Pedagang Pakaian di Padang Meredup Akibat Corona

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

PADANG — Pedagang pakaian di Kota Padang, Sumatera Barat turut merasakan dampak wabah Covid-19. Penjualannya jauh dari kata untung, bahkan dari hari ke hari hanya lelah membuka dan menutup pintu toko saja.

Seperti yang dikatakan oleh Madan, pedagang pakaian di Padang, saat ini seluruh pakaian yang dijualnya, yakni celana jeans panjang dan pendek, baju kaos, kameja, dan jaket, merupakan stok barang yang ada sebelum ada wabah Covid-19 ini. Serta juga ada beberapa stok pakaian yang tersisa pada lebaran tahun lalu.

“Stok yang ada ini adalah stok lama. Kalau mau cari model terbaru, ya tidak ada. Karena tidak bisa kita untuk menambah karena Corona ini. Padahal jelang lebaran ini adalah momen panen pedagang pakaian, tapi tahun ini cukup sedih,” katanya, Selasa (12/5/2020).

Selain tidak adanya model barang baru yang masuk, persoalan lain tidak bagusnya perekonomian masyarakat akibat Covid-19, juga dinilai menjadi salah satu alasan melesunya penjualan pakaian jelang lebaran Idul Fitri tahun ini. Hal ini tidak hanya dialami oleh Madan saja, tapi rata-rata pengusaha penjualan pakaian merasakan dampaknya.

“UMKM seperti kita ini harus apa lagi. Kalau mau jual online, kalah kita. Sebab yang di online tentulah modelnya baru-baru dan lebih bagus. Harapan saya ya Corona ini segera pergi dan kembali normal lagi,” pintanya.

Ia menjelaskan dengan situasi yang demikian, meski sekarang memasuki masa-masa mencari dan membeli pakaian untuk lebaran, penjualannya tak lebih dari Rp500.000 per minggu. Artinya, hanya dua celana jeans panjang saja yang yang terjual dalam kurun waktu 14 hari.

Padahal, jika dilihat di momen hari-hari normal lebaran tahun lalu. Dalam sehari, penjualan bisa mencapai Rp1 juta hingga Rp1,5 juta.

Dengan kondisi seperti ini, Madan memilih tetap membuka toko pakaian meski kini dalam suasana penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Jadi meski pun hanya lelah menutup dan membuka toko dari hari ke hari, saya masih berharap masyarakat datang membeli pakaian ke toko saya. Setidaknya bisa membeli sehelai baju, sehingga stok pakaian yang ada pun segera habis,” sebutnya.

Mengingat stok pakaian yang ada di dalam tokonya itu bukanlah yang baru datang, soal penawaran harga, Madan menerapkan sistem potong harga. Seperti untuk celana jeans normalnya Rp250.000 per helai, sekarang untuk membeli celana jeans di toko nya itu, mendapat potongan harga Rp20.000 hingga Rp10.000.

“Bagi saya yang terpenting, pakaian ini banyak terjual. Tidak apa-apalah jika hanya mengambil untung untuk membeli sebungkus es tebak saja buat berbuka puasa saja,” ucapnya.

Sementara itu, salah seorang pelanggan di toko pakaian Madan, tidak menghiraukan apakah itu merupakan pakaian stok lama atau malah dengan model yang bukan terbaru. Zulmita menyebutkan melihat kondisi ekonomi yang anjlok seperti ini, dapat membeli celana baru agak satu saja sudah bersyukur.

“Saya beli celana jeans untuk suami saya. Bukan hanya soal mau lebaran saja, tapi karena celananya yang ada saat ini benar-benar lusuh dan perlu diganti,” ujarnya.

Ia mengaku ada rasa iba melihat situasi UMKM akibat Corona tersebut. Begitu juga dengan potongan harga yang telah diberikan oleh Madan, tidak membuat Zulmita dan pelanggan lainnya untuk melakukan nego harga lagi.

“Tidak enak sayanya jika mau nego lagi. Sekarang dikasih potongan harga saja sudah untung, lagian saya cuma beli sehelai celana jeans saja,” sebutnya.

Biasanya melihat pada situasi lebaran Idul Fitri tahun lalu, toko-toko pakaian, sepatu, tas, dan keperluan lainnya, terpantau ramai bagaikan di pasar sayur mayur. Namun kini dengan adanya wabah Covid-19, suasana itu berubah menjadi sepi dan bahkan toko-toko pakaian itu tidak memiliki pengunjung dari hari ke hari.

Lihat juga...