Pertumbuhan Ekonomi di Bali Turun Drastis
Editor: Koko Triarko
DENPASAR – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, mengatakan berdasarkan data yang dimiliki BI Bali, tercatat pertumbuhan ekonomi turun drastis di triwulan I sekitar 2,97 persen secara nasional, dengan Bali 1,14 mengalami kondisi negatif rot secara ekonomi. Hal ini disebabkan oleh menurunnya tingkat kunjungan wisatawan ke Bali.
“Perlambatan ekonomi Bali yang terjadi saat ini sampai minus cukup dalam -1,14, kondisi ini termasuk yang paling dalam yang terjadi di Indonesia disusul Yogyakarta,” ujar Trisno Nugroho, saat menggelar desiminasi hasil survei KPw Bali melalui zoom meeting di Kantor BI Bali Denpasar, Selasa (19/5/2020).

Padahal, sebelum pandemi ini ada di Indonesia, pihaknya bersama para pelaku industri pariwisata Bali optimis tingkat kunjungan wisman sampai 500 ribu di bulan Januari hingga Februari 2020. Disebutkan, wisman Cina yang mendominasi kunjungan ke Pulau Dewata, hingga Maret lalu turun drastis dengan hanya mencapai tingkat kunjungan 360 ribu. Bahkan di dua bulan berturut-turut, yaitu April dan Mei, tingkat kunjungan wisatawan asal tirai bambu ini terus melorot sampai 165 ribu orang.
Selain itu, faktor lain yaitu dampak dari menurunnya industri Meeting Incentive Convention, Exhibition (MICE) yang juga menjadi produk andalan pariwisata Bali, baik skala nasional maupun internasional.
“Sejak Februari lalu, banyak event nasional dan dunia di Bali yang dibatalkan. Padahal, dari sisi spending atau pengeluaran belanja MICE di daerah pariwisata, cukup besar, bisa 7 kali spending pariwisata leissure. Hal ini tentunya harus menjadi bahan evaluasi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dan stakeholders lainnya,” tegas Trisno.
Dia menyampaikan, kegiatan desiminasi yang mengusung topik SURIA (Survei Bicara), menghadirkan beberapa narasumber kompeten di bidangnya. Yaitu Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Rizki Ernadi Wimanda, Mira Triscahyani dari Nielson Indonesia, dan Agus Ganesha Rahyuda (Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Unud).
Dalam survei kepada respondens yang dilakukan, BI menggandeng kalangan perguruan tinggi seperti Unud dan Undiksha, diketahui bagaimana dampak Covid-19 terhadap sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Bali.
Menurutnya, survei BI Bali terhadap responden dari para pelaku usaha, pariwisata dan kelompok masyarakat lainnya, dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran kondisi ekonomi Bali yang terdampak pandemi Corona.
“Kemudian, data-data hasil survei yang dipaparkan tentunya memiliki akurasi dan mencerminkan kondisi dialami masyarakat yang terdampak Covid-19. Nantinya, data hasil survei rutin dan berkala itu akan disampaikan ke pihak pusat, yang nantinya bisa menjadi bahan atau dasar dalam pengambilan keputusan dan kebijakan,” kata pria asal Jakarta ini.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Rizki Ernadi Wimanda, dalam materinya menjelaskan, semua sektor di Bali terdampak Covid19. Berdasarkan data, kontribusi pariwisata bagi ekonomi Bali kisaran antara 55 sampai 58 persen, mengalami pukulan hebat dengan turunnya kunjungan wisatawan.
Dan, dampak dari pandemi Covid-19 di Bali ini sudah mulai terasa. Misalnya, sudah terjadi PHK 1.321 orang dan 55.409 pegawai yang dirumahkan. Selain itu, sektor penopang pariwisata seperti akomodasi, perdagangan, makanan dan minuman (Akmamen) juga mengalami minus sekitar -9,11 persen, dan industri lain hingga minusnya mencapai – 8 persen.
“Padahal, performance perekonomian Bali sebelum terjadinya Covid-19 ini sangat menggembirakan. Rata-rata pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen secara nasional,” tandasnya.