untuk pengiriman barang yang disediakan oleh aplikasi. Sejumlah jasa kurir pengiriman yang dimanfaatkan diantaranya Grab, Gojek dan Maxim yang menyediakan jasa pengantaran barang.
“Rantai perputaran ekonomi justru tumbuh selama masa pandemi Covid-19 dengan meningkatnya tren belanja secara online,” terangnya.
Sistem pembayaran yang diterapkan kepada jasa kurir menurutnya memakai uang digital. Tanpa penggunaan uang kertas Nurahman menyebut pola penjualan kuliner berkembang. Sejumlah kurir jasa pengantaran juga menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, sarung tangan dan hand sanitizer. Tren pembelian secara online diakuinya telah menjadi kebutuhan termasuk dalam pemasaran.

Selain dimanfaatkan Nurahman, pemasaran kuliner memanfaatkan media sosial juga dilakukan Harisnawati. Warga Dusun Rejosari II,Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) memanfaatkan Facebook, Instagram dan WhatsApp. Semula ia menerima pembuatan berbagai jenis kue berdasarkan pesanan.
Jenis kue dominan merupakan makanan tradisional. Selama Covid-19 dengan adanya pembatasan kegiatan pasar ia memilih memasarkan secara online. Memproduksi kue nona manis, burongko dan sejumlah kue lainnya pemasaran dilakukan memanfaatkan jejaring sosial. Pemesan kerap menggunakan aplikasi WhatsApp setelah berkomunikasi di Facebook.
“Sepekan atau beberapa hari sebelum acara arisan,ulang tahun dan acara lain pemesan menelpon saya untuk dibuatkan kue,” terang Harisnawati.
Sejumlah kue yang dibuat olehnya dibantu Ambar akan diupload di Facebook, WhatsApp. Sejumlah konsumen dominan penasaran dengan sejumlah kue tradisional khas Bugis yang dibuatnya. Proses pengantaran akan dilakukan sang anak dan Muhlis sang suami. Sejumlah kue dipesan sesuai kebutuhan konsumen.
Jenis kue yang diproduksi kerap dipesan dalam satu paket kemasan. Sekali produksi Harisnawati mengaku bisa mendapatkan omzet mulai Rp300ribu hingga Rp3juta. Penggunaan sistem pemasaran memakai media sosial menurut Harisnawati juga didukung oleh sejumlah rekan. Sebab saat ada sejumlah acara pesanan kue akan semakin meningkat atas rekomendasi rekannya.
Sriyanti, salah satu penyuka kue tradisional menyebut bisa membeli hasil produksi Harisnawati secara online. Melalui nomor WhatsApp, pesanan sejumlah kue tradisional bisa tiba di rumahnya. Penyuka kue burongko dari pisang dan nona manis itu menyebut kue yang dibeli hanya seharga Rp1.000. Namun dengan pemesanan online ia bisa menghindari berdesakan di pasar.