Hikmah Ekonomi di Balik Pandemi Covid-19
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Cendekiawan muslim, KH. Didin Hafidhuddin, mengatakan semua kegiatan ekonomi, baik nasional maupun international terdampak pandemi Covid-19, begitu pula dengan perusahaan besar dan kecil. Karenanya, kita harus mengambil manfaat atau hikmah dengan sikap yang bijaksana.
“Tentu kita harus mengambil hikmahnya, terutama sikap kita. Dalam Islam itu Istishodi atau ekonomi dalam bahasa Arab. Istishodi itu menggambarkan, bahwa di dalam kegiatan ekonomi itu kita tidak boleh berlebih-lebihan pada hal-hal yang dibutuhkan,” ungkap KH. Didin, saat dihubungi Rabu (17/6/2020).
Misalnya, sebut KH. Didin, dalam mengkonsumsi makanan dan membeli pakaian harus diawali dari sikap yang tidak berlebih-lebihan.
Seperti halnya pada waktu menjelang lebaran 1441 hijriyah, kemarin. Karena kondisinya memang kita sedang difokuskan pada konsumsi, maka terlihat tidak banyak yang berkunjung ke mal, yang selalu menjadi satu keharusan. Dan, menurutnya, sikap seperti itu adalah modal utama dalam membangun ekonomi.
“Jadi, ekonomi itu dimulai dengan sikap yang terukur, terstuktur, dan tidak berlebih-lebihan. Ekonomi umat juga begitu, harus kita bangun atas dasar sikap keberpihakan kita,” urai KH. Didin Hafidhuddin yang menjabat Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI).
Dalam Islam, jelas dia, banyak diperintahkan untuk berinfak membantu sesama umat, agar kehidupannya lebih sejahtera. “Justru dengan infak dan zakat akan menggulirkan kegiatan ekonomi, orang jadi mempunyai modal untuk nambah usaha,” ujarnya.
Sehingga, sikap peduli pada sesama dengan berinfak dan berzakat ini harus dikembangkan. “Bukan selalu berpikir, bahwa kita ini mempunyai produksi, ternyata itu sangat berat. Tapi, kita harus mulai bersikap,” tandasnya.
Kemudian, lanjut dia, juga harus kembali memperhatikan kegiatan ekonomi sektor riil yang ditangani untuk umat. Apalagi, sudah banyak anjuran untuk membeli kebutuhan hidup di warung-warung kecil atau warung tetangga. Dengan sikap membeli di warung tetangga akan memajukan ekonomi umat.
“Kita kan sekarang pikiran itu selalu ke mal yang besar, yang dianggap lebih baik dan berkualitas. Padahal, itu tidak memberi dampak apa pun pada umat yang kecil itu makin tertindas. Mereka tidak bisa bersaing dengan perusahaan besar,” ujarnya.
KH. Didin menegaskan, harus dimulai dari sikap kita bukan dimulai dari kegiatan usaha yang besar. Yakni, sikap yang berpihak pada rakyat kecil, dan sikap sederhana.
“Mungkin ini salah satu hikmah adanya Covid-19. Karena itu, saya yakin sikap yang berubah dari kita dengan berpihak pada ekonomi umat. Insyaallah ekonomi umat akan bangkit lebih baik,” tutupnya.