Mobile Laboratorium Biosafety Level 2 Mulai Dioperasikan
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Setelah diluncurkan pada Hari Kebangkitan Nasional, lalu, Mobile Laboratorium Biosafety Level 2 dimulai operasionalnya hari ini, Selasa (16/6/2020). Direncanakan, Mobile Lab BSL-2 ini akan digunakan di daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas Laboratorium BSL-2.
Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT), Hammam Riza, menyatakan proses pembuatan Mobile Lab BSL-2 ini memakan waktu sekitar dua bulan.
“Proses desainnya cukup cepat, hanya 10 hari. Dan, proses manufakturnya 19 hari di Puspiptek Serpong. Semua ini merupakan hasil inovasi dan kreativitas anak bangsa,” kata Hammam, saat acara Pengoperasian Mobile Lab BSL-2 di Jakarta, Selasa (16/6/2020).

Ia menjelaskan, Mobile Lab BSL-2 ini terbuat dari kontainer ukuran 20 feet dan memiliki dua ruangan swab chamber. “Fasilitasnya ada uji PCR dan fasilitas pendukung, interlocking dan negative pressure serta biosafety cabinet. Dan, untuk memastikan keamanan, juga dilengkapi kamera dan sistem komunikasi yang memungkinkan petugas yang berada di dalam dapat berkomunikasi dengan petugas yang ada di luar,” ujarnya.
Kapasitas Mobile Lab BSL-2 ini, menurutnya adalah 120 spesimen per 12 jam. “Jika dimaksimalkan untuk 24 jam, maka diupayakan mendapatkan spesimen 262 untuk 24 jam,” ujarnya lagi.
Selain itu, Mobile Lab BSL-2 juga menyediakan aplikasi Pantau Covid-19 dan aplikasi SIM BSL-2, yang memungkinkan masyarakat untuk melakukan registrasi online pemeriksaan.
Menristek/BRIN, Bambang Brodjonegoro, menyatakan pandemi telah mendorong sisi inovatif dan kreativitas dari para peneliti dan perekayasa.
“Hal menarik dari pandemi Covid-19 bagi riset dan inovasi adalah telah menimbulkan kreativitas dan kesadaran sosial pada peneliti dan perekayasa. Serta melibatkan dunia industri,” kata Bambang.
Ia menyebutkan, Mobile Lab BSL-2 ini akan memenuhi kebutuhan daerah pelosok yang belum memiliki laboratorium BSL-2.
“Dengan adanya mobile lab BSL-2, akan memenuhi target testing dan tracing. Karena kita lihat dari data yang diberikan oleh Gugus Tugas, episentrum Covid-19 ini tidak hanya ada di Jakarta. Tapi, juga di daerah lainnya,” ucapnya.
Bambang juga menegaskan, bahwa pemerintah tidak akan hanya berhenti pada pengoperasionalan Mobile Lab BSL-2. Tapi, akan terus melakukan peningkatan.
“Saya sudah pesan ke BPPT untuk tidak berhenti di sini saja. Akan dilanjutkan dengan alat yang lebih mobile, peningkatan jumlah kapasitas dan juga ukuran yang lebih kecil, sehingga lebih mudah mengakses daerah dibandingkan yang seukuran kontainer begini,” ucapnya.
Dalam acara ini, Bambang juga menggandeng pihak dunia usaha untuk turut menyebarluaskan produk hasil buatan anak negeri ini, dengan melakukan penandatanganan nota kesepahaman.
“Saya sangat mengharapkan, pihak BUMN dan pihak swasta dalam memberikan sumbangan peralatan kesehatan, menggunakan produk dalam negeri. Sehingga tidak perlu impor lagi,” pungkasnya.