Serunya Permainan Tradisional Anak, Meriam Kaleng

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Salah satu permainan anak anak yang marak dilakukan selama libur sekolah dan Ramadan adalah meriam kaleng atau long kaleng. Wira, salah satu anak di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut membuat meriam kaleng dari bahan bekas. Sebelumnya permainan meriam kerap dibuat dari bambu atau disebut long bambu.

Pembuatan long bambu menurutnya lebih rumit dan kerap membahayakan. Sebab dengan bahan bakar minyak tanah berpotensi menyebabkan kebakaran. Anak-anak membuat meriam kaleng dengan bahan bekas yang mudah diperoleh dan murah. Bahan pembuatan permainan anak-anak tersebut diambil dari kaleng ikan sarden, botol minuman soda dan pemantik korek api gas.

Wira menyebut membutuhkan sebanyak tujuh kaleng ikan sarden, botol bekas dan karet sebagai pengikat. Semula ia diajarkan oleh sang ayah serta rekan rekan sebaya. Kaleng bekas kemasan ikan sarden akan dilubangi dengan pisau lalu dirangkai dengan karet bekas ban dalam. Pemantik dari bekas korek api gas akan dilengkapi dengan ruang untuk bahan bakar berupa spiritus.

“Sebelumnya permainan meriam kaleng dibuat hanya saat Ramadan, tahun ini kami sudah libur hampir dua bulan bersamaan dengan masa padi di sawah milik orangtua menguning sehingga meriam bisa dipakai untuk alat pengusir burung pipit,” terang Wira saat ditemui Cendana News, Minggu (3/5/2020).

Bunyi meriam kaleng menurutnya tidak membahayakan namun bisa membuat takut burung pipit. Pembuatan meriam menjadi alat permainan anak-anak untuk pengisi waktu luang. Wira dan sejumlah rekan sebaya bahkan mempergunakan meriam untuk bermain perang perangan. Tanpa harus membeli permainan meriam kaleng bisa digunakan untuk mengasah kreativitas.

(Kika) Zaki,Gilang dan Wira, anak-anak di Dusun Karang Anyar Desa Kelaten Kecamatan Penengahan Lampung Selatan bermain meriam kaleng saat liburan, Minggu (3/5/2020). -Foto Henk Widi

Gilang, teman sebaya Wira yang membuat meriam kaleng mengaku hanya membutuhkan uang belasan ribu. Bahan kaleng, karet dan botol bisa diperoleh dengan memanfaatkan bahan bekas. Ia hanya cukup membeli korek api gas untuk diambil bagian pematik dan spiritus. Bahan bakar spiritus yang kerap dipakai untuk menyalakan lampu bisa dibeli dengan harga Rp10.000.

“Orangtua kerap mau membelikan spiritus karena kami membantu mengusir burung di sawah sembari bermain perang perangan dengan meriam kaleng,” cetus Gilang.

Kreasi meriam kaleng menurutnya kerap dimodifikasi dengan lakban sehingga kaleng tidak terlihat. Selama bulan Ramadan anak-anak yang membuat meriam kaleng di Dusun Karanganyar bisa mencapai puluhan. Saat bermain, anak-anak akan membentuk kelompok dan menuju sawah untuk mengusir burung. Selain untuk mengusir burung meriam kaleng digunakan untuk membangunkan sahur.

Tradisi membangunkan sahur menurut Gilang dilakukan anak-anak dengan berkeliling dusun. Suara meriam kaleng yang keras menurutnya tidak membahayakan. Selain itu dengan membuat permainan dengan cara membuat sendiri ia bisa berhemat. Membuat meriam kaleng secara bersama sekaligus bisa saling membantu.

“Bermain dengan kawan memakai permainan tradisional cukup mengasyikkan meski biasanya anak-anak bermain game online dengan smartphone,” cetusnya.

Udin, salah satu anak di desa yang sama mengaku dibuatkan meriam kaleng oleh sang ayah. Meriam yang dibuat dengan memanfaatkan bahan bekas menurutnya sangat praktis. Sebab berbeda dengan meriam atau long bambu yang berat, jenis meriam kaleng lebih ringan. Meski memiliki meriam bambu ia hanya meletakkannya di gubuk tengah sawah. Sebab meriam bambu di tengah sawah dipakai untuk pengusir burung.

Meriam kaleng diakuinya bisa dibawa berkeliling ke areal persawahan. Sebab hama burung pipit kerap tidak bisa dihalau tanpa suara yang keras. Ia dan kawan kawannya kerap berkeliling ke area persawahan dengan berpencar. Setiap anak yang memegang meriam akan menghasilkan bunyi meriam yang cukup keras menghalau burung.

“Anak anak di sini juga menyebut meriam kaleng dengan jeduman karena bunyinya yang keras berdentum,” jelas Udin.

Suminah sang ibu menyebut membiarkan anak anak bermain meriam kaleng di sawah. Sebab selama bulan Ramadan anak anak sedang menggemari permainan meriam anak anak. Selain membantu orangtua mengusir hama burung permainan tersebut cukup murah. Anak anak juga terhindar dari ketergantungan pada gawai game online.

Permainan meriam kaleng menurutnya membuat anak anak saling berinteraksi dan mengajarkan jiwa sosial. Saat anak anak membuat meriam kaleng rasa solidaritas dengan saling membantu kerap dilakukan. Membantu orangtua secara bergantian saat musim hama burung pipit membuat permainan meriam kaleng lebih bermanfaat.

Lihat juga...