Optimalkan Lahan Terbatas Solusi Kemandirian Pangan di Lamsel

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Mau berusaha dan manfaatkan lahan tidak akan kelaparan. Demikian semboyan Suyatinah, perantau asal Yogyakarta yang kini menetap di Desa Pasuruan, Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel). Wanita yang sempat tinggal di Wonosari, Gunung Kidul tersebut pernah merasakan kerasnya bertani di perbukitan cadas.

Tanpa pernah merasakan berbagai jenis bantuan pemerintah seperti program keluarga harapan (PKH), bantuan sosial tunai (BLT) dan sejenisnya ia tetap bisa memenuhi kebutuhan harian. Memanfaatkan pekarangan jadi solusi baginya menjaga kemandirian pangan.

“Tanah di Lamsel cukup subur berbagai jenis tanaman bisa tumbuh dan bisa menghasilkan untuk mencukupi kebutuhan pangan harian. Bisa berhemat tanpa harus membeli ke pasar, hanya lauk dan kebutuhan lain masih dibeli sebagian dapat dipenuhi dari kebun,” terang Suyatinah saat ditemui Cendana News di kebunnya, Sabtu (20/6/2020).

Berbagai jenis tanaman dikembangkan bisa jadi varian bahan pangan. Singkong dimanfaatkan untuk sayuran pada bagian daun dan pengganti nasi pada bagian umbi. Tumpangsari dengan tanaman cabai, bayam, kemangi hingga jenis tanaman kunyit, jahe, lengkuas sebagai bumbu bahkan bisa dijual.

Penghematan ratusan ribu setiap pekan saat pandemi Covid-19 bisa dilakukan olehnya. Kebutuhan harian, mingguan bahkan bulan tetap bisa diperoleh secara murah hasil kerja sendiri.

“Sayuran tinggal memetik di kebun lengkap bersama bumbu, kuncinya hanya mau mengolah lahan,” terangnya.

Remiati pun demikian, memanfaatkan lahan terbatas dengan media tanam pot ia membudidayakan sayuran. Jenis seledri, kemangi, bayam, cabai, bawang ditanamanya pada pot. Sebuah kolam ikan untuk budidaya nila dan betok berukuran 3×4 meter dimanfaatkan maksimal. Kolam buatan sang anak bisa memiliki fungsi untuk budidaya ikan air tawar dan airnya untuk menyiram sayuran.

“Manfaatkan barang bekas untuk menanam sayuran membuat saya bisa mendapatkan bahan pangan dengan mudah,” cetusnya.

Berbagai jenis sayuran menurutnya bisa ditanam memanfaatkan media tak terlalu luas. Meski sudah cukup berumur namun Remiati mengaku tetap bercocok tanam di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan. Berbagai jenis tanaman sayuran bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan harian. Sebagian dibawa ke warung untuk ditukar dengan lauk ikan asin atau kerupuk.

“Meski sudah tua saya tidak mau merepotkan anak dan cucu masih bisa polah atau ceceker untuk memenuhi kebutuhan makan,”tegasnya.

Sugeng Hariyono, aparatur Desa Pasuruan menyebut contoh kebun sayuran telah dibuat oleh desa setempat. Konsep pemanfaatan kebun dengan membuat kolam ikan, lahan sayuran dan tanaman obat keluarga (Toga) telah diterapkan setahun lebih. Percontohan pemanfaatan lahan diharapkan bisa diikuti oleh warga terutama untuk kemandirian pangan.

“Kebutuhan sayuran dan kebutuhan pokok bisa diperoleh secara swasembada sehingga bisa berhemat,” terang Sugeng Hariyono.

Lihat juga...