BMKG: Suhu Terasa Panas karena Kurang Awan

Editor: Koko Triarko

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Herizal,M.Si saat dihubungi, Rabu (15/7/2020) - Foto: Ranny Supusepa

JAKARTA – Terkait suhu pada siang hari dan suasana cenderung gerah yang banyak dikeluhkan oleh masyarakat, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, kondisi tersebut diakibatkan oleh suhu udara tinggi yang disertai kelembapan udara yang rendah. Terutama terjadi pada kondisi langit cerah dan kurangnya awan, sehingga pancaran sinar matahari langsung lebih banyak diteruskan ke permukaan bumi. 

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Herizal, menyatakan berkurangnya tutupan awan terutama di wilayah Indonesia bagian selatan pada bulan-bulan ini, disebabkan wilayah ini tengah berada pada masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.

Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto, saat dihubungi, Jumat (15/2/2020). –Foto: Ranny Supusepa

“Transisi musim itu ditandai oleh mulai berhembusnya angin timuran dari Benua Australia (monsun Australia), terutama di wilayah bagian selatan Indonesia. Angin monsun Australia ini bersifat kering kurang membawa uap air, sehingga menghambat pertumbuhan awan. Kombinasi antara kurangnya tutupan awan serta suhu udara yang tinggi dan cenderung berkurang kelembapannya inilah yang menyebabkan suasana terik yang dirasakan masyarakat,” kata Herizal, saat dihubungi pada Jumat (15/5/2020).

Ia menyatakan, bahwa hal ini sesuai dengan prediksi BMKG sebelumnya, yaitu bulan Maret hingga April menunjukkan suhu yang terus menghangat, hampir di sebagian besar tempat di Indonesia.

“Secara klimatologis, bulan April-Mei-Juni memang tercatat sebagai bulan-bulan di mana suhu maksimum mengalami puncaknya di Jakarta, selain Oktober-Nopember. Pola tersebut mirip dengan pola suhu maksimum di Surabaya, sementara di Semarang dan Yogyakarta, pola suhu maksimum akan terus naik secara gradual pada April dan mencapai puncaknya pada September-Oktober,” papar Herizal.

Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto, menyatakan meskipun tingginya suhu maksimum hari-hari ini, tidak dapat dikatakan dipicu secara langsung oleh perubahan iklim, namun dalam analisis perubahan iklim oleh Peneliti BMKG dengan menggunakan data yang panjang sejak 1866, diketahui bahwa tren suhu maksimum di Jakarta telah meningkat signifikan sebesar 2.12 derajat Celcius per 100 tahun. Demikian pula pada lebih dari 80 stasiun BMKG untuk pengamatan suhu udara di Indonesia dalam periode 30 tahun terakhir.

“Tren suhu udara yang terus meningkat itu tidak hanya terjadi di Indonesia,  tetapi juga di banyak tempat di dunia, yang kemudian kita kenal sebagai fenomena pemanasan global. Pemantauan suhu rata-rata secara global menunjukkan hampir tiap tahun tercatat rekor baru suhu tertinggi dunia,” kata Siswanto, saat dihubungi secara terpisah.

Badan Meteorologi Dunia (WMO) dalam rilisnya tanggal 15 Januari 2020, menyatakan pada 2019 adalah tahun terpanas ke dua sejak 1850, setelah 2016. Analisis BMKG menunjukkan hal serupa untuk suhu rata-rata di wilayah Indonesia, di mana tahun 2019 juga merupakan tahun terpanas ke dua setelah 2016. Suhu rata-rata tahun 2019 lebih hangat 0.95 derajat Celcius dibandingkan suhu rata-rata klimatologis periode 1901-2000.

“Tren pemanasan suhu udara permukaan juga diikuti oleh tren pemanasan di lautan. Secara umum, suhu permukaan laut 5 tahun terhangat secara global terpantau terjadi dalam periode 6 tahun terakhir,” urainya lebih lanjut.

Hal serupa juga diindikasikan oleh suhu permukaan laut di perairan Indonesia, di mana suhu permukaan laut di Laut Jawa dan Samudra Hindia barat Sumatra juga terus menghangat dengan kenaikan sekitar 0,5 derajat Celcius sejak 1970-an, sedikit lebih rendah dari tren rata-rata global.

“Terus menghangatnya suhu udara permukaan dan suhu permukaan laut secara global serta kontras antarkeduanya dapat memicu perubahan dinamika cuaca dan iklim di suatu wilayah,  serta dapat meningkatkan frekuensi dan intensitas  kejadian cuaca ekstrem atau pun badai tropis,” ucapnya.

Siswanto menyebutkan, fenomena suhu udara tinggi yang terjadi saat ini tampaknya lebih dikontrol oleh pengaruh posisi gerak semu matahari dan mulai bertiupnya angin monsun kering dari benua Autralia, yang berdampak pada kurangnya tutupan awan di atas wilayah Indonesia, sehingga sinar matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa adanya penghalang awan.

“Suasana gerah biasanya saat Matahari bersinar, namun ada awan. Dan, menandakan potensi hujan. Dengan udara lembab, maka pertumbuhan awan akan menjadi optimal,” pungkasnya.

Lihat juga...