Harga Gabah Petani dan Jagung di Lamsel Anjlok
Editor: Makmun Hidayat
LAMPUNG — Petani padi di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) harus pasrah anjloknya harga gabah imbas kadar air tinggi.
Sutiyah, petani padi di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut hujan disertai angin jelang panen berimbas tanaman padi roboh. Ratusan hektare lahan tanaman padi di wilayah tersebut umumnya roboh sebelum masa panen.
Imbas tanaman padi roboh, saat panen pada masa tanam pertama (MT1) kadar air tinggi. Sebab sebagian bulir padi yang roboh terendam air hujan tidak bisa kering sempurna. Selain kadar air yang tinggi proses pemanenan tanaman padi sulit dilakukan dengan mesin dos dan combine harvester. Proses pemanenan secara manual dilakukan untuk menyelamatkan bulir gabah yang sebagian terendam air.
Sutiyah menyebut sengaja menjual gabah kering panen (GKP) kepada pengepul. Sebab proses penjemuran gabah selama hampir empat hari belum kering sempurna. Normalnya dalam kondisi cuaca terik sinar matahari gabah yang dijemur bisa kering dalam waktu dua hari. Faktor kelembaban yang tinggi membuat pengepul membeli gabah lebih rendah dari harga pokok pembelian (HPP).
“Kadar air tinggi dipengaruhi faktor alam sebelum panen kerap hujan sehingga lahan masih basah,ditambah angin kencang sebagian tanaman roboh dan saat penjemuran gabah tidak bisa kering sempurna,” terang Sutiyah saat ditemui Cendana News, Sabtu (2/5/2020).

Sutiyah menyebut memanfaatkan terpal sebagai hamparan untuk pengeringan gabah. Namun karena kondisi cuaca dominan mendung tanpa sinar matahari yang sempurna membuat pengeringan terhambat. Sebagian gabah yang tidak bisa dijemur dalam area terbuka terpaksa diangin anginkan pada aula bangunan. Proses pengeringan juga dilakukan dengan kipas untuk menghilangkan kadar air.
Pada level pengepul panen sebelumnya ia masih menjual GKP seharga Rp4.200 per kilogram sesuai HPP. Namun pada MT1 tahun ini GKP hanya dijual seharga Rp3.700 per kilogram. Mendapatkan hasil panen sebanyak 3 ton ia hanya bisa mendapatkan uang Rp11,1juta. Padahal dengan harga HPP ia bisa mendapatkan hasil Rp12,6juta dengan volume hasil panen yang sama.
“Harga gabah anjok bersamaan dengan pandemi Corona,tapi hasil penjualan gabah bisa untuk memenuhi kebutuhan,” cetusnya.
Petani lain bernama Jarot menyebut memilih menjual sekitar 2 ton gabah miliknya. Meski kualitas gabah dengan kadar air tinggi dibeli oleh pengepul dengan harga rendah menjual gabah jadi pilihan. Ia masih tetap menyimpan sekitar 1 ton gabah kering giling (GKG) untuk stok kebutuhan ramadan hingga hari raya Idul Fitri.
Jarot menambahkan GKP dengan kadar air tinggi terjadi merata pada hasil panen petani di Lamsel. Angin timur yang berimbas tanaman padi roboh dominan terjadi pada varietas Ciherang dan IR64 batang tinggi. Pemilihan varietas tersebut dilakukan oleh petani karena memiliki usia panen sekitar 90 hari. Sementara jenis Muncul dan varietas lain bisa dipanen usia 120 hari.
“Pilihan menanam varietas padi batang tinggi karena usia panen lebih singkat namun resikonya ambruk saat angin kencang,” cetusnya.

Khoirudin, salah satu pengepul gabah di Penengahan menyebut selain kadar air tinggi sebagian bulir gabah masih menghijau. Penggunaan pupuk urea yang masih tinggi menurutnya berimbas hijau bulir lebih lama matang. Meski sebagian padi belum menguning petani memilih mempercepat proses pemanenan menghindari bulir padi rontok.
Proses pembelian GKP dari petani menurutnya mengacu pada HPP yang ditetapkan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag). Khoirudin menambahkan sesuai Permendag Nomor 20 Tahun 2020 HPP GKP dengan kadar air 25 persen dan biji hampa 10 persen ditetapkan seharga Rp4.200. Ia menyebut selain kadar air tinggi, banyaknya biji hampa (kopong) membuat harga hanya mencapai Rp3.700 perkilogram.
“Petani dan pengepul akan mengecek langsung bulir padi dan sepakat harga di bawah HPP karena kualitas gabah juga rendah,” terangnya.
Kadar bulir hijau yang masih tinggi, gabah hampa menurutnya akan mengakibatkan penyusutan berat. Meski GKP ditimbang sekitar 100 kilogram namun saat pengeringan dengan mesin pengering atau dijemur pada sinar matahari akan berkurang. Perkuintal GKP menurutnya maksimal akan menghasilkan sekitar 75 GKG. Meski harga GKP anjlok sebagian petani bisa menerima harga yang disepakati.
Khoirudin menyebut gabah yang dibeli petani dominan langsung dijual ke luar Lampung. Ia menyebut gabah akan dijual ke wilayah Banten, Tangerang ke perusahaan penggilingan besar. Selain proses pengeringan dengaj sinar matahari, sebagian GKP akan dikeringkan dengan blower. Setelah menjadi GKG akan dijual dalam bentuk beras.
Pilih Jual Jagung Gelondongan
Masa pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) sekaligus menjadi masa sulit petani jagung di Lampung Selatan (Lamsel). Harga yang terus anjlok pada masa panen yang berlangsung sejak Maret hingga April terjadi pada jagung pipilan dan gelondongan.
Wayan Oka, petani jagung di Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang menyebut harga terus anjlok hingga kisaran Rp1.000 per kilogram. Pada masa panen musim sebelumnya harga jagung pipilan mencapai Rp4.200 per kilogram. Selanjutnya setelah masa panen pertama (MT1) tahun ini harga hanya mencapai Rp3.800, anjlok menjadi Rp3.500 dan terakhir memasuki awal Mei anjlok menjadi Rp3.125 per kilogram. Harga jagung pipilan yang anjlok membuat ia memilih menjual jagung utuh atau gelondongan.
Sebagai perbandingan dalam satu hektare ia bisa mendapatkan sekitar 330 karung jagung gelondongan. Perkarung jagung gelondongan diakuinya dijual seharga Rp70.000. Hasil panen sebanyak 330 karung menurutnya bisa menghasilkan sekitar Rp23,1juta. Padahal masa panen sebelumnya harga perkarung jagung bisa mencapai Rp120.000 atau hasil Rp39,6juta.
“Penjualan dengan sistem gelondongan kami lakukan untuk efesiensi biaya operasional karena tidak harus menyewa alat pemipil jagung yang disewa dengan sistem tonase,” terang Wayan Oka saat ditemui Cendana News, Sabtu (2/5/2020).

Hasil jagung seluas satu hektare dengan proses pemipilan menurutnya menghasilkan sekitar 7 ton. Sesuai kalkulasi ia bisa menjual per kilogram jagung seharga Rp3.125. Jika menjual jagung dengan sistem pipilan Wayan Oka menyebut hanya memperoleh hasil penjualan sekitar Rp21,8juta. Hasil tersebut akan dikurangi dengan biaya sewa alat pemipil Rp1,4juta.
Menjual jagung dengan sistem pipilan diakuinya akan efesien dan menguntungkan saat harga lebih dari Rp4.200. Sebagai solusi mempercepat penjualan ia menyebut memilih melakukan penjualan sistem karungan. Terlebih panen berbarengan dengan musim penghujan mengakibatkan kadar air pada jagung lebih tinggi.
“Saat dijual ke pabrik dalam kondisi pipilan potongan kadar air akan tinggi mempengaruhi harga jual,” cetusnya.
Proses panen menurutnya menjadi sumber penghasilan bagi para buruh petik. Sejumlah buruh petik akan diupah dengan sistem karungan rata rata Rp7.000 perkarung. Jika sebanyak 330 karung bisa dipanen oleh sejumlah buruh panen maka ia harus mengeluarkan biaya Rp2,3juta. Biaya tersebut belum termasuk operasional lain untuk benih,pengolahan lahan,pupuk dan obat obatan.
Wayan Oka menyebut harga masih berpotensi anjlok saat panen raya. Sebagian tanaman jagung milik petani di Lamsel menurutnya masih belum dipanen. Masa panen jagung berbarengan dengan panen padi membuat sejumlah petani kesulitan mendapatkan buruh panen. Terlebih pada panen berbarengan dengan masa puasa ramadan hanya sebagian orang bersedia menjadi buruh panen.
“Penjualan jagung gelondongan bisa jadi solusi bagi petani mempercepat mendapat uang,” cetusnya.
Pemilik lahan jagung di desa yang sama bernama Jeminten menyebut harga jagung anjlok. Ia menyebut harga penjualan yang rendah membuat ia hanya bisa menutupi biaya operasional. Sebab dari mulai proses penanaman hingga pemanenan pengeluaran biaya operasional bisa mencapai Rp8juta. Hasil penjualan jagung gelondongan akan dipergunakan untuk kebutuhan selama pandemi Covid-19.
“Pekerjaan suami tidak stabil sehingga menanam jagung bisa jadi pilihan tabungan meski harga anjlok,” bebernya.
Jeminten menyebut masa panen jagung berbarengan dengan musim penghujan. Sejumlah petani kerap memilih proses penjualan dengan sistem gelondongan. Sebab jika ia menjual jagung dengan sistem pipilan proses penjemuran harus dilakukan kembali. Sebaliknya saat dijual dalam bentuk gelondongan di pabrik jagung yang sudah dipipil akan dikeringkan dengan alat oven.
Usai proses pemanenan,Jeminten mengaku akan melakukan proses pembersihan lahan. Proses pembersihan lahan atau perun dilakukan dengan pembakaran batang jagung. Proses perun tanpa pengolahan lahan akan dilanjutkan dengan penanaman kembali sepekan setelah panen. Penanaman sistem tajuk dengan tugal membuat penanaman lebih cepat dilakukan dan panen akan kembali berlangsung bulan September mendatang.