Omzet Pedagang Kelapa Muda di Lamsel, Turun

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Omzet pedagang kelapa muda di Lampung Selatan (Lamsel) untuk kebutuhan berbuka puasa (takjil) menurun pada tahun ini.

Usman, salah satu pedagang kelapa muda menyebut pada masa Ramadan sebelumnya dalam sehari menjual sekitar 100 butir kelapa muda. Kelapa muda yang dibeli pelanggan dominan dalam bentuk butiran untuk dibawa pulang ke rumah.

Usman (kiri) membelah kelapa muda pesanan pelanggan yang akan menggunakan kelapa muda untuk kebutuhan berbuka puasa di Jalan Sriwijaya, Enggal, Bandar Lampung, Selasa (5/5/2020) – Foto: Henk Widi

Sebagian kelapa muda yang sudah dibelah dan dikerok akan dijual sebagai minuman untuk berbuka puasa. Minuman air kelapa muda diakuinya sangat disukai untuk menu berbuka puasa. Khusus untuk kelapa muda yang sudah dikupas ia bisa menjual sekitar 200 gelas. Namun pada tahun ini ia hanya bisa menjual kurang dari 100 gelas.

Permintaan yang menurun menurutnya imbas kawasan Enggal yang ada di Jalan Sriwijaya tidak seramai dahulu. Sebab semenjak kota Bandar Lampung ditetapkan sebagai zona merah persebaran Corona Virus (Covid-19) banyak warga memilih berada di rumah. Sejumlah warga yang berkumpul sempat dibubarkan.

“Saat ini pemilik usaha kuliner sepi pembeli terutama pedagang kelapa muda mengharapkan bulan Ramadan ramai pembeli ternyata justru sepi imbas Corona yang melanda wilayah Indonesia dan Lampung,” terang Usman saat ditemui Cendana News, Selasa (5/5/2020).

Sejumlah pelanggan minuman es kelapa muda kerap membeli untuk diminum di dekat warungnya menunggu waktu berbuka puasa.

Namun semenjak Covid-19 dengan masa puasa yang berjalan selama lebih dari 12 hari pembeli memilih untuk dibawa pulang. Ia bahkan tidak berani menyediakan stok terbatas pada kelapa muda yang dijual agar menjaga kesegaran buah kelapa muda.

Pedagang kelapa muda dibantu Yuli sang istri, mengaku juga menjual otak-otak ikan. Otak-otak ikan dengan bumbu kacang menjadi pilihan menu berbuka puasa karena tekstur yang lembut. Perpaduan antara es kelapa muda dan otak-otak cocok disantap ketika memasuki waktu berbuka puasa. Meski permintaan tidak sebanyak tahun lalu ia tetap berjualan untuk kebutuhan berbuka.

Yuli (kanan) melayani pembeli kelapa muda untuk menu berbuka puasa di Jalan Sriwijaya, Enggal, Bandar Lampung, Selasa (5/5/2020) – Foto: Henk Widi

“Hingga malam hari sebagian warga tetap berkumpul di tempat kami berjualan untuk menikmati kelapa muda dan otak-otak,” cetus Yuli.

Sejumlah pemilik usaha kuliner menu berbuka puasa lainnya kerap menyediakan kelapa muda sebagai pelangkap. Anto, salah satu pedagang kelapa muda mengaku hanya menyediakan sekitar 30 buah per hari. Jenis kelapa muda hijau dan merah disediakan olehnya untuk kebutuhan warga yang akan melaksanakan berbuka puasa.

“Penjualan kelapa muda saat Ramadan umumnya jadi pelengkap karena saya juga menjual berbagai jenis gorengan menu berbuka puasa,” terang Anto.

Penyiapan kelapa lebih sedikit menurutnya untuk menjaga kelapa tetap segar. Kelapa muda yang belum dibelah sengaja dibiarkan tetap berada di dalam janjang atau tetap bertangkai.

Kelapa muda baru akan dibelah saat ada pemesan. Sepinya pelanggan saat Ramadan tahun ini membuat sebagian kelapa muda kerap tidak terjual dalam bentuk butiran.

Solusinya ia memilih membelah kelapa muda tersebut dan menjualnya dalam bentuk es buah. Omzet berjualan selama Ramadan tahun ini menurun lebih dari 50 persen.

Sebab area bundaran Gajah dan Taman Gajah yang kerap ramai digunakan untuk ngabuburit mulai dilarang untuk berkumpul. Imbasnya pelanggan es kelapa muda dan makanan lain ikut menurun.

Lihat juga...